Harga Emas Melonjak, IndoGold Tawarkan Investasi Mulai Rp10 Ribu
Harga emas terus melesat dalam dua tahun terakhir, bahkan menembus kisaran Rp2 juta per gram belakangan ini. Lonjakan ini membuat sebagian masyarakat kesulitan membeli emas batangan secara langsung. Emas, yang dulu identik dengan keamanan finansial, kini terasa semakin sulit dijangkau oleh banyak orang.
Untuk menjembatani kesenjangan ini, IndoGold hadir sebagai platform investasi emas berbasis aplikasi. Platform ini memungkinkan masyarakat menabung emas fisik digital mulai dari Rp10 ribu.
Menurut Indra, Founder & CMO IndoGold, pengguna dapat menukarkan tabungan digital mereka menjadi emas batangan bersertifikat ANTAM atau UBS dengan kadar 99,99%, atau mencairkannya kapan saja ke rekening bank.
"Di IndoGold memungkinkan masyarakat membeli emas digital mulai dari Rp10 ribu. Nasabah tidak perlu lagi membayar biaya cetak atau sertifikat di awal. Ketika ingin mencetak emas fisik minimal 1 gram, baru akan dikenakan biaya sertifikat," ujar Indra saat ditemui SWA.co.id di acara Bulan Literasi PBK 2025 yang diselenggarakan Asosiasi Perdagangan Berjangka Komoditi Indonesia di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Depok, Kamis (18/9/2025).
IndoGold telah mengantongi izin resmi dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Saat ini, IndoGold menggandeng empat produsen resmi (Antam, UBS, Lotus Archi, dan Hartadinata) sehingga nasabah memiliki pilihan merek.
Selain emas, IndoGold juga telah meluncurkan produk perak dengan merek sendiri. Dengan regulasi ketat, keamanan siber berstandar global, serta komitmen terhadap literasi, IndoGold berupaya memastikan emas tetap menjadi instrumen investasi yang sederhana, aman, dan terpercaya.
"Sejak mengantongi izin, kami semakin percaya diri menghadirkan layanan investasi emas yang aman, terjangkau, dan transparan. Mau tarik fisik, bisa. Mau jual kembali, bisa. Cair dana? Dua hari kerja selesai. Regulasi menjaga semua mekanisme itu," jelas Indra.
Namun, tantangan terbesar IndoGold bukan hanya soal teknologi, tetapi juga mengubah mindset masyarakat yang masih skeptis terhadap emas digital. Karena itu, edukasi menjadi ujung tombak strategi mereka. IndoGold aktif melakukan literasi keuangan di kampus dan komunitas.
“Kalau tidak dikenalkan, masyarakat sulit percaya. Literasi jadi cara kami menjaga kepercayaan. Apalagi anak-anak muda usia 27–34 tahun sekarang sudah lebih nyaman bertransaksi digital,” ucapnya.
Upaya edukasi ini membuahkan hasil. Didukung tren kenaikan harga emas, pertumbuhan bisnis IndoGold meningkat signifikan. Pada kuartal II 2025, IndoGold mencatat 1,4 juta pengguna terdaftar, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia 27–34 tahun.
"Dari sisi bisnis, kami tumbuh sekitar 30-40% per tahun," ungkap Indra.
Pertumbuhan ini juga ditopang oleh sentimen positif pasar emas. Meski demikian, Indra menekankan bahwa proyeksi harga emas hingga akhir 2025 sangat bergantung pada dinamika geopolitik dan ekonomi global.
“Kalau ada gejolak, misalnya perang atau krisis global lain, harga bisa naik lebih tinggi lagi,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa keputusan membeli emas sebaiknya tidak terburu-buru. Emas idealnya menjadi instrumen investasi jangka panjang, bukan untuk spekulasi sesaat.
"Jika membeli sekarang dan disimpan minimal empat hingga lima tahun, nilainya akan lebih aman dan berpotensi memberikan keuntungan," tegasnya.
Sebagai penutup, Indra menyarankan agar masyarakat tidak menggunakan “uang panas” atau bahkan dana pinjaman online untuk berinvestasi emas. Ia menganjurkan penggunaan dana dingin, yakni uang yang tidak memengaruhi kebutuhan harian.
Dengan demikian, investasi emas bisa dilakukan dengan lebih tenang, terencana, dan memberikan hasil optimal dalam jangka panjang. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.