Generasi Kedua Rianty Batik: Sulap Batik Menjadi Fesyen Modern
Batik adalah warisan budaya Indonesia yang diakui dunia. Namun, bagi sebagian masyarakat, batik kerap identik dengan gaya fesyen yang kaku dan tua, yang hanya cocok untuk orang tua dan acara formal.
Di tangan Aditya Suryadinata, generasi kedua yang kini menjabat CEO Rianty Batik, anggapan itu perlahan terkikis. Ia mengarahkan Rianty Batik menjadi fesyen modern yang bisa dipakai siapa pun, di mana pun, dan kapan pun.
“Rianty Batik itu adalah batik dengan konsep modern. Apa maksudnya modern itu? 12 tahun yang lalu, saat saya diminta bantu, melihat batik itu yang pakai bapak-bapak untuk acara. Saya waktu itu masih muda suruh pakai batik kayak bagaimana (enggak pede). Jadi kami melihatnya basicnya dari fashion, kami batikkan. Jadi modelnya model-model lebih kekinian tapi dengan motif batik,” kata Aditya saat ditemui di Cafe Kalluna, Yogyakarta, Rabu (24/9/2025).
Strategi itu menjadi pembeda Rianty Batik dari bisnis batik lain. Modernisasi desain membuat produk Rianty Batik tampil di ajang bergengsi dunia. “Itu yang membawa kita tahun lalu diundang ke New York Fashion Week,” kenang Adit.
Ia bercerita, ketika dirintis, orang tuanya berfokus pada aktivitas jual–beli batik, belum menggarap pengembangan desain, produksi, atau ekspansi ke kota lain; hanya ada satu toko di Yogyakarta.
Saat diminta terjun 12 tahun silam, Adit mulai menata arah bisnis: memilih bahan, membangun produksi, merambah pasar online, serta bekerja sama dengan berbagai department store. Hasilnya, kini Rianty Batik memiliki 20 gerai di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Medan, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.
Jumlah produksi per bulan menembus ribuan. Untuk memenuhi permintaan, proses produksi juga menggandeng pihak ketiga, sehingga turut menggerakkan usaha lain dan membuka lebih banyak lapangan kerja.
Penjualan Rianty Batik saat ini masih didominasi gerai offline (70%–75%), sementara online sekitar 25%–30%. Menurut Adit, jalur offline unggul karena sejak awal Rianty Batik bertumbuh dari kanal tersebut dan pelanggan ingin melihat serta merasakan langsung pakaian yang dibeli.
“Online itu biasanya yang sudah pernah beli di offline, tahu kualitasnya, lalu dia order lagi itu di online,” ungkapnya.
Pewaris Bukan Hanya Penerus
Sebagai penerus bisnis keluarga, Adit tak lepas dari anggapan miring bahwa ia tak perlu bersusah payah membangun usaha. Ia memilih menjadikannya pemicu untuk terus bertumbuh.
“Kalau pewaris itu hanya meneruskan, enggak usah jadi pewaris, karyawan biasa juga bisa. Pewaris itu harus berbeda, bisa mengembangkan, bagaimana bisnis ini bisa terus besar, bisa memberikan manfaat bagi banyak orang, enggak hanya datar begitu saja,” tegasnya.
Persaingan bisnis batik di Indonesia, menurutnya, semakin ketat. Entry barrier rendah dan risiko peniruan tinggi, meski tidak 100%. “Jadi banyak sekali produk kami itu ‘ditiru’, artinya idenya dari kami, tapi secara kualitas dibedakan, kainnya lebih jelek dan dijual lebih murah, atau warnanya dibedakan sedikit. Kan kalau online tidak bisa membedakan, dasarnya hanya foto. Dulu banyak foto kita dipakai, sekarang lebih sedikit karena platform juga sudah aware akan hal itu,” ucap Adit.
Untuk mengatasinya, desain Rianty Batik kini memuat logo Rianty Batik. Ketika terjadi peniruan, setidaknya ada dampak positif berupa “pemasaran gratis”. Adit juga telah mendaftarkan Kekayaan Intelektual (KI) merek Rianty Batik ke Kementerian Hukum.
Saat itu, dari sekian banyak merek yang pernah ia bangun, hanya “Rianty Batik” yang bisa dipatenkan. Ia pun memulai proses branding dari nol. Proses pendaftaran kala itu belum semudah sekarang, bahkan harus menunggu tiga tahun dengan bantuan pihak ketiga hingga sertifikat terbit.
Dari pengalaman tersebut, Adit kian menyadari pentingnya KI bagi keberlangsungan usaha jangka panjang. KI memberi kepastian dan perlindungan hukum sehingga brand tetap aman, sekaligus mempermudah kerja sama dengan mitra resmi.
“Misalnya, karena punya KI, toko kami bisa berstatus ‘Mall’ di Tokopedia dan TikTok Shop, dan hal ini secara tidak langsung menambah kepercayaan pembeli. Tanpa KI, selalu ada risiko pihak lain menggunakan merek yang sama dan tentu merugikan,” tutup Aditya.
Ke depan, Rianty Batik akan semakin mendekatkan diri ke pelanggan dengan membuka toko baru di area BSD. Menyasar segmen menengah ke atas, Adit menyebut basis pelanggan dari wilayah Jabodetabek sangat kuat. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.