Transformasi Bumame: Fokus ke Layanan Preventif, Target Jadi Laboratorium Terbesar

null
Bumame Cideng. Klinik ini adalah salah satu ujung tombak Bumame dalam ikhtiar menjadi penyedia layanan preventif kesehatan. (Foto: Darandono/SWA)

Di awal pandemi Covid-19, ketika kecemasan dan ketidakpastian merajalela, nama Bumame muncul sebagai salah satu penolong masyarakat. Perusahaan ini dikenal luas berkat layanan tes PCR dan antigen yang cepat dan akurat. Dalam waktu singkat, Bumame berkembang pesat, memiliki 60 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dan melayani jutaan masyarakat yang membutuhkan kepastian hasil tes di tengah situasi darurat kesehatan.

Namun, popularitas yang diraih dalam masa genting itu juga membawa tantangan tersendiri ketika badai pandemi akhirnya mereda. "Permintaan tes menurun drastis, membuat satu per satu cabang yang dulu ramai harus ditutup," kenang James Wihardja, Co-Founder & CEO Bumame kepada SWA.co.id (11/9/2025), mengingat masa-masa sulit ketika perusahaan harus mengambil keputusan berat untuk bertahan.

Transformasi

Kondisi itu menjadi titik balik bagi Bumame. Alih-alih larut dalam penurunan bisnis, James dan tim memutuskan untuk melakukan transformasi besar. Mereka menggeser fokus dari layanan diagnostik berbasis kebutuhan darurat menjadi layanan kesehatan preventif.

Visi ini jauh lebih luas: menghadirkan solusi kesehatan modern yang menyeluruh, dari pemeriksaan rutin hingga perawatan jangka panjang, dengan teknologi yang memudahkan pasien dan meningkatkan efisiensi.

Transformasi ini melahirkan rangkaian layanan baru. Perlahan-lahan, Bumame tidak lagi dikenal hanya sebagai penyedia tes, melainkan sebagai mitra gaya hidup sehat. Layanannya mencakup medical check-up, vaksinasi, tes genomik, hingga layanan homecare. Semua dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya pencegahan penyakit.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman pelayanan kesehatan yang nyaman, terpercaya, dan mudah diakses,” ujar James.

null
James Wihardja, Co-Founder & CEO Bumame. (Foto: Darandono/SWA)

Perkuat Fondasi

Transformasi yang dijalankan Bumame tidak hanya mengubah jenis layanan yang ditawarkan, tetapi juga cara perusahaan mengelola bisnisnya. Dari yang semula berfokus pada layanan tes Covid-19 berskala besar, kini Bumame harus membangun model bisnis yang lebih berkelanjutan dan terstruktur. Perubahan arah ini membuat keberadaan klinik fisik menjadi sangat penting sebagai fondasi utama dalam memberikan layanan preventif.

Sejak berdiri pada 2020, Bumame telah memiliki empat klinik yang tersebar di TB Simatupang, Cideng, BSD, dan Karawang. James menjelaskan bahwa pada tahap awal ini, fokus perusahaan bukan memperbanyak jumlah klinik, melainkan memperkuat fondasi dan memastikan kualitas layanan tetap terjaga. “Hingga akhir tahun ini kami tidak akan menambah klinik lagi, cukup mengelola empat klinik yang sudah ada,” ujarnya.

Namun, James juga mengakui bahwa untuk mewujudkan visi jangka panjang, ekspansi tak bisa dihindari. Ia menyiapkan rencana pertumbuhan yang dimulai pada 2026, dengan target minimal enam klinik baru yang tetap terpusat di wilayah Jabodetabek. “Saya berharap pada 2026, paling tidak di Jakarta saja sudah ada 10 klinik,” katanya penuh optimisme.

Mencari lokasi klinik baru bukanlah perkara mudah. James menekankan bahwa keputusan ini tidak bisa hanya mengandalkan intuisi, tetapi harus berbasis data dan pemahaman mendalam tentang perilaku masyarakat.

“Kami selalu bertanya kepada pelanggan tentang kebutuhan mereka. Selain itu, kami memanfaatkan location intelligence tools untuk melihat profil lalu lintas orang, tempat tinggal, dan apakah sesuai dengan target audience kami,” ungkapnya. Prinsipnya sederhana: klinik harus berada di lokasi yang ramai dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam proses ekspansi, persaingan di industri layanan kesehatan tentu tak terelakkan. James, yang merupakan lulusan The University of Western Australia, justru melihat persaingan sebagai peluang. Ia bahkan tak keberatan jika klinik Bumame nantinya berdiri bersebelahan dengan kompetitor. “Kalau bisa bersebelahan dengan pesaing pun tidak masalah, karena brand Bumame sudah dikenal,” ujarnya percaya diri.

Lebih jauh, James ingin Bumame dikenal bukan hanya karena jumlah kliniknya, tetapi juga karena pendekatan modern yang diusung. Ia menekankan pentingnya teknologi dan inovasi untuk memberikan kenyamanan bagi pasien dan menciptakan efisiensi dalam operasional. “Masih banyak inovasi yang belum optimal di bidang kesehatan,” katanya.

nullBumame Cideng, selain sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam membangun gaya hidup sehat yang berkelanjutan. (Foto: Darandono/SWA)

Mitra Gaya Hidup Sehat

Kini, di tengah persiapan ekspansi, Bumame juga mematangkan langkah strategis yang tak kalah penting: menjalin kerja sama dengan BPJS dan perusahaan asuransi.

Ini merupakan babak baru bagi Bumame. Sebelumnya, kerja sama seperti ini belum memungkinkan karena mayoritas layanan Bumame masih berbasis home service, di mana tim medis mendatangi pasien ke rumah. Tanpa klinik fisik, sulit bagi perusahaan untuk memenuhi persyaratan administrasi yang ditetapkan BPJS dan pihak asuransi.

Namun, dengan empat klinik yang kini sudah beroperasi, peluang tersebut semakin terbuka lebar. James menargetkan dalam 18 bulan ke depan, kemitraan ini dapat terealisasi, dimulai dengan beberapa perusahaan asuransi yang dipilih secara selektif. Langkah ini diharapkan menjadi jembatan agar layanan kesehatan preventif Bumame bisa menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

Bersamaan dengan persiapan kerja sama ini, Bumame juga merencanakan pembangunan pusat layanan khusus, seperti klinik ibu dan anak serta pusat skrining kanker dini.

Inisiatif ini tidak hanya memperkuat identitas Bumame sebagai penyedia layanan kesehatan yang komprehensif, tetapi juga memperluas jangkauan sekaligus memperpanjang hubungan dengan pasien. Dengan adanya layanan khusus, pasien tidak hanya datang untuk pemeriksaan rutin, tetapi juga untuk upaya pencegahan penyakit yang lebih spesifik.

Perencanaan jangka panjang ini selaras dengan strategi yang telah dijalankan Bumame dalam dua tahun terakhir. Fokus perusahaan kini diarahkan pada segmen Business to Consumer (B2C), menjadikan masyarakat umum sebagai target utama layanan.

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan ini adalah peresmian klinik Bumame Cideng pada September 2025. Klinik keempat ini bukan sekadar fasilitas baru, tetapi simbol transformasi perusahaan dari penyedia tes Covid-19 menjadi mitra gaya hidup sehat.

Momen peresmian itu juga dimanfaatkan James untuk menyampaikan pandangannya tentang arah industri kesehatan di Indonesia. Ia melihat adanya perubahan pola pikir di tengah masyarakat, di mana kesadaran akan pentingnya pencegahan mulai tumbuh.

“Kami melihat peran Bumame bukan sekadar penyedia layanan kesehatan, tetapi juga mitra masyarakat dalam membangun gaya hidup sehat yang berkelanjutan,” ujarnya.

Karena itu, fokus ekspansi akan dimulai dari Jabodetabek, wilayah dengan permintaan yang tinggi dan infrastruktur memadai. Setelah fondasi kuat terbentuk, barulah Bumame akan memperluas jangkauan ke kota-kota besar lainnya. Dengan menggabungkan klinik khusus dan layanan yang terintegrasi, James yakin Bumame dapat berkontribusi dalam memperkuat ekosistem kesehatan nasional.

Visi ini merangkum ambisi besar Bumame: menjadikan kunjungan ke klinik sebagai kebiasaan sehat, bukan sekadar tindakan saat sakit. “Preventive care harus menjadi norma baru, dan kami percaya Bumame dapat memainkan peran penting dalam mendorong transformasi ini,” kata James.

Melalui berbagai inisiatif ini, James menargetkan Bumame untuk bisa berkembang menjadi perusahaan laboratorium kesehatan terbesar di Indonesia dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Dari yang awalnya hanya penyedia tes Covid-19 di masa pandemi, kini Bumame bersiap mengambil peran jauh lebih besar dalam perjalanan kesehatan masyarakat Indonesia.

Namun, mewujudkan visi tersebut tentu bukan perkara mudah. Ekosistem kesehatan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur medis, kesenjangan akses layanan di berbagai daerah, hingga budaya masyarakat yang cenderung datang ke fasilitas kesehatan hanya saat sudah sakit.

Di sisi lain, kolaborasi dengan BPJS dan perusahaan asuransi juga menuntut penyesuaian dalam proses operasional dan administrasi yang sering kali kompleks.

Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, perjalanan Bumame akan diuji oleh faktor-faktor eksternal seperti regulasi pemerintah, persaingan yang semakin ketat, serta kecepatan inovasi teknologi di sektor kesehatan. Ambisi menjadi laboratorium kesehatan terbesar di Indonesia bukan sekadar tentang jumlah klinik atau pertumbuhan bisnis, tetapi tentang kemampuan menciptakan perubahan perilaku dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan preventif. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag