Menabur Keberlanjutan, Menuai Investasi: Strategi ESG Sinarmas Asset Management
Dulu, memilih saham berarti menimbang prospek bisnis dan potensi imbal hasil. Kini, investor makin sering menanyakan satu hal tambahan: apakah perusahaan ini peduli pada lingkungan, sosial, dan tata kelola?
Dalam beberapa tahun terakhir, gelombang investasi berkelanjutan memang semakin kuat menyapa pasar keuangan global, termasuk di Indonesia. Dan di tengah perubahan paradigma itu, Sinarmas Asset Management menjadi salah satu institusi yang paling cepat merespons perubahan. Melalui pendekatan yang berbasis ESG (Environmental, Social, Governance), mereka tak sekadar mengejar imbal hasil, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan.
Investasi Berkelanjutan
“Ya, kami di Sinarmas Asset Management sangat memperhatikan investasi berkelanjutan dan secara aktif mengalokasikan dana ke saham-saham yang memenuhi kriteria ESG,” papar Triwira Tjandra, Deputy Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management kepada SWA secara tertulis.
Komitmen itu terwujud dalam bentuk konkret lewat peluncuran reksa dana Indeks Simas Sri Kehati. Produk ini mengikuti pergerakan Indeks Sri Kehati, indeks acuan bagi saham-saham yang dinilai tidak hanya unggul dari sisi finansial, tetapi juga menjalankan prinsip keberlanjutan secara konsisten.
Seperti diketahui luas, Indeks Sri Kehati mengevaluasi perusahaan tidak semata dari kinerja keuangan, tetapi juga bagaimana mereka mengelola dampak lingkungan, menjalankan tanggung jawab sosial, serta menegakkan tata kelola perusahaan yang baik. Dengan demikian, jelas Triwira, investor Sinarmas Asset Management dapat berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi sambil mendukung praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Triwira menegaskan bahwa aspek ESG kini menjadi pertimbangan serius dalam seluruh proses investasi perusahaan. Ia menjelaskan bahwa pendekatan paling konkret terlihat dalam produk Indeks Simas Sri Kehati yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai keberlanjutan. “Saat ini, penerapan ESG kami paling konkret ya terlihat di Simas Sri Kehati,” katanya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Sinarmas Asset Management mulai secara bertahap mengurangi eksposur terhadap sektor-sektor yang dianggap kontroversial. Mereka mulai mengurangi eksposur terhadap sektor-sektor yang dianggap kontroversial seperti rokok, minuman beralkohol, dan batu bara.
Untuk memastikan bahwa prinsip ESG dijalankan secara serius, Sinarmas Asset Management pun menetapkan sejumlah parameter ketat. Mereka menaruh perhatian khusus pada aspek-aspek fundamental keberlanjutan. Apa saja?
Antara lain: praktik tata kelola perusahaan yang baik, kepedulian terhadap lingkungan, pengelolaan sumber daya manusia yang bertanggung jawab, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan hubungan yang positif dengan komunitas.
Bukan Tujuan Akhir
Meski begitu, Triwira menggarisbawahi bahwa mengintegrasikan ESG bukanlah tujuan akhir, melainkan proses berkelanjutan. “Kami menyadari bahwa adopsi penuh prinsip ESG adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir,” ujarnya. Pendekatan ini memungkinkan mereka untuk belajar dan beradaptasi seiring perkembangan pasar dan regulasi.
Melihat tren yang berkembang, Triwira menyebut sektor perbankan dan barang kebutuhan pokok sebagai dua sektor paling prospektif dalam kerangka ESG.
Untuk sektor perbankan, Sinarmas Asset Management melihat transformasi positif dalam cara bank-bank besar Indonesia mengelola bisnisnya. Menurutnya, bank-bank ini makin aktif mendorong pembiayaan hijau, inklusi keuangan, dan digitalisasi yang ramah lingkungan.
Adapun sektor barang kebutuhan pokok dinilai menarik karena karakteristiknya yang defensif dan komitmennya terhadap keberlanjutan. “Mereka memiliki model bisnis yang relatif stabil dengan permintaan yang konsisten, ditambah dengan inisiatif keberlanjutan yang kuat seperti pengurangan limbah kemasan, efisiensi energi dalam produksi, dan program pemberdayaan petani atau pemasok lokal,” tuturnya.
Lebih lanjut, Triwira menekankan bahwa reksa dana Simas Sri Kehati bukan sekadar wacana atau strategi pemasaran. “Kami bangga bisa menjadi salah satu pelopor dalam menawarkan produk investasi berkelanjutan di Indonesia,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Simas Sri Kehati memberikan eksposur terhadap saham-saham yang tidak hanya berkinerja baik tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
Di mata Triwira, perusahaan-perusahaan yang menjalankan prinsip keberlanjutan memiliki keunggulan jangka panjang. Perusahaan-perusahaan yang menerapkan prinsip keberlanjutan, katanya, umumnya menunjukkan prospek yang positif dalam jangka panjang. Menurutnya, daya adaptasi terhadap regulasi dan efisiensi operasional menjadi kunci keunggulan mereka.
Ia juga mencatat bahwa kesadaran investor dan konsumen terhadap ESG makin meningkat. Sinarmas Asset Management, katanya, melihat semakin banyak investor, baik lokal maupun global, yang mulai mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam keputusan investasinya. Perubahan ini bisa menjadi pendorong valuasi dan daya saing bagi perusahaan yang ramah terhadap ESG.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa keberlanjutan tidak bisa berdiri sendiri sebagai satu-satunya indikator sukses investasi. “Faktor-faktor fundamental seperti model bisnis, kondisi industri, dan eksekusi strategi tetap menjadi pertimbangan utama,” tegasnya.
Bagi Sinarmas Asset Management, tandas Triwira, ESG bukan sekadar tren sementara, tetapi fondasi baru dalam membangun portofolio yang bertanggung jawab. (*)