16 Saham di Indeks LQ45 Mencetak Kekayaan Untuk Investor, Saham Terafiliasi Prajogo Pangestu (BRPT) Top Gainer

Prajogo Pangestu masih menempati posisi pertama sebagai Orang Terkaya di Indonesia dengan harta sebanyak US$ 57,7 Miliar dari usahanya di bidang petrokimia. Ia merupakan putra pedagang karet dan memulai bisnis kayu pada akhir 1970-an.
Prajogo Pangestu. (Foto : Istimewa).

Sebanyak 16 dari 45 saham di indeks LQ45 memberikan imbal hasil sebesar 3% hingga 355%. Berdasarkan data PT Bursa Efek Indonesia dan Divisi Riset SWA, saham yang mencetak capital gain itu sebesar 3,5-355,3% pada 2 Januari hingga 10 Oktober 2025 (year to date) . Top 5 saham yang tertinggi memberikan kekayaan kepada investor itu adalah saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Saham BRPT mencetak imbal hasil sebesar 355,3%. Harga saham yang terafiliasi Prajogo Pangestu ini menjadi Rp4.280 pada 10 Oktober tahun ini. Harganya bertambah Rp3.340 dari Rp940 di 2 Januari 2025. Pada periode ini, harga saham SCMA melonjak sebesar 167,1% atau menjadi Rp446., Antam melejit 114,2%, PGEO terdongkrak 55,3%, dan MDKA yang tumbuh sebesar 48,6% atau menjadi Rp2.370.

Saham lainnya yang menjadi konstituen di indeks LQ45 turut memberikan imbal hasil dua digit. Saham tersebut adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), PT ASII Astra International Tbk (ASII), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT TLKM Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).

Sisanya, saham yang mencetak cuan satu digit, yaitu PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang capital gain-nya sebesar 5,9% dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di 3,5%.

Top Gainer Saham Indeks LQ45

null
Sumber : BEI dan diolah. Riset : Ayusha Sitepu/SWA.

Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information dan analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan, saham-saham konglomerasi yang menggerakkan IHSG sepanjang Januari–September 2025 itua memiliki kapitalisasi pasar kuat dan bobot indeks yang tinggi.

Sebaliknya, saham berkapitalisasi besar dari sektor tertentu, misalnya perbankan, cenderung tertekan oleh pertumbuhan kredit yang moderat. Saham perbankan juga mengalami koreksi harga seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS. “Investor price in terhadao penguatan saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat sebelumnya,” jelas Nafan seperti ditulis SWA.co.id di Jakarta, Senin (13/10/2025).

Indeks Harga Saham Gabungan per 10 Oktober tahun ini naik sebesar 16,64%.Sedangkan indeks LQ45 turun 4%. Sebanyak 29 saham di LQ45 yang harganya turun pada tahun berjalan itu berasal dari sektor perbankan, peritel, energi, properti, pakan ternak, jalan tol, teknologi, semen, dan farmasi.

Saham perbankan yang harganya menciut itu adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang turun 0,4%, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menyusut 5,4%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menukik di zona merah karena turun 11,4%, disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 13,5%, PT Bank Jago Tbk (ARTO) amblas sebesar 13,6%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) minus 25,3%, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tersungkur sebesar 27,4%.

Adapun, rata-rata transaksi harian Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan di 6-10 Oktober 2025 melonjak sebesar 12,48% atau menjadi Rp28,15 triliun dari Rp25,02 triliun pada pekan sebelumnya. Kemudian, peningkatan turut dialami oleh rata-rata frekuensi transaksi harian selama pekan ini yaitu sebesar 11,83%, menjadi 2,93 juta kali transaksi dari 2,62 juta kali transaksi pada pekan lalu.

"Sedangkan, kapitalisasi pasar BEI mengalami kenaikan sebesar 3,19% dan kembali mencatatkan rekor tertinggi menjadi sebesar Rp15.560 triliun dari Rp15.079 triliun pada sepekan sebelumnya," ujar Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia.

Pada periode itu indeks harga saham gabungan (IHSG) naik sebesar 1,72% menjadi 8.257,859 poin dari 8.118,301 poin. Selain itu, IHSG pada penutupan pekan ini juga merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Sedangkan, rata-rata volume transaksi harian BEI menyusut sebesar 14,88% atau menjadi 42,318 miliar lembar saham dari 49,717 miliar lembar saham.

Investor asing pada Jumat pekan lalu itu mencatatkan nilai beli bersih Rp728,91 miliar dan sepanjang tahun 2025 ini, investor asing mencatatkan nilai jual bersih Rp53,49 triliun.

Saham Fundamental

Pada kesempatan terpisah, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan hasil pertemuan antara Kementerian Keuangan, self regulatory organization (SRO), dan sejumlah perusahaan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (9/10/2025). Pertemuan tersebut membahas program-program ekonomi dan memastikan kesinambungannya, sekaligus menekankan penguatan perekonomian untuk mendorong percepatan pasar modal.

“Tadi direktur Bursa (BEI) juga minta insentif yang belum tentu saya kasih. Jadi saya bilang, akan saya berikan insentif kalau Anda sudah merapikan perilaku investor di pasar modal,” tegas Purbaya kepada awak media.

Ia mengatakan investor ritel masih kerap merasa dirugikan di tengah volatilitas saham emiten. “Artinya yang goreng-gorengan dikendalikan sama dia supaya investor kecil terlindungi, baru saya pikir insentifnya,” lanjutnya.

Selain itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar juga menuturkan pendalaman pasar modal penting untuk melindungi investor. Sementara di sisi perusahaan tercatat di BEI itu diwajibkan untuk meningkatkan tata kelola demi mengembalikan kepercayaan investor.

Mahendra menekankan pentingnya pendalaman pasar modal untuk melindungi investor sekaligus memperkuat kinerja bursa, antara lain melalui peningkatan tata kelola guna menjaga kepercayaan.

“Ke depannya, kami harapkan kebijakan yang dilakukan Kementerian Keuangan, nanti akan masuk kepada sektor riil, iklim investasi, memperbaiki langkah-langkah kepastian hukum yang akan dikoordinasikan bersama Kementerian Perekonomian,” tutur Mahendra.

Pembenahan tersebut dilakukan secara struktural dan berlanjut, mulai dari tingkat makro hingga tertentu. Dengan demikian, Purbaya optimistis IHSG diperkirakan dapat bergerak hingga ke level tertinggi atau all-time high dalam jangka panjang.

“Ke depannya, saya pikir IHSG akan cenderung naik terus, mungkin 10 tahun lagi seperti yang saya bilang tadi, in short IHSG to the moon,” tutur Purbaya. Purbaya menyebutkan penguatan ekonomi akan tercermin pada kinerja pasar saham, dan ia tetap optimistis IHSG menguat di masa mendatang.

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) September 2025, kinerja perdagangan saham sepanjang September 2025 didominasi oleh kontribusi investor domestik. Hal ini didukung dengan peningkatan kapitalisasi pasar dan level IHSG meningkat hingga 8.126,56 pada 24 September 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menjelaskan IHSG pada September tahun ini ditutup di level 8.061,06 poin, menguat 2,94% dari bulan sebelumnya (month to month/mtm). IHSG pada tahun berjalan (year to date) di akhir bulan lalu itu menguat sebesar 13,86% dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp14.890 triliun.

“IHSG dan nilai kapitalisasi pasar sempat mencatatkan all-time high karena IHSG mencapai level 8.126,56 pada 24 September 2025, dan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp14.995 triliun pada 29 September 2025,” jelas Inarno kepada awak media dalam pemaparannya di acara RDKB OJK secara daring, Kamis (9/10/2025).

Selain itu, Inarno memaparkan bahwa sektor yang mengalami peningkatan sepanjang September 2025 adalah sektor transportasi atau indeks IDXTrans. Likuiditas transaksi saham pada September 2025 terpantau meningkat, selaras dengan pengamatan manajemen OJK. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham pada September 2025 sempat tercatat rekor tertinggi sebesar Rp24,02 triliun per hari.

RNTH di Januari-September tahun ini tercatat sebesar Rp15,5 triliun. “Likuiditas transaksi saham pada September 2025 terpantau meningkat didominasi oleh investor individu domestik,” lanjut Inarno. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag