Pulang ke Rumah & Strategi ONE Tech Company: Kisah Surya Fitri, CEO Siemens Indonesia

Surya Fitri (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)
Surya Fitri (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Apa yang terjadi ketika ‘orang lama’ yang pernah memulai dari lantai pabrik dipanggil pulang untuk memimpin? Surya Fitri menjawabnya tanpa CV, tapi dengan rencana. Inilah kisah CEO Siemens Indonesia.

Ditelepon Mantan

Telepon itu datang di sela hari kerja yang biasa. Dari seberang benua, sebuah pertanyaan sederhana terlontar memberi penawaran: maukah Anda kembali ke Siemens, sebagai orang nomor satu di Indonesia?

Surya Fitri tertawa kecil saat mengingatnya, menyebut momen itu sebagai telepon berhadiah. "Seperti ditelepon sama mantan (pacar),” katanya.

Pada momen itu Surya masih aktif, sedang “on”, dan tidak sedang mencari pekerjaan. Ia tidak menyiapkan CV, tidak pula memburu lowongan. Karena itu responsnya bukan “iya” atau “tidak,” melainkan permintaan jeda.

"Butuh waktu lama… Saya bilang, 'Kasih saya waktu'," ujarnya. Sebuah kalimat yang membuka ruang bagi akal sehat bekerja lebih dulu daripada euforia.

Di dalam jeda itulah ia menimbang hal-hal yang tak terlihat dari luar: kesiapan diri untuk berpindah lintasan, relevansi pengalaman yang bisa ia bawa pulang, dan sejauh mana rencana eksekusi — bukan sekadar visi — dapat dipertanggungjawabkan.

Surya memang bukan tipe yang gegabah. Ia paham Siemens tengah mencari sosok lokal yang memahami narasi global, namun fasih mengeksekusi dalam dialek pasar sendiri. Dan ia juga tahu: pulang hanya masuk akal jika ditopang kesiapan kerja, bukan romantika masa lalu.

Kelahiran 10 Januari 1967 ini memang tak asing dengan Siemens dan tidak asing dengan ekosistem industri. Selepas lulus dari Politeknik Mekanik Swiss (Bandung), ia bergabung ke PT Nobi Putra Angkasa. Di perusahaan pelopor cable ladder dan cable tray di Indonesia ini, ia menjadi Engineering & Production Coordinator (1988-1990).

Pada Januari 1991, selepas dari Nobi, jejaknya di PT Siemens Indonesia dimulai; dari bawah, di pabrik, menjadi Senior Factory Manager untuk lini Low-Medium-Voltage. Di fase awal itu, Surya berurusan dengan panel, switchgear, dan peranti tegangan menengah; tugas yang membentuk kebiasaannya menautkan presisi teknis dengan tuntutan komersial.

Tahun-tahun berikutnya menjadi sekolah kepemimpinan yang nyata. Lelaki murah senyum ini tumbuh bersama bisnis elektrifikasi Indonesia yang makin menuntut keandalan pasokan dan keselamatan operasi.

Ia terbiasa menjembatani bahasa teknik dengan bahasa pelanggan: dari spesifikasi dan standar, ke isu-isu yang lebih membumi seperti waktu pengiriman, biaya siklus hidup, dan mutu layanan purnajual. Pola pikir “pabrik ke pasar” ini menjadi ciri khasnya: keputusan teknis selalu ia bentangkan dalam peta manfaat bisnis.

Pada Oktober 2010, tonggak penting datang: Surya dipercaya sebagai Head of Business Unit Medium-Voltage. Itu berarti cakupan kerja melebar, dari urusan lini produksi ke strategi portofolio: perencanaan kapasitas, pengembangan produk, integrasi dengan jaringan pemasok, serta tata kelola mutu yang konsisten.

Setahun kemudian, Oktober 2011, ia naik menjadi Country Division Lead of Low-and Medium-Voltage Division. Di peran ini, ia bukan saja mengelola P&L sebuah portofolio besar, tetapi juga merapikan irama kolaborasi lintas fungsi — sales, engineering, pengadaan, hingga layanan — agar pelanggan melihat Siemens sebagai satu kesatuan kompetensi.

November 2013 menutup babak pertamanya di Siemens. Setelah lebih dari dua dekade membangun lini tegangan rendah-menengah, Surya melangkah keluar untuk mengasah perspektif di tempat lain. Ia merasa perlu tantangan baru.

Pada Januari 2014 ia bergabung dengan perusahaan multinasional asal Prancis, Schneider Indonesia. Hampir satu dekade kemudian, hingga Mei 2024, ia membangun karier profesionalnya dan menapaki jalur yang konsisten: mulai dari Plant Director (Medium-Voltage lalu Transformer), beralih ke sisi komersial (Marketing Director lalu South Cluster Marketing Director), lalu menjadi Commercial Director Power Systems, hingga puncaknya Vice President Power Systems Business Unit pada Agustus 2020. Durasi ini menegaskan gaya profesionalitasnya: saat sudah masuk, ia tinggal cukup lama untuk belajar dan berkontribusi.

Satu dekade di luar Siemens memperkaya jangkauan manajerialnya: dari pabrik ke pasar, dari P&L ke orkestrasi go-to-market di era elektrifikasi cerdas, ketika perangkat, perangkat lunak, dan layanan pusat data harus dirangkai, bukan sekadar dijual.

Maka ketika telepon datang dari seberang, ajakan “pulang” tidak terdengar sentimental bagi Surya. Ia bukan orang baru yang sedang mencari pijakan; ia ingin kembali dengan peta, ritme, dan rencana. Meski ia tahu itu tak sederhana.

null
Saat di Schneider. (Foto: thejakartapost.com)

Pulang

Siemens memang membutuhkan orang yang bukan sekadar fasih di sisi produk, melainkan juga paham denyut pasar di Indonesia: bahasa yang dipakai di ruang rapat bersama pelanggan, jeda-jeda halus saat angka dibicarakan, atau ketika sebuah “ya” terkadang masih menggantung di udara.

Mereka ingin keunggulan global harus berbicara dalam dialek pasar lokal, sebab yang menentukan kesuksesan bukan hanya kecanggihan solusi, melainkan kesesuaian problem-solution fit di lapangan. Bahkan termasuk memahami budaya lokal.

Kebutuhan itu lahir dari jejak yang panjang dan tidak muncul dari ruang hampa; ia bertumpu pada sejarah panjang kehadiran Siemens di Indonesia. Raksasa dari Jerman ini hadir sejak 1855, sewaktu mesin telegraf pertama mereka didatangkan, lalu membuka agen resmi di Surabaya pada 1909.

PT Siemens Indonesia sendiri berdiri pada 1973, yang kemudian dikokohkan dengan beroperasinya pabrik switchgear di Jakarta pada 1975. Dan selepas dekade 1990-an, kebanyakan posisi CEO-nya diisi oleh ekspatriat.

Di sinilah frasa "Global to local dengan local approach-nya" menemukan relevansinya. Ia bukan slogan PR (public relations), melainkan pengakuan bahwa keunggulan global perlu semacam penafsir lokal yang bukan hanya memiliki kapabilitas leadership dan kompetensi tinggi, tapi juga fasih membaca isyarat-isyarat kecil — cara membuka percakapan, ritme negosiasi, hingga selera pengambilan risiko — yang membedakan satu pertemuan bisnis dari yang lain.

Karena itu, kepulangan Surya pada Juli 2024 sebagai Presiden dan CEO Siemens Indonesia menggantikan Dr. Lamine Jendoubi, sejatinya lebih dari simbol dan seremoni. Ia menandai pergeseran yang sudah lama dibicarakan di Siemens: strategi “global-to-local” yang tidak berhenti pada presentasi kebijakan, tetapi hadir sebagai keputusan operasional sehari-hari.

Arah besar tetap satu sesuai instruksi dari kantor pusat di Jerman, namun eksekusinya berwajah Indonesia; selaras dengan momentum elektrifikasi, otomasi proses, dan ledakan proyek pusat data yang menuntut kombinasi kompetensi teknis dan sensitivitas konteks.

null
Dr. Lamine Jendoubi menyerahkan tampuk posisi orang tertinggi di Siemens Indonesia pada Surya, Juli 2024. (Foto: FB Siemens)

Surya sendiri mengungkap ada perasaan tersendiri di bulan Juli 2024 itu. “Ya benar-benar seperti pulang ke rumah,” katanya dengan senyum lebar, seraya menandaskan dia juga menaruh rasa hormat dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Schneider, tempatnya berkiprah selama satu dekade dan menempanya lebih dewasa.

Tapi, dengan lugas, lelaki berkacamata ini juga menjelaskan bahwa ketika kursi orang nomor satu didudukinya di Siemens Indonesia, yang terasa bukan lagi euforia, melainkan komposisi yang menuntut kedewasaan sikap: campuran antara kehormatan, tanggung jawab, serta sederet pekerjaan rumah (PR) yang meminta perhatian.

Ya, PR besar. Lanskap yang Surya masuki bukan lagi medan yang sama seperti sepuluh tahun lalu saat ia pergi. Demografi talenta yang lebih muda, lintas fungsi lebih cair, dan dua hal yang dulu sering berakhir di slide penutup presentasi — digitalisasi serta isu keberlanjutan — kini benar-benar telah pindah ke daftar kerja harian, bahkan ke halaman pertama agenda kerja.

Sungguh, Siemens berinteraksi dengan lingkungan yang berubah drastis: pasar yang lebih cepat; pelanggan menuntut lebih jelas; dan waktu memaafkan kebingungan yang semakin sedikit.

Lantas, apa yang dia lakukan?

null
Memberikan sambutan saat dikukuhkan sebagai orang nomor satu di Siemens Indonesia. (Foto: FB Siemens)

One Tech Company

Tiga bulan pertama sejak Juli 2024, tidak dihabiskan Surya di balik meja atau acara potong pita, melainkan sepenuhnya di lapangan. Ia berkeliling ke banyak lokasi, melakukan silaturahmi yang disiplin sebagai metode riset pasar yang paling jujur. Seperti belanja masalah. “Saya di 3 bulan pertama ditarget mengunjungi 100 customer account,” katanya.

Angka itu bukan trofi, melainkan komitmen: jika Siemens ingin hadir sebagai satu solusi, maka peta masalah pelanggan harus dipahami langsung dari sumbernya, bukan dari asumsi internal.

Dari kunjungan ke kunjungan itu, Surya pun langsung menemukan detail yang jarang tertulis di proposal dan presentasi anak buahnya. Dia menangkap aspirasi customer. "Mereka ingin bisa one stop shopping," katanya.

Maksudnya, selama ini tanpa disadari Siemens seakan datang sebagai sebuah parade. Yang datang unit demi unit, layanan demi layanan. Terpecah. Terpisah. Silo.

Dari temuan lapangan itulah pintu masuk baru dirumuskan. Alih-alih parade tim yang datang bergantian, Surya ingin Siemens tampil sebagai satu rombongan kecil yang merangkum suara organisasi — dari hardware dan perangkat lunak, hingga layanan purnajual — ke dalam tawaran yang utuh kepada customer, bukan terpisah-pisah.

Menariknya, ritme lokal itu ternyata bertemu frekuensi yang juga sedang digalakkan Siemens di level global. Saat Jakarta mencoba mempraktikkan sinergi kerja lintas-unit bisnis kepada customer, kantor pusat Siemens di Munich mengumumkan inisiatif ONE Tech Company.

Siemens ONE Tech Company adalah inisiatif strategis global untuk menyatukan seluruh unit bisnis menjadi satu perusahaan teknologi dengan tujuan meningkatkan fokus pada nilai pelanggan, mempercepat inovasi, dan mendorong pertumbuhan yang menguntungkan melalui integrasi teknologi dan ekosistem mitra.

“Nah, one tech company membuat customer bisa one stop shopping,” kata Surya. "Ternyata inisiatif global itu klop dengan yang kami lakukan di Jakarta," tambahnya.

Inisiatif global itu akhirnya memaksa kebiasaan lama ditata ulang. Unit-unit bisnis harus menahan dorongan untuk tampil soliter per produk, memperkuat koordinasi antarbagian sejak awal, dan memastikan key account menggali pain points yang dialami customer sebelum menarik kapabilitas lintas unit ke meja yang sama agar bisa dihadirkan solusi yang komprehensif.

Sinkronisasi dan kolaborasi antarunit bisnis ini (ada 5 unit bisnis dalam Siemens Indonesia) perlahan-lahan ditanamkan Surya dalam organisasinya. Untuk menunjukkan semangat itu menjadi konsep yang terlihat nyata, dibangunlah satu ruang yang disebut "Xperience Center" di kantor pusat Siemens Indonesia di bilangan Pulomas, Jakarta.

“Ini hanya dibangun dua setengah bulan, kurang lebih,” ujarnya tentang tempo pembangunan yang jarang terjadi di korporasi sebesar Siemens. Tangannya menunjuk ke sekeliling ruangan tempat kami duduk berbincang-bincang dengan senyum mengembang tanda senang dan bangga.

Xperince Center Siemens Indonesia. (Foto: Siemens.com)
Xperience Center Siemens Indonesia. (Foto: Siemens.com)

Kecepatan pengerjaan ini bukan semata untuk mengejar headline, tetapi juga menangkap momentum 50 tahun Siemens Indonesia (dihitung dari berdirinya pabrik switchgear di Jakarta) dan menyongsong Tech Summit 2025 yang mereka gelar Juni 2025, sekaligus menjawab kebutuhan paling dasar: pelanggan ingin melihat bagaimana sistem Siemens bekerja untuk mereka, bukan sekadar mendengar janji.

Di ruang Xperience Center, tampak bagaimana perangkat keras, perangkat lunak, sensor, panel, dan skenario industri dirangkai hidup. Surya menjelaskan Xperience Center sengaja dipusatkan pada dua ranah: smart infrastructure dan industri digital.

Di smart infrastructure, fokusnya pada otomatisasi kelistrikan: mulai dari distribusi daya, jaringan low voltage dan medium voltage, hingga konektivitas antarsistem. Portofolio ini dibingkai dalam "Electrification X", gagasan untuk membangun jaringan listrik yang sehat: bukan hanya mengalirkan energi, tetapi juga memantau dan mengendalikan kinerjanya lewat grid software yang membaca performa jaringan secara real time. Sementara itu, domain industri digital menawarkan otomasi pabrik end-to-end — dari orkestrasi lintas proses sampai motion control.

Semua ini bukan sekadar etalase. Xperience Center dirancang sebagai ruang belajar: tempat pelanggan dan mitra mencoba, membedah, lalu menyesuaikan solusi Siemens langsung dengan kebutuhan lapangan.

Di sini, orang tidak lagi menatap pajangan; mereka berjalan di dalam sistem yang menyala, melihat bagaimana peralatan bekerja menjaga hidup tetap berdenyut dan kinerja perusahaan meningkat.

Surya Fitri (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)
Di ruang Xperience Center. (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Maka di sini, Xperience Center pun berubah menjadi kelas; diskusi produk menjelma simulasi proses. Keberatan abstrak perlahan berkurang, digantikan pertanyaan teknis yang relevan, seperti berapa efisiensi energi yang bisa dicapai, bagaimana uptime dijaga, seberapa cepat pemulihan saat terjadi gangguan, hingga apa dampak terhadap total cost of ownership. Lebih komprehensif dan jernih lantaran semuanya langsung tampak.

Sederhananya, dengan masuk ke ruangan ini, orang yang datang akan pulang dengan pemahaman ekosistem Siemens secara utuh.

Efeknya, terlihat kejelasan ukuran sehingga kedua belah pihak (Siemens dan customer) dapat berbicara dengan matriks yang sama dengan lebih jernih, memotong kabut jargon, yang membuat customer bisa mempercepat pengambilan keputusan dengan lebih baik.

Mengiringi Xperience Center, Surya juga menggelorakan Consultants Day. Program ini lahir dari kesadaran sederhana: dalam proyek-proyek elektrifikasi, building solutions, dan pusat data, konsultan sering menjadi “penjaga gerbang” keputusan para customer.

Dalam ekosistem dan model bisnis Siemens, peran konsultan memang tak bisa diabaikan. Mereka bisa menjadi semacam specifier dan owner’s engineer. Mereka aktif dalam menyusun standar teknis, memformulasi kebutuhan kinerja (uptime, efisiensi, keselamatan), hingga merekomendasikan arsitektur solusi lintas unit pada perusahaan. Keputusan tender perusahaan bahkan sering mengikuti saran yang mereka berikan. Menautkan mereka sejak awal mengurangi risiko miskomunikasi dan membuat proposal lebih tahan uji di ruang-ruang yang tidak selalu didatangi vendor seperti Siemens.

Maka alih-alih menunggu momentum dari luar, Siemens mengundang para konsultan di area tersebut (proyek elektrifikasi, building solutions, dan pusat data) untuk datang. Di forum khusus ini, bukan hanya tim account yang berbicara; seluruh tim sales hadir untuk menerangkan portofolio end-to-end agar konsultan melihat satu wajah Siemens, bukan lima unit bisnis yang terpisah.

Setidaknya ada 3 tujuan yang dibidik Surya lewat program ini. Pertama, membangun common language: konsultan dan tim Siemens menyelaraskan istilah teknis, constraint proyek, hingga opsi integrasi software–hardware.

Kedua, memperpendek siklus edukasi: apa yang biasanya tersebar di banyak pertemuan, dipadatkan dalam satu forum yang kurasinya jelas. Dan ketiga, menguji janji ONE Tech Company di hadapan audiens yang paling kritis: para konsultan.

Harapannya, ketika satu pertanyaan menyentuh lintas unit bisnis, tim-tim yang hadir secara otomatis akan terlibat menimpali dengan solusi yang kompatibel. Hasilnya bukan “demo produk”, melainkan dialog solusi. Satu pertanyaan konsultan dijawab sebagai pernyataan satu perusahaan, bukan satu divisi.

null
Memberikan paparan saat Consultants Day. (Foto: X @SiemensID)

Surya menyebut acara ini belum menjadi kebiasaan sebelumnya, dan justru karena itu efek kejutnya terasa lantaran terjalin kesepahaman serta kolaborasi yang lebih baik. Dengan kata lain, ini adalah konversi mindset ke perilaku pasar: dari koordinasi internal menjadi kredibilitas eksternal.

Ia menilai aktivitas-aktivitas seperti inilah yang menyuburkan nalar ONE Tech Company di lapangan. Bukan roadshow seremonial, tetapi forum yang mengikat tiga hal sekaligus: kejelasan portofolio, kecepatan lintas unit bisnis mengeksekusi, dan kepercayaan konsultan bahwa Siemens akan hadir sebagai satu solusi pada saat proyek benar-benar berjalan.

null
Karyawan Siemens Indonesia tengah memberi penjelasan kepada para konsultan dalam Consultants Day. (Foto: X @SiemensID)

Mindset

Menjelaskan pada customer tentang ONE Tech Company lewat Xperience Center dan menggelar Consultants Day adalah hal penting. Namun Surya menyadari itu hanya separuh cerita untuk mencetak kinerja yang baik. Separuh lain terletak pada kapasitas serta kapabilitas manusia yang bertugas di garis depan.

Karena itu, tantangan besar yang tak kalah penting adalah membangun mindset yang tepat di lingkungan internal, yang sejalan dengan ONE Tech Company. Pola pikir bahwa sinergi antarbisnis unit dan elemen perusahaan harus makin digalakkan. Bahwa awak satu unit bisnis, sudah selayaknya memahami unit bisnis lainnya. Bahwa mereka adalah satu.

Satu hal kemudian yang ditata adalah Sales Academy di internal Siemens. Surya memimpin penguatan Sales Academy. Program ini diperkuat dengan menekankan peningkatan kapabilitas tim sales (fokus pada target account dan spirit kolaboratif).

Kemudian, selain ruang demo yang menyala di Xperience Center dan kelas penjualan yang rapih di Sales Academy, Surya membuat “mesin” lain yang bekerja sunyi: ritme berbagi pengetahuan (knowledge sharing) dua mingguan untuk lintas 5 unit bisnis.

Forum ini memaksa semua orang (sales, produk, hingga solution architect) berbicara dalam bahasa yang sama dan mengetahui apa yang dikerjakan setiap unit bisnis. Hasilnya, saat satu akun customer menanyakan isu di luar domainnya, jawaban tidak lagi ditunda atau dilempar ke “tim sebelah”; respons langsung terbentuk sehingga memperpendek jarak dari peluang ke proposal bisnis.

Ritme internal itu kemudian dilengkapi dengan town hall kuartalan yang dibungkus dengan nama program "Ask Me Anything". Alih-alih seremoni satu arah, forum ini menjadi tempat Surya dan jajaran manajemen menjelaskan banyak hal: apa yang berjalan, apa yang tersendat, serta keputusan apa yang perlu diambil cepat.

Keterbukaan pertanyaan, bahkan yang tajam sekalipun, diyakini Surya akan membantu organisasi melihat diri sendiri dengan jujur. "Transparansi ini akan menumbuhkan kepercayaan karyawan. Mereka akan lebih berani mengeksekusi ketika memahami 'apa' dan 'mengapa' satu kebijakan dibuat," katanya.

Bahkan, jika ada perwakilan manajemen Siemens global hadir, ia akan diundang juga untuk acara ini, seperti Judith Wiese ketika mengunjungi Jakarta. Judith, Chief People and Sustainability Officer Siemens AG menjelaskan arah perusahaan dan tren global pada April 2025.

null
(Tengah) Judith Wiese, Chief People and Sustainability Officer Siemens AG dalam acara Ask Me Anything di Jakarta, April 2025. (Ist)

Tak cukup dengan itu, untuk menautkan hari ini dan esok, Surya juga meminta tiap unit membuat market-coverage workshop menuju 2026. Bukan sekadar target angka, melainkan peta opsi: kota baru mana yang perlu ditutup, kemitraan mana yang mengisi celah kapabilitas, dan investasi alat/kompetensi apa yang paling berdampak. Peta ini berfungsi sebagai “menu manuver”: saat momentum pasar muncul, organisasi tidak mulai dari nol.

Tiga Sumbu

Di luar langkah-langkah di atas, selama setahun terakhir, Surya juga aktif untuk menampilkan wajah Siemens ke stakeholders dan publik. Begitu ditunjuk menggantikan Lamine Jendoubi, pesan yang ia kirim sederhana: bahwa Siemens terus berinovasi dan berkolaborasi, bahwa teknologi yang mereka miliki membawa dampak nyata mulai dari kampus, pabrik, hingga jaringan listrik negeri ini.

Saat di panggung Tech Summit 2025, Juni 2025, lelaki jangkung yang hobi bola basket ini memetakan tiga sumbu gerak Siemens di Indonesia: mempercepat transformasi digital, menerapkan kecerdasan buatan (AI), serta mendorong dekarbonisasi.

Realisasinya, Siemens pun aktif melakukan kolaborasi dengan sejumlah perusahaan. Di antaranya kolaborasi dengan PLN Electricity Services dan mitra energi terbarukan.

null
Mewakili Siemens Indonesia menjalin nota kesepahaman dengan Smartfren untuk mengembangkan Smart Manufacturing. (Foto: Siemens)

Lalu dengan PT SMART Tbk (Sinar Mas Agribusiness and Food) untuk menyederhanakan, mempercepat, dan memperluas skala transformasi digital industri oleokimia berbasis sawit. Tujuannya dua: menaikkan mutu dan daya saing produk, sekaligus menopang agenda ketahanan pangan–energi Indonesia dalam 4-5 tahun ke depan.

Juga dengan Smartfren for Business, bagian dari PT Smartfren Telecom Tbk (FREN). Bersama Smartfren, Siemens memperkuat hubungan kerja sama kedua perusahaan dalam rangka mengembangkan solusi Smart Manufacturing dan berbagai solusi transformasi digital industri 4.0. Beberapa rencana pengembangan yang dimaksud antara lain berupa solusi manajemen energi, advance production control, dan digital twin platform.

Selain dengan kalangan perusahaan, Siemens juga menggalang kolaborasi dengan pihak pemerintah, seperti Kementerian Perindustrian melalui WANTRII untuk mendorong efisiensi dan teknologi cerdas lintas sektor. Bentuknya konkret: asesmen industri bersama, pelatihan teknis, hingga R&D terapan yang menyasar kebutuhan Indonesia hari ini.

null
Mendampingi Dewan Transformasi Digital Industri Indonesia (WANTRII) melakukan kunjungan ke kantor pusat dan pabrik switchgear Siemens Indonesia di Jakarta. (Foto: FB Siemens).

Strategi “global-to-local” bahkan menyentuh di sisi hulu talenta. Surya mendistribusikan perangkat lunak simulasi tenaga listrik PSS SINCAL dan komputer berkinerja tinggi ke beberapa kampus teknik, di antaranya Undip, UGM, Universitas Pertamina, UMM, dan Unsri, untuk diintegrasikan ke kurikulum dan didampingi pelatihan instalasi.

Dengan cara ini, jelasnya, kecakapan digital tidak berhenti di brosur; ia masuk ke kelas, tugas, dan riset mahasiswa teknik elektro.

null
Menandatangani nota kesepahaman dan hibah teknologi berupa sistem manajemen motor yang diberikan kepada Universitas Muhammadiyah Malang di Malang. (Foto: Siemens Indonesia).

Jika dirangkum, kiprah Siemens di bawah Surya tampak membentuk jembatan tiga ruas: penguatan sistem energi yang lebih efisien dan bersih demi sustainability (keberlanjutan), pengkaderan talenta digital lewat universitas, dan modernisasi industri proses melalui kemitraan strategis.

Khusus sustainability, Surya menjelaskan hal ini juga tak luput dari perhatiannya. Isu keberlanjutan tidak ditinggalkan sebagai poster. Ia menunjuk para sustainability champion untuk mengawal pilar DEGREE (Decarbonization, Ethics, Governance, Resource Efficiency, Equity, dan Employability) yang menjadi arahan Siemens global lengkap dengan KPI-nya.

Di ranah operasional, ia sengaja memulai dari hal-hal yang tampak sederhana: dorongan paperless sejauh regulasi memungkinkan, penertiban alur dokumen, dan pemilahan limbah yang konsisten. Perbaikan kecil ini tidak spektakuler, tetapi menetes ke banyak titik: waktu siklus yang lebih pendek, kesalahan administrasi yang berkurang, dan kredibilitas lingkungan yang meningkat saat bicara dengan pelanggan yang makin peduli pada ESG.

Datang Pagi

Sewaktu ditanya apa yang membuatnya bahagia setelah setahun pulang ke rumah, Surya menjawab: "Mindset kami untuk menjadi ONE Tech Company kian terasa dan terlihat."

Ia sendiri merasa perjalanannya selama satu tahun masih jauh dari kata sempurna, dan memiliki ruang untuk terus dikembangkan serta disempurnakan.

Yang jelas, katanya, sejak awal "pulang ke rumah", ia memulai kebiasaan lama yang dilakukannya sejak awal bergabung ke Siemens tiga dekade lalu. "Saya selalu datang pagi, di bawah jam 7, lalu berjalan keliling pabrik, baru kemudian ke ruang kerja," katanya sambil tersenyum.

Tur singkat di pabrik yang dilakukan rutin setiap pagi ini, menurutnya bukan inspeksi, melainkan cara dirinya membaca dan merasakan denyut di lantai yang paling dasar berikut isu yang bisa jadi tak muncul di laporan.

Kebiasaan ini juga turut meredakan “rasa sendiri di puncak” karena bersentuhan langsung dengan karyawan, sekaligus memberi isyarat yang jelas ke organisasi: kepemimpinan bukanlah jarak, melainkan frekuensi keterhubungan. Sesuatu yang diyakininya menjadi fondasi untuk keberhasilan bersama.

Alhasil, tawaran pulang ternyata bukan sekadar ajakan kembali ke rumah lama, melainkan undangan untuk kembali ke ritme yang selama ini membentuk dirinya. Rutinitas pagi itu — datang lebih awal, berjalan keliling pabrik, mendengar denyut lantai — adalah jawaban atas tawaran itu: bukan nostalgia, melainkan komitmen nyata untuk menyelaraskan kepemimpinan dengan kehidupan sehari-hari organisasi. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag