Visi Nathan Tirtana Kembangkan Industri Biofarmasi di Indonesia
Di dunia farmasi global, tengah terjadi pergeseran perkembangan jenis obat-obatan menuju masa depan, yakni dari obat-obatan kimia (chemical medicine) ke obat-obatan biologis (biological medicine).
Namun, di Indonesia, akses terhadap obat-obatan biologis masih terbatas dan harganya relatif mahal. Inilah celah pasar yang akan diisi oleh PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana), perusahaan biofarmasi lokal yang didirikan oleh Nathan Tirtana pada 2014.
Obat Biologis yang Terjangkau
Nathan bukanlah sosok dengan latar belakang pendidikan farmasi. Ia adalah lulusan Program Bachelor of Engineering dari University of New South Wales (UNSW), Australia. Namun, ia memang memulai karier di industri farmasi, yakni di Australia dan China.
Di dua negara itulah ia menemukan fakta bahwa obat-obatan biologis sudah menjadi lini pertama dalam penanganan banyak penyakit, sedangkan di Indonesia masih bertumpu pada obat-obatan kimiawi konvensional.
“Dalam 15-20 tahun terakhir, hampir 55% penemuan obat baru di dunia adalah obat biologis,” ujar Presiden Direktur dan Pendiri PT Etana Biotechnologies Indonesia itu. Semestinya obat-obat ini bisa menjadi terapi utama. Namun, harganya yang relatif tinggi membuatnya sulit diakses masyarakat.
Inilah yang melatarbelakangi Nathan untuk mendirikan Etana sebagai produsen lokal obat biologis, demi mendukung ketahanan obat nasional. Positioning produknya adalah obat biologis yang terjangkau, berkualitas tinggi, dan halal, demi mendukung ketahanan obat nasional.
Portofolio produk Etana kini mencakup berbagai produk terapi biologis dan molekul untuk onkologi, nefrologi, vaksin, hormon, anti-infeksi, dan metabolik. Menurut Nathan, salah satu milestone-nya ialah sejak tahun lalu telah memproduksi secara lokal Bevacizumab, obat antibodi monoklonal yang menjadi lini pertama pengobatan kanker kolorektal, kanker ovarium, dan kanker serviks di banyak negara, sesuai panduan WHO.
“Di luar negeri, begitu pasien terdiagnosis jenis kanker tersebut, obat ini langsung diberikan. Tapi di Indonesia, terapi lini pertama biasanya kemoterapi saja tanpa obat ini,” ungkapnya. “Bukan karena tidak mau, tetapi karena harganya mahal,” tambahnya.
Lebih lanjut Nathan menjelaskan, sebelum diproduksi lokal, harga Bevacizumab di Indonesia bisa mencapai Rp12 juta per dosis. Berkat manufaktur dalam negeri dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi, kini biayanya dapat ditekan menjadi Rp1 juta -2 juta per dosis. Hal ini tentunya membuka peluang terapi yang lebih luas bagi pasien.
“Ketersediaan obat baru di Indonesia masih rendah, padahal kebutuhannya sangat besar. Kami ingin menghadirkan obat biologis yang affordable, namun tetap memiliki efikasi tinggi,” ucapnya optimistis.
Nathan mengungkapkan, banyak orang yang langsung mundur ketika diajak membangun biofarmasi. Alasannya, prosesnya lama, risikonya besar, dan modalnya juga tidak sedikit.
Ia mengklaim kini sudah mengenal seluk-beluk industri ini. Sejak Etana berdiri pada 2014, ia mengibaratkan perjalanannya seperti lari maraton.
Satu tahun pertama dihabiskan hanya untuk merancang desain pabrik. Tiga tahun berikutnya untuk membangun fasilitas pabrik. Kemudian, diperlukan setahun untuk instalasi peralatan, lalu dua tahun lagi untuk proses validasi. Untuk proses-proses tadi butuh tujuh tahun, sebelum satu butir pun obat diproduksi.
Bahkan, setelah memasuki tahap produksi, obat biologis masih memerlukan uji stabilitas dan serangkaian prosedur ketat lainnya, yang memakan waktu tambahan dua tahun.
Total dibutuhkan waktu hampir satu dasawarsa sampai produk benar-benar siap digunakan pasien. “Investasi obat biologis memang panjang, tapi hasilnya bisa menyelamatkan banyak nyawa,” katanya.
Dikatakan Nathan, obat-obat biologis yang diproduksi tersebut merupakan obat esensial. Kebutuhannya tinggi, tapi pabriknya di Indonesia masih sangat sedikit.
“Kalau kita tidak membangunnya sekarang, kita akan terus bergantung pada impor dan membayar harga yang jauh lebih tinggi,” kata pria yang kini berusia 46 tahun ini.
Misi Kemanusiaan
Baginya, membangun industri biofarmasi bukan hanya melihat soal keuntungan, tapi juga misi kemanusiaan. Tak mengherankan, Etana mendapat dukungan dari deretan investor besar, baik lokal maupun internasional, seperti Legend Capital, China Medical System, Yunfeng Capital, HighLight Capital (China), UOB Venture Management (Singapura), Innovent Biologics (Hong Kong), dan East Ventures (Indonesia).
“Para investor ini paham bahwa industri ini esensial untuk setiap negara. Kebutuhannya sangat tinggi, pemainnya sedikit, dan entry barrier-nya luar biasa tinggi,” ungkap Nathan. “Tapi yang lebih penting, dampak sosialnya besar.”
Saat ini Etana merupakan perusahaan farmasi pertama di ASEAN yang memiliki teknologi mRNA. Teknologi ini merupakan platform pengembangan vaksin yang fleksibel, sehingga dapat merespons dengan cepat kebutuhan akan produk biofarmasi yang inovatif dan fleksibel untuk penyakit kanker, produk vaksin, dll.
Perhatikan saja, untuk pengembangan vaksin baru dengan teknologi mRNA hanya dibutuhkan waktu singkat. Kurang-lebih dua bulan setelah dikembangkan, produk vaksin tersebut sudah siap masuk ke fase uji klinik.
Tahun ini, Etana memulai pembangunan pabrik baru untuk memproduksi vaksin PCV, disusul selanjutnya vaksin HPV. Fasilitas ini dirancang mengikuti standar WHO, sehingga produknya dapat diekspor ke seluruh dunia.
“Harapannya, kami bisa menjadi global supplier untuk vaksin, yang kami mulai dari PCV,” ujar Nathan tentang impiannya. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.