Dua Anak Muda Semarang Ekspor 1.500 Ton Tepung Tapioka ke 4 Negara

null
Tepung tapioka produksi Agroloka Indo Varian. (Ist)

Alwan Adhirajasa Yoga dan Hanum Aysia Minangsih, dua anak muda asal Semarang, berhasil menembus pasar internasional lewat produk tepung tapioka.

Melalui PT Agroloka Indo Varian (AIV) yang mereka dirikan pada 2022, keduanya telah mengekspor lebih dari 1.500 ton tepung tapioka food grade ke sejumlah negara seperti Sri Lanka, India, Mauritius, dan Uni Emirat Arab.

Perjalanan mereka bukan tanpa rintangan. Minimnya modal, sulitnya membangun jaringan internasional, serta tuntutan standar kualitas yang tinggi menjadi tantangan awal.

Namun, berbekal semangat wirausaha dan konsistensi menjaga mutu produk, Alwan dan Hanum mampu memanfaatkan teknologi digital untuk membuka akses ke pasar global.

“Kami ingin membuktikan bahwa anak muda Indonesia juga bisa jadi pemain global. Ini baru langkah awal, dan target kami adalah menggandakan volume ekspor setiap tahun hingga mencapai 500 ton pada 2027,” ungkap Alwan Adhirajasa Yoga, Founder AIV.

Pada September 2025, AIV tengah mempersiapkan pengiriman 20 ton tepung tapioka food grade ke Colombo, Sri Lanka. Pengiriman ini menjadi bukti komitmen AIV untuk terus memperkuat posisinya di pasar Asia Selatan.

Tak hanya fokus pada ekspor, AIV juga mengembangkan penjualan ritel tepung singkong bebas gluten untuk pasar domestik. Inisiatif ini diharapkan tidak hanya memperkenalkan produk ke masyarakat Indonesia, tetapi juga memperluas branding AIV sebagai penyedia pangan sehat yang sejalan dengan tren global.

Dalam jangka menengah, AIV membidik ekspansi ke pasar Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. “Kami optimistis bisa mencapai kapasitas ekspor 1.000 ton per tahun pada 2030,” ujarnya.

null
Produksi tepung tapioka Agroloka Indo Varian. (Foto: agroloka-commodity.com)

Alwan menuturkan, permintaan tepung tapioka dunia terus meningkat karena penggunaannya yang luas, mulai dari industri makanan dan minuman hingga tekstil, farmasi, kertas, kosmetik, dan perekat. Negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan berbagai negara Eropa menjadi pasar yang sangat potensial.

Tren makanan bebas gluten dan bahan alami turut mendorong permintaan global. Tepung tapioka banyak digunakan dalam produk populer seperti boba, mochi, kue, dan makanan ringan.

“Permintaan tapioka meningkat pesat di sektor makanan dan minuman karena sifatnya sebagai bahan pengental, pengenyal, dan bebas gluten yang cocok untuk berbagai produk,” jelas Alwan.

Selain pangan, tepung tapioka juga memiliki peran penting di industri lain. Dalam tekstil, tepung ini digunakan dalam proses pembuatan benang; di bidang farmasi, sebagai bahan pengisi tablet dan kapsul; sementara di industri kertas, kosmetik, dan perekat, tapioka menjadi salah satu bahan baku utama.

Meski peluangnya besar, Alwan mengakui ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, mulai dari fluktuasi harga bahan baku, persaingan global, hingga kebutuhan meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi distribusi agar mampu memenuhi standar internasional.

Dengan strategi yang matang dan fokus pada inovasi, AIV bertekad menjadikan produk lokal Indonesia, khususnya tapioka food grade, semakin dikenal di pasar global. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag