Prospek PGAS dan Target Harga Saham di tengah Kinerja yang Tertekan

null
Laba PGN diperkirakan menurun. (Ist)

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) diperkirakan membukukan penurunan laba sebesar 5,2% YoY menjadi US$322 juta pada 202 yang disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah akibat menurunnya volume perdagangan gas, penyempitan margin distribusi, serta penurunan volume lifting dan harga jual minyak dan gas (ASP).

Menurut hasil riset Mandiri Sekuritas, tantangan pasokan gas diperkirakan masih akan berlanjut dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kecuali pemerintah membuka akses impor LNG. Meski demikian, PGAS diperkirakan masih mampu memberikan imbal hasil dividen sekitar 10%. Rekomendasi tetap Netral dengan target harga diturunkan menjadi Rp1.600 per saham.

Diketahui bisnis gas PGAS belum sepenuhnya pulih karena pasokan dari Blok Corridor terus menurun secara alami. Di sisi lain, sebagian besar produksi LNG domestik telah terikat kontrak jangka panjang dengan pembeli luar negeri, sehingga PGAS hanya dapat mengakses LNG non-komitmen dengan harga lebih tinggi.

Kondisi ini menimbulkan tekanan tambahan karena pelanggan industri berupaya menegosiasikan ulang harga jual dan margin distribusi akibat selisih harga yang lebar dibanding gas pipa. Meski demikian, PGAS memperkirakan LNG akan berkontribusi sekitar 20% terhadap total pasokan perdagangan gas pada 2025.

Secara keseluruhan, margin distribusi diproyeksikan turun 14,7% YoY menjadi US$1,74 per MMBTU, sementara volume perdagangan gas diperkirakan melemah 2,0% YoY menjadi 835 BBTUD. Hal ini dapat menyebabkan penurunan laba kotor segmen perdagangan gas hingga 16,4% YoY. Namun, segmen pemrosesan, regasifikasi, dan transmisi gas masih menunjukkan prospek positif dengan pertumbuhan pendapatan antara 6–180% YoY berkat kenaikan volume 6–17% YoY.

Dari sisi anak usaha, Saka Energi menghadapi tekanan dari penurunan volume lifting minyak dan gas sebesar 17,2% YoY, yang terjadi di seluruh komoditas — minyak mentah, gas, LPG, dan LNG. Penurunan ini disebabkan rendahnya belanja modal dalam tiga tahun terakhir yang berdampak pada kinerja lapangan.

Selain itu, harga jual rata-rata untuk minyak, gas, dan LNG juga diperkirakan turun 3–15% YoY pada 2025. Dengan kondisi tersebut, Saka Energi diperkirakan membukukan rugi bersih sekitar US$4 juta pada 2025.

Secara keseluruhan, analis mempertahankan rekomendasi Netral untuk saham PGAS dengan target harga baru Rp1.600 per saham. Dalam jangka pendek, tekanan pasokan gas diperkirakan masih membatasi kinerja, sementara prospek Saka Energi yang tertekan akibat rendahnya investasi membuat ruang pertumbuhan laba PGAS terbatas. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag