Sampah Makanan Diarahkan Menjadi Bagian Ekonomi Sirkular Dukung Waste to Energy

Sampah Makanan Diarahkan Menjadi Bagian Ekonomi Sirkular Dukung Waste to Energy

Sampah makanan (food waste) di Indonesia masih menjadi isu lingkungan yang banyak diperbincangkan di Indonesia dan perlu diperhatikan lebih baik. Selama 5 tahun terakhir, sampah ini menjadi salah satu sampah yang terbesar di Indonesia.

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), sisa sampah makanan di Indonesia mencapai lebih dari 39%, mendominasi komposisi sampah terutama di kota. Persoalan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, karena faktanya 2,5 miliar ton sisa makanan terbuang secara percuma setiap hari di dunia.

Hal ini disampaikan Nani Hendiarti, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan, Kementerian Koordinator Bidang Pangan dalam Talkshow bertajuk “Selamatkan Pangan, Wujudkan Ketahanan Pangan dan Lingkungan Lestari” yang digagas oleh Kemenko Bidang Pangan, UNDP dan Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN-PSL) di ICE BSD City, Tangerang, pada Jumat (17/10/2025).

“Sampah ini tidak hanya mencerminkan pemborosan sumber daya seperti air, energi, dan lahan, tetapi juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca saat membusuk di tempat pembuangan akhir. Jika tidak ditangani dengan serius, sampah makanan bisa memperparah krisis lingkungan dan memperbesar jejak karbon secara global,” ujar Nani.

Berdasarkan data dari SIPSN KLHK, jumlah timbulan sampah makanan di Indonesia meningkat dalam 5 tahun terakhir. Tahun 2020 tercatat ada 11 juta ton, tahun 2021 ada 11 juta ton, tahun 2022 ada 11 juta ton , 2023 naik menjadi 17 juta ton dan tahun 2024 ada 12 juta ton.

Menurut Nani, kini pihaknya sedang mendorong agar sampah makanan menjadi bagian dari ekonomi sirkular, salah satunya adalah bekerjasama dengan bank sampah yang di masyrakat untuk menjadi pemasok PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).

“Presiden baru saja mengeluarkan Perpres nomor 109 tentang pengelolaan sampah perkotaan yang diarahkan menjadi bahan baku PLTSa, berikutnya kami juga sedang menyiapkan regulasi mungkin setingkat perpres juga untuk menangani food lost dan food waste ini,”ungkapnya.

Sementara itu, pembicara lainnya Caroline Aretha, Perencana Direktorat Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas mengatakan pihaknya sudah menyiapkan peta jalan pengelolaan susut dan sisa makanan yang menargetkan pengurangan susut dan sisa pangan sebesar 75% pada 2045. Menurut Caroline pengelolaan susut dan sisa pangan ini telah menjadi program prioritas pemerintah di bawah Asta Cita 2.

“indikatornya berapa susut dan sisa pangan yang dikurangi dan berapa yang diselamatkan melalui food bank, dan ini strateginya dimulai dari edukasi perubahan perilaku konsumsi, kemudian pembenahan penunjang sistem pangan dan penguatan regulasi dan optimalisasi pendanaan,” ujar Caroline.

Talkshow ini menghadirkan para pakar lintas sektor yang membahas keterkaitan antara pangan, gizi, dan lingkungan dari berbagai perspektif diantaranya Nita Yulianis, Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi, Badan Pangan Nasional, Hayu Prabowo, Ketua LPLH SDA MUI dan Foodbank of Indonesia.

Melalui diskusi ini, para narasumber menekankan pentingnya pengelolaan pangan yang efisien, pemanfaatan sampah organik secara produktif, serta kolaborasi lintas sektor dalam membangun sistem pangan dan lingkungan yang berkelanjutan.(*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag