Kisah Nizar Membesarkan Importa Furniture, Dari Toko Kecil hingga Miliki Ribuan Mitra

null
Nizar Bawazier, CEO Importa. (dok ist)

Pada tahun 2003 di Temanggung, CEO PT Importa Jaya Abadi (Importa Furniture) Nizar Bawazier lulus dari sekolah menengah atas dan dihadapkan pada pilihan yang bimbang antara melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau bekerja. Kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak ia ambil dan memilih menghidupkan kembali toko mebel sederhana milik orang tuanya.

Nizar menceritakan kondisi bisnis yang diberikan saat itu memprihatinkan, minim modal dan pelanggan, yang ia dapat hanyalah kepercayaan. “Kalau mau kerja, dipinjamkan toko di Temanggung. Tapi ya dipinjamkan, bukan ngasih," kata Nizar menirukan perkataan orang tuanya dulu.

Toko itu berukuran 8x12 meter terletak di kawasan MT Haryono, Temanggung dan pada tahun 2004, Nizar membuka toko. Tanpa modal, ia hanya mengandalkan sistem konsinyasi atau barang dititipkan, dibayar setelah laku, margin kecil, tenaga besar.

Sadar lambat untuk berkembang, ia akhirnya mencari peluang baru dengan mulai memproduksi sofa sendiri. Pinjaman Rp15 juta dari sang kakak jadi nafas pertama untuk menyewa gudang dan mulai produksi sofa sederhana.

Setiap hari, ia keliling membawa 4–5 set sofa menggunakan mobil pickup ke Yogyakarta hingga Semarang, dan menawarkannya ke toko-toko furniture lawas. Ia ingat betul saat sofa-sofanya ludes hanya dalam satu hari. "Jadi sales juga," kenangnya.

Sukses di Pameran

Keberuntungan berpihak saat ia nekat masuk dunia pameran. Salah satu Event Organizer (EO) menawari space murah di Galeria Mall Yogyakarta pada akhir 2004 yakni 10x10 meter, Rp5 juta dan momen itu juga menjadi titik balik.

Pameran meledak, produk laris. Akhirnya ia mulai mengekspansi model penjualannya tak hanya toko dan keliling, tapi juga pameran reguler di mall besar seperti Ambarukmo Plaza, Solo Square, hingga Java Mall Semarang. "Lambat laun channel kemitraan mulai jalan, malah sebagian besar omzet justru dari luar toko,” ungkapnya.

Terus Belajar

Tahun 2009, Nizar memberanikan diri berangkat ke China. Di sana ingin melihat langsung pameran furniture terbesar di dunia dan berharap banyak pelajaran yang bisa diambil. Dari perjalanan ini akhirnya Nizar membangun sistem yang lebih baik dan merintis perusahaan yang kelak dikenal dengan nama Importa.

Pasar furniture kelas menengah bawah Indonesia saat itu didominasi produk partikel board. Jamuran, rapuh, rayapan kerap menjadi persoalan saat itu. Ia tahu, harus ada solusi dan pada tahun 2017, ia memperkenalkan lemari pakaian berbahan besi sebagai solusi anti rayap dan anti jamur.

Ia mengaku ide awalnya itu ditertawakan, namun dirinya yakin bahwa ini bisnis yang akan cerah di masa depan. "Aku bilang ini lemari masa depan. Awalnya penjualan kecil, lalu mulai printing pattern sendiri biar tampilannya beda, lama-lama laku juga," katanya.

Inovasi ini menjadi momentum besar. Lemari besi Importa mulai booming, dengan harga terjangkau, tapi tampilan menarik dan tahan lama. Target pasar kelas B dan C menyambut antusias.

Selama 20 tahun lebih berbisnis, Nizar mengaku tak pernah ingkar janji ke supplier. Semua pembayaran tepat waktu. Ia percaya, integritas adalah aset terbesar dalam bisnis. "Saya enggak pernah ingkar janji dan itu saya jaga. Kalau orang sudah percaya, peluang akan datang sendiri,” tutur Nizar.

Nizar juga menanamkan nilai-nilai inti di perusahaannya: Brave, Enthusiast, Sinergy, Integrity atau singkatnya BESI. Kini, Importa diakui sebagai market leader di kategori lemari besi. Dua kali masuk top brand. Bahkan, dalam sebulan, mereka bisa menjual hampir 40.000 lemari pakaian. "Saya yakin, pasar kita ini besar. Yang penting konsisten. Kalau nggak konsisten, gak akan dapat momentum,” tutup Nizar.

Hingga 2025, Importa punya lebih dari 4.500 mitra toko mebel di seluruh Indonesia, 3.500 di antaranya aktif repeat order. Ia membangun sistem kemitraan yang bukan hanya jualan, tapi juga edukasi: pelatihan, digital marketing, dan pengembangan usaha kecil. "Kami ingin toko-toko kecil bisa naik kelas. Bisa jualan produk berkualitas dengan margin sehat,” ungkap Nizar.

Tahun depan, Nizar menargetkan Importa berekspansi ke Filipina. Negara ini berpotensi memacu bisnis Importa Furniture seperti seperti Indonesia di 10 tahun lalu. "Mereka masih dominan partikel. Oleh karena itu, kami ingin menjadi pelopor lemari pakaian berbahan besi," katanya penuh semangat. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag