Linda Tan: Dari Balik Meja ke Lapangan, Membangun Sandimas dengan Hati dan Visi Global

Linda Tan, CEO Sandimas Group. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)
Linda Tan, CEO Sandimas Group. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Di sebuah pagi yang sibuk, Linda Tan terlihat berjalan cepat di area proyek pembangunan perumahan mewah di pinggiran kota. Ia berbincang langsung dengan para kontraktor dan arsitek.

Bagi seorang CEO, pemandangan seperti ini bukan hal yang biasa. Namun, bagi Linda, inilah gaya kepemimpinannya: tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi juga “blusukan” untuk memahami persoalan di lapangan secara nyata.

Sandimas Group, perusahaan yang ia pimpin, telah menjadi salah satu pemasok bahan bangunan paling berpengaruh di Indonesia. Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan ini menyediakan produk yang digunakan di ribuan proyek, dari rumah sederhana hingga hotel dan gedung perkantoran.

Di industri yang keras dan penuh persaingan, keberadaan Sandimas menjadi bukti bahwa konsistensi, inovasi, dan kepemimpinan yang kuat mampu bertahan melewati berbagai tantangan.

Dari Bawah

Perjalanan Linda bersama Sandimas dimulai dari bawah. Ia bergabung pada tahun 2000, bukan sebagai eksekutif, melainkan sebagai staf procurement yang menangani pengadaan barang impor dari China.

Saat itu, Sandimas baru saja membuka kantor representatif di sana untuk mempermudah proses quality control dan logistik. Perlahan, Linda naik jabatan menjadi supervisor, lalu manager, hingga direktur. Pada tahun 2018, setelah 18 tahun ditempa pengalaman, ia resmi dipercaya menjadi CEO.

Di tahun-tahun awal kepemimpinannya, Linda sempat mengadopsi gaya memimpin yang umum di level C-suite: memantau dari atas, membuat keputusan strategis tanpa terlalu larut dalam detail harian. Namun, seiring waktu, ia merasa pendekatan ini tidak cukup. Ia memilih turun langsung ke lapangan untuk melihat realitas operasional.

“Saya bisa ngerti sih pas saya digembleng saat itu untuk lihat dengan helicopter view, karena tugas seorang CEO itu adalah jangan sampai terbeban dengan rutinitas yang daily sehari-hari. Tapi karena saya lagi iseng, saya coba different approach, jadi tahun lalu saya mulai turun khususnya untuk divisi proyek,” ujarnya dalam Podcast "Dari Redaksi SWA" (13/9/2025).

Keputusan itu mengubah cara pandangnya terhadap bisnis. Dengan melihat situasi langsung, Linda dapat memahami dinamika yang tidak terlihat dari laporan tertulis. Ia juga membangun hubungan yang lebih erat dengan pelanggan dan pemasok.

Dalam industri yang mengandalkan kepercayaan dan ketepatan waktu, kehadiran seorang CEO di lapangan memberi dampak besar. Ia bahkan menyesal tidak memulai kebiasaan ini lebih awal, karena hasil yang dirasakan begitu signifikan.

Ditantang COVID

Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Ketika pandemi COVID-19 melanda, Sandimas, seperti banyak perusahaan lain, terpaksa menutup kantor dan memberlakukan kerja dari rumah.

Masa itu menjadi ujian terbesar bagi Linda. Ia dan timnya harus menemukan cara agar bisnis tetap berjalan. Dengan memanfaatkan teknologi yang saat itu masih baru, mereka menciptakan sistem kerja berbasis Zoom dengan puluhan breakout room untuk tiap departemen.

“Jadi ini sebenernya idenya si CFO saya yang dia terapin. Jadi karena memang kantor juga harus tutup, kita semua bekerja dari rumah, tapi kita semua karyawan ya, bukan cuma saya aja, kita semua harus stand by di depan laptop dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore,” kata Linda.

Pendekatan tersebut terbukti efektif. Seluruh tim tetap produktif, bahkan lebih disiplin daripada sebelumnya. Linda juga menerapkan kebijakan WFH yang humanis, seperti memberikan prioritas kepada karyawan yang menggunakan transportasi umum atau memiliki risiko kesehatan lebih tinggi untuk tetap bekerja dari rumah.

Bagi Linda, pandemi bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang memperkuat rasa kebersamaan di perusahaan. Keputusan-keputusan itu membentuk gaya kepemimpinannya yang lebih empatik dan adaptif.

Ke Panggung Global

Di luar tantangan pandemi, Linda memiliki visi yang jauh lebih besar. Ia ingin membawa Sandimas ke panggung global, dengan produk yang tidak hanya dikenal karena kualitas dan inovasinya, tetapi juga memberi kontribusi nyata kepada masyarakat.

Namun, ia menyadari bahwa mimpi besar harus diraih langkah demi langkah. Untuk saat ini, fokus utamanya adalah memperkuat bisnis inti, memperluas showroom di kota-kota besar seperti Bandung, Bali, Semarang, dan Surabaya, serta membangun segmen proyek yang lebih kuat.

null
Salah satu showroom Sandimas Group. Linda kini membuka banyak showroom di sejumlah kota. (Foto: Sandimas.co.id)

Segmen distribusi Sandimas selama ini sudah stabil, bahkan menjadi market leader di Indonesia. Tetapi segmen proyek, yang memiliki karakteristik berbeda, masih perlu dikembangkan. Untuk itulah Linda sering turun tangan langsung.

Di sisi lain, showroom-showroom baru berperan sebagai sarana branding, memperkenalkan produk premium yang tidak tersedia di pasar massal. Strategi ini mencerminkan pendekatan dua sisi: memperkuat basis lama sekaligus membuka pasar baru.

Inovasi menjadi fondasi utama dalam strategi Sandimas. Perusahaan terus mencari produk yang unik dan berbeda dari kompetitor. Salah satu contoh nyata adalah perkembangan homogeneous tiles atau HT.

Jika dua dekade lalu hanya tersedia dalam ukuran dan desain terbatas, kini Sandimas menawarkan ratusan SKU dengan beragam tekstur dan motif, bahkan yang meniru marmer alami. Transformasi ini membuat Sandimas tetap relevan di tengah perubahan selera pasar dan kemajuan teknologi.

Selain inovasi produk, Linda juga fokus pada efisiensi operasional. Sandimas mengadopsi berbagai sistem digital untuk mengelola rantai pasok dan distribusi. Digitalisasi bukan hanya tentang mengikuti tren, tetapi juga memastikan perusahaan bisa bergerak cepat dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan. Dengan kombinasi inovasi produk dan teknologi, Sandimas terus memperkuat posisinya sebagai pemain utama di industri.

null
Produk granit dan sanitair yang dipasarkan Sandimas Group. (ist)

Menjaga Keseimbangan

Sebagai pemimpin perempuan di industri yang umumnya dikuasai laki-laki, Linda sering mendapat pertanyaan tentang tantangan gender. Menariknya, ia tidak terlalu merasakan hambatan itu karena Sandimas merupakan perusahaan keluarga.

Tantangan terbesar baginya justru adalah menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ia beruntung memiliki dukungan keluarga yang kuat, yang memungkinkannya tetap fokus memimpin perusahaan tanpa mengorbankan peran sebagai ibu dan istri. Linda sendiri adalah istri dari Kris Rianto Adidarma, CEO Propan.

null
Linda bersama suami, Kris Adidarma (kedua dari kanan), saat peresmia showroom “Propan Sandimas Experience Center” di PIK2, Tangerang tahun 2024. (Foto: Propan)

Linda percaya bahwa pertumbuhan perusahaan harus disertai dengan pertumbuhan orang-orang di dalamnya. Ia mendorong sistem promosi internal, memberi kesempatan bagi staf untuk naik menjadi supervisor, lalu manager, dan seterusnya.

Selain itu, ia mengubah fokus target dari individu menjadi tim, sehingga setiap orang merasa memiliki tanggung jawab kolektif. Baginya, menciptakan pemimpin baru adalah bagian penting dari tugas seorang CEO.

Mengelola tim yang terdiri dari generasi berbeda juga menjadi tantangan tersendiri. Saat ini, Sandimas memiliki sekitar 700 karyawan, kombinasi antara pegawai senior yang telah bekerja puluhan tahun dan generasi muda yang baru bergabung.

Linda memandang keberagaman ini sebagai kekuatan, asalkan komunikasi tetap terbuka dan transparan. Ia percaya, lingkungan kerja yang sehat akan menghasilkan ide-ide terbaik.

Keputusan sulit adalah bagian dari pekerjaan seorang pemimpin. Linda mengakui dirinya cenderung berhati-hati dan selalu mempertimbangkan risiko jangka panjang. Ia tidak pernah membuat keputusan penting sendirian, selalu melibatkan CFO, COO, dan tim inti lainnya. Bagi Linda, mendengarkan pendapat orang lain bukan tanda kelemahan, tetapi cara untuk memastikan keputusan yang diambil benar-benar matang.

Di tengah berbagai keputusan strategis, Linda juga memiliki sisi personal yang penuh empati. Pernah suatu kali ia mengubah aturan perusahaan demi mempertahankan seorang karyawan yang berharga.

“Ada satu karyawan kami yang sudah lama actually minta resign tapi karena saya berasa performance-nya bagus saya bilang oh jangan resign tapi saya kasih kebebasan WFH di rumah mungkin seminggu tiga kali,” ungkapnya. Meski kebijakan ini menimbulkan rasa iri di kalangan lain, ia yakin itu adalah langkah terbaik bagi perusahaan dan karyawan tersebut.

Impian untuk Sandimas Group

Impian Linda untuk Sandimas melampaui target finansial. Ia ingin perusahaan ini menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi, dan meninggalkan warisan positif bagi generasi mendatang.

Harapannya sederhana namun mendalam: setiap kali seseorang membangun rumah impian mereka, ada bagian dari Sandimas yang turut hadir di sana. Bagi Linda, itu adalah bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat.

null
Linda ingin Sandimas Group menjadi bagian dari rumah yang dibangun masyarakat Indonesia. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Menjadi pemimpin berarti juga menjadi sumber inspirasi. Dalam closing statement-nya di Podcast "Dari Redaksi SWA", Linda menyampaikan pesan bagi generasi muda: Start by doing what is necessary then what is possible and then suddenly you'll be doing the impossible.

Motto ini bukan sekadar kata-kata, tetapi prinsip yang ia jalani setiap hari dalam memimpin Sandimas.

Dari perjalanan panjangnya, Linda membuktikan bahwa kepemimpinan yang kuat tidak hanya ditentukan oleh strategi bisnis, tetapi juga oleh keberanian untuk turun tangan, empati terhadap orang lain, dan visi yang jelas. Dengan kombinasi ini, ibu dua anak ini membawa Sandimas melangkah mantap menuju masa depan yang lebih besar dan lebih bermakna. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag