Perlindungan Jiwa dan Nilai Syariah yang Nyata: Kisah Peserta Prudential Syariah

null
Ilustrasi Prudential Syariah. (Ist)

Asuransi bukan sekadar perlindungan finansial. Bagi sebagian orang, ia hadir sebagai sumber ketenangan batin sekaligus bentuk antisipasi ketika musibah datang tanpa peringatan. Hal itu dirasakan betul oleh Sri Kurniati, seorang ibu asal Jakarta yang memutuskan bergabung menjadi peserta Prudential Syariah pada 2019.

Sebagai seorang ibu, Sri ingin memastikan suami dan anak-anaknya selalu terlindungi dalam berbagai kondisi. Ia sadar, risiko dapat muncul tiba-tiba dan berpotensi menguras tabungan yang semestinya disiapkan untuk masa depan keluarga.

Menurutnya, memiliki proteksi jiwa dan kesehatan ibarat menyediakan jaring pengaman, sehingga ia tidak perlu mengeluarkan biaya besar ketika situasi tak terduga terjadi. Dengan proteksi, Sri merasa lebih tenang karena ada rasa aman yang menyertai.

Ujian terbesar datang pada 2023, saat anak Sri mengalami cedera anterior cruciate ligament (ACL) akibat kecelakaan. Biaya pengobatan melonjak hingga hampir Rp300 juta, mencakup operasi dan fisioterapi pasca tindakan. Namun, semua itu tak mengoyak tabungan keluarga. Seluruh biaya ditanggung sepenuhnya melalui produk asuransi syariah dari Prudential Syariah.

"Kami tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Semua dibantu, bahkan ketika kami harus pindah rumah sakit, agen Prudential Syariah sangat sigap membantu prosesnya,” ujar Sri, Jakarta, Kamis (11/9/2025).

Bagi Sri, perlindungan ini lebih dari sekadar bantuan dana. Ia merasakan langsung nilai-nilai syariah yang menjadi fondasi asuransi ini, terutama prinsip tolong-menolong.

“Asuransi syariah bukan hanya untuk diri sendiri. Saat saya membayar kontribusi, saya ikut membantu peserta lain yang sedang tertimpa musibah. Dan ketika saya dalam keadaan terdesak, saya pun terbantu oleh para peserta,” jelasnya.

Prinsip tersebut berakar pada konsep dana tabarru’ yang dikelola Prudential Syariah. Dana ini berasal dari kontribusi para peserta, dikumpulkan untuk saling membantu mereka yang tertimpa musibah.

Perusahaan bertindak sebagai pengelola amanah, memastikan setiap klaim dibayarkan tepat sasaran dan sesuai prinsip syariah. Bahkan, Prudential Syariah tidak mengambil keuntungan dari setiap klaim yang terjadi. Dengan mekanisme ini, peserta bukan hanya pemegang polis, tetapi bagian dari komunitas yang saling peduli.

Cerita serupa datang dari Agustine, peserta Prudential Syariah lainnya asal Jakarta. Ia telah menggunakan produk asuransi ini sejak 2014. Meski memiliki BPJS Kesehatan, ia merasa perlindungan tambahan tetap diperlukan.

“Saya mengalaminya sendiri saat operasi mata di tahun 2019, dengan total klaim lebih dari Rp40 juta. Semua diproses cepat dan mudah,” ujarnya.

Bagi Agustine, menjadi bagian dari ekosistem syariah ini bukan hanya perlindungan, tetapi juga bentuk ibadah. Dengan membayar kontribusi, ia merasa melindungi diri dan keluarganya sekaligus membantu orang lain yang tengah membutuhkan.

Dari sudut pandang perusahaan, prinsip ini ditegaskan kembali oleh Vivin Gautama, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Syariah. Menurutnya, keadilan dan gotong royong adalah fondasi utama asuransi syariah.

“Dana tabarru’ adalah amanah dari para peserta, dan kami bertanggung jawab penuh untuk menjaga dan menyalurkannya secara adil dan transparan. Bersama Prudential Syariah, kami bukan hanya memberikan perlindungan, tapi juga menenangkan hati, menerapkan prinsip syariah yang transparan dan adil untuk semua peserta,” ujarnya.

Komitmen tersebut tercermin dalam angka. Sepanjang 2024, total pembayaran klaim dan manfaat Prudential Syariah mencapai Rp2,3 triliun, setara Rp6,3 miliar per hari. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag