Polytron: Menyulap Kilau Elektronik Menjadi Deru Roda Listrik
Langit bisnis otomotif Indonesia tengah dipenuhi awan transisi energi, dan Polytron hadir dengan keyakinan teguh untuk menjadi pemain utama di pasar sepeda motor listrik.
Kalkulasi Panjang
Perusahaan yang selama ini identik dengan elektronik rumah tangga itu, kini melaju kencang dengan lini produk baru yang semakin sering terlihat di jalan-jalan kota besar dan kota kecil. Keputusan berani itu bukanlah langkah terburu-buru, melainkan hasil kalkulasi panjang tentang masa depan transportasi dan peluang bisnis yang menggiurkan.
“Kalau kita lihat data penjualan sepeda motor berbasis bensin atau ICE (internal combustion engine), itu hampir 6 juta unit setahun. Populasi sepeda motor di Indonesia sudah 120 juta. Jadi, dengan berkembangnya teknologi motor listrik berbasis baterai, peluang bisnisnya akan sangat besar,” kata Tekno Wibowo, Commercial Director PT Hartono Istana Teknologi (Polytron).
Dari hitungan sederhana itu saja, terlihat mengapa Polytron serius menggarap pasar motor listrik. Keputusan masuk ke industri ini berangkat dari kesadaran bahwa perubahan teknologi adalah keniscayaan, dan Polytron tidak ingin sekadar menjadi pengikut.
Polytron memperkenalkan motor listrik pertamanya di tengah pandemi Covid-19, tahun 2020–2021. Produk perdananya masih terbatas dipasarkan di Semarang dan Kudus sambil terus mengumpulkan insight dari konsumen.
Barulah pada 2022, Polytron merilis motor listriknya yang diberi nama Vox R secara nasional. Sejak itu, brand ini melaju semakin kencang, bahkan menjelma sebagai salah satu pemimpin pasar motor listrik di Indonesia. Salah satu strategi kunci mereka adalah mengatasi persoalan paling mendasar dalam adopsi motor listrik, yaitu harga baterai yang mahal, dan memberikan solusi.
“Biaya terbesar motor listrik ada di baterai. Kalau konsumen disuruh membeli motor listrik sekaligus dengan baterai, tentu harganya jauh lebih mahal dibanding motor bensin. Karena itu, pendekatan kami adalah konsumen hanya beli motornya, sedangkan baterainya disewakan per bulan. Sistem sewa Rp200 ribu ini membuat biaya awal jauh lebih murah,” Tekno menjelaskan. Dengan skema itu, Polytron berhasil menurunkan hambatan awal kepemilikan, sekaligus memberikan fleksibilitas bagi konsumen.
Strategi Komunikasi
Selain inovasi dalam model bisnis, Polytron juga cerdik dalam strategi komunikasinya. Subsidi motor listrik dari pemerintah sempat menjadi daya tarik konsumen. Namun, ketika subsidi berhenti, Polytron tidak mundur. Mereka justru mengemas diskon internal dengan narasi yang tetap menggunakan kata “subsidi”, sehingga tetap relevan di benak konsumen.
“Kami sebagai produsen harus tetap bertahan dengan atau tanpa subsidi. Awalnya, kami kasih diskon, tapi karena konsumen maunya subsidi, komunikasinya kami ubah jadi subsidi,” kata Tekno lugas.
Dari sisi branding, Polytron membawa reputasi panjangnya di dunia elektronik untuk memperkuat kepercayaan publik di industri baru ini. Seperti diungkapkan Istijanto Oei, pengamat pemasaran dari Universitas Prasetiya Mulya, langkah Polytron bisa dibaca sebagai diversifikasi bisnis sekaligus strategi brand extension.
“Sepeda motor listrik Polytron mengandalkan nama merek Polytron yang sudah dikenal lebih dulu di kategori produk elektronik. Proses transfer makna ini perlu dilakukan dengan cerdik, terutama karena isu baterai sangat dominan. Untungnya, Polytron tidak sekadar ikut-ikutan, melainkan hadir dengan pembeda seperti skema sewa baterai, layanan purnajual, dan desain yang sporty,” papar Istijanto.
Memang, Polytron tidak hanya menjual motor listrik, tetapi juga membangun ekosistem pendukung. Saat ini, mereka memiliki 68 titik layanan yang sekaligus berfungsi sebagai dealer dan service center, tersebar di berbagai kota dari Aceh hingga Papua.
Dengan memanfaatkan jaringan service center elektronik yang sudah ada, Polytron mampu memperluas jaringan motor listrik lebih cepat. Bahkan, komunitas pengguna Polytron EV pun tumbuh organik di media sosial. Grup-grup Facebook dan komunitas riding di berbagai daerah menjadi sarana edukasi sekaligus promosi gratis.
Kehadiran Polytron di pameran besar seperti Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) dan Indonesia Elecric Motor Show (IEMS) semakin mengokohkan brand awareness. Namun, Tekno menegaskan, strategi terkuat saat ini adalah pemanfaatan media sosial.
“Hari ini orang lebih banyak di TikTok, Instagram, dan Facebook. Bahkan, di Facebook sudah ada grup pengguna motor listrik Polytron yang dibikin sendiri. Kami hanya support dari belakang. Jadi, komunitas ini jalan sendiri, saling tukar informasi, dan itu justru lebih powerful,” kata Tekno.
Ambisi Kuasai Pasar
Polytron juga memperhatikan segmen pasar dengan cermat. Selain Vox R sebagai andalan, mereka merilis varian Fox Air dengan harga lebih terjangkau, serta Fox 500 untuk penggemar motor besar. Tak ketinggalan, ada Fox 200 yang dirancang khusus untuk segmen perempuan, terutama ibu rumah tangga, yang butuh kendaraan ringan, lincah, dan futuristik untuk mobilitas sehari-hari.
“Insight dari konsumen sangat penting. Fox 200 muncul karena kebutuhan ibu-ibu rumah tangga yang ingin motor listrik kecil, praktis, tapi tetap stylish,” ungkap Tekno. Fox 200 dibanderol dengan harga Rp11 jutaan setelah mendapat subsidi Rp7 juta.
Ambisi Polytron tidak main-main. Dengan kapasitas produksi hingga 5 ribu unit per bulan di pabrik Sayung, Demak, Jawa Tengah, Polytron menyiapkan diri untuk lonjakan permintaan. Meski penjualan saat ini baru berkisar 1.500–2.000 unit per bulan, langkah ekspansi terus dilakukan.
“Kami ingin jadi tuan rumah di negara sendiri. Harapan kami, dengan produk ini, Polytron bisa merajai pasar, sama seperti yang sudah kami lakukan di produk elektronik,” Tekno menegaskan.
Jika melihat industrinya, sepeda motor listrik di Indonesia tengah menunjukkan momentum yang nyata, kendati pertumbuhannya rada bergantung pada kebijakan dan insentif pemerintah. Menurut data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin), registrasi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai roda dua meningkat dari 17.198 unit pada 2022 menjadi 62.409 unit pada 2023, melonjak sekitar 263%.
Dukungan insentif terbukti menjadi pemicu utama. Hingga Mei 2024, telah tersalurkan 30.083 unit motor listrik bersubsidi atau 60,1% dari target 50 ribu unit tahun itu.
Di tengah fenomena tersebut, Polytron muncul sebagai pemain dominan. Menurut data internal yang disampaikan ke Kemenperin dan dikonfirmasi asosiasi, penyaluran motor listrik Polytron menyumbang hampir sepertiga dari total subsidi yang digelontorkan pemerintah.
Artinya, dari sekitar 62 ribu unit motor listrik yang terjual pada 2023, tidak kurang dari 18 ribu unit merupakan produk Polytron. Posisi ini menjadikan Polytron sebagai penguasa pangsa pasar motor listrik terbesar di Indonesia, sekaligus bukti keunggulan strategi bisnis dan pemasaran mereka.
Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) juga mencatat, dari 2019 hingga 2023 total penjualan motor listrik mendekati 48 ribu unit. Angka ini menunjukkan betapa cepat pertumbuhan yang terjadi dalam dua tahun terakhir, dan Polytron konsisten menempati posisi terdepan di antara pemain lain, seperti Alva, Gesits, Viar, dan Selis.
Bahkan, AISMOLI memperkirakan penjualan motor listrik pada 2025 berpotensi menembus 200 ribu unit, tumbuh lebih dari tiga kali lipat dibandingkan realisasi 2024.
Data dari Kemenperin dan AISMOLI ini menunjukkan, meski ekosistem kendaraan listrik roda dua masih sangat muda, Polytron yang merupakan bagian dari Grup Djarum ini berhasil mengambil peran sebagai lokomotif utama yang mendorong pertumbuhan industri di Tanah Air.
Istijanto memberi catatan penting agar Polytron tetap melesat. “Polytron perlu menyematkan kelebihan yang sudah ada di produk elektroniknya ke motor listrik agar tercipta sinergi merek yang kuat. Komunikasi diferensiasi harus lebih masif, event-event viral marketing perlu dijalankan, dan pengalaman berkendara harus dibuat memorable,” katanya. Menurutnya, brand extension seperti ini juga membawa risiko bagi kategori lain, sehingga pengelola harus cermat menjaga reputasi induknya.
Kini, di usianya yang ke-50 tahun, Polytron sedang menulis babak baru dalam sejarahnya. Dari kulkas, televisi, hingga kini motor listrik, Polytron menunjukkan bahwa inovasi adalah napas panjang yang menjaga relevansi perusahaan di tengah arus perubahan.
Pasar sepeda motor listrik Indonesia mungkin masih muda, penuh ketidakpastian, dan rentan regulasi. Namun, Polytron membuktikan, dengan strategi cerdas, keberanian bereksperimen, dan dukungan brand yang kuat, masa depan bisa dijemput lebih cepat. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.