CEO Frisian Flag: Bahan Baku Lokal Masih Menjadi Tantangan Industri Dairy Product di Indonesia
Konsumsi susu dan produk turunannya menunjukkan tren peningkatan selama satu dekade terakhir, didorong naiknya kesadaran akan kesehatan, perbaikan ekonomi, dan pertumbuhan populasi.
Sayangnya, pertumbuhan konsumsi ini berbanding terbalik dengan produksi bahan baku susu segar dalam negeri (SSDN). Data menunjukkan SSDN hanya mampu memenuhi 20–40% kebutuhan nasional; sekitar 60–80% kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu masih dipenuhi melalui impor.
Data dan fakta tersebut disampaikan Gustavo Hildenbrand, President Director PT Frisian Flag Indonesia (FFI), dalam forum DNA Symposium Indonesia 2025 bertajuk “Indonesia & ASEAN Beyond 2025: Economic Outlook and Investment Pathways” pada Kamis (2/10) di Jakarta.
“Saat ini hanya satu dari lima liter yang dikonsumsi di Indonesia diproduksi secara lokal. Jadi, kami harus mengimpor 80% dari semua yang terkait dengan produk susu di Indonesia,” ungkap Hildenbrand.
Meski demikian, menurut Hildenbrand, FFI terus mendorong peningkatan produksi SSDN melalui Dairy Development Program yang dikembangkan sejak 2013 bersama induknya, FrieslandCampina.
Program ini bertujuan mendorong peternak lokal menerapkan praktik peternakan sus yang baik (Good Dairy Farming Practices — GDFP) secara konsisten, melalui pelatihan teknis untuk meningkatkan produktivitas (liter per ekor per hari) dan kualitas susu agar memenuhi standar industri. Peternak juga dikenalkan dengan konsep “dairy village”, yakni peternakan kolektif modern dan berkelanjutan.
“Saat ini sapi perah di Indonesia menghasilkan 13 liter per ekor per hari sedangkan di Belanda 36 liter per ekor per hari, jadi saya kira jalan yang ditempuh masih sangat panjang, meski demikian bukan berarti kita berhenti dan mengimpor saja, butuh investasi pada teknologi dan SDM serta insentif pemerintah untuk mewujudkan ini,” jelasnya.
Pada 2024, FFI — melalui induknya FrieslandCampina — menginvestasikan Rp 3,8 triliun untuk membangun pabrik baru di Cikarang, Jawa Barat. Menurut Hildenbrand, investasi ini merupakan yang terbesar dalam sejarah FrieslandCampina di Indonesia. Pabrik tersebut menyerap sekitar 400.000 kg susu segar setiap hari dan memiliki kapasitas produksi hingga 700 juta kg produk susu per tahun. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.