IHSG Berpotensi Melanjutkan Pelemahan

IHSG Berpotensi Melanjutkan Pelemahan
Ilustrasi pergerakan indeks sektoral saham di Mainhall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada Jumat (19/9/2025). Foto oleh Nadia K. Putri/SWA

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah, seiring dengan sentimen negatif dari penutupan bursa saham Wall Street dan perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok. PT BRI Danareksa Sekuritas mencermati berbagai sentimen eksternal yang berdampak terhadap ekspektasi investor.

Misalnya, indeks saham di bursa Wall Street ditutup beragam. Misalnya Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 0,44% ke level 46.270,46, S&P 500 ditutup melemah 0,16% ke level 6.644,31, dan Nasdaq melemah 0,76% ke level 22.521,70.

Kemarin, IHSG ditutup melemah 1,95% ke level 8.066, dengan penjualan bersih dari investor asing (net foreign sell) mencapai Rp1,32 triliun. “Koreksi ini dipicu oleh aksi ambil untung investor serta rotasi portofolio menuju aset safe haven, seiring dengan ketidakpastian yang meningkat akibat ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda,” tulis tim periset BRI Danareksa Sekuritas di Jakarta, Rabu (15/10/2025).BRI Danareksa Sekuritas menjabarkan level support IHSG di 8.000 poin pada perdagangan Rabu ini.

PT CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan HSG melanjutkan pelemahannya. Adapun rentang level di kisaran support 7.855-7.960. Kemudian, di level resistance di 8.175-8.280 poin.

Periset di PT Phintraco Sekuritas mengamati defisit APBN di September mencapai 1,56% dari produk domestik bruto (PDB) atau sebesar Rp371,5 triliun. Anggaran ini melebar dari Agustus 2025 sebesar 1,35% dari PDB.

Sementara, pendapatan negara mencapai Rp1.863,3 triliun atau 65% dari target. Hal ini lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar Rp2.000,6 triliun. Realisasi belanja negara mencapai Rp2.234,8 triliun atau 63,4% dari target tahun ini.

Adapun keseimbangan primer mencapai Rp18 triliun, yang menurut Phintraco Sekuritas, pendapatan negara cukup membiayai belanja di luar pembayaran bunga utang. Ditambah lagi, investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) pada kuartal III/2025 diperkirakan turun 6%, dibandingkan sebelumnya 7% pada kuartal II/2025.

Hal ini membuat Phintraco Sekuritas menganalisis IHSG secara teknikal, melihat dari indikator Stochastic RSI—yaitu indikator pengukur momentum dan Moving Average Convergence Divergence (MACD)—yaitu indikator pengukur tren harga saham, mengalami death cross atau berubah dari tren naik (bullish) ke tren turun (bearish), disertai dengan kenaikan volume jual. Kemarin, IHSG ditutup di bawah level moving average (MA) MA5 dan MA20.

“Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi dan menguji level support di 7.950-8.000,” demikian penjabaran tim analis di Phintraco Sekuritas . (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag