Dari Buku ke Podcast: Rio Christiawan Hadir dengan Cromboloni & Co.

Rio Christiawan
Rio Christiawan - Pengagas Cromboloni & Co

Bayangkan croissant berlapis mentega yang renyah di luar, lalu bertemu bomboloni yang empuk dengan isian krim manis. Keduanya berpelukan dalam satu gigitan, lahirlah cromboloni—roti hibrida yang dalam beberapa tahun terakhir jadi bintang etalase bakery dan feed Instagram. Campuran rasa sederhana, tapi bikin senyum.

Sekarang, bayangkan rasa itu dijadikan nama sebuah podcast: Cromboloni & Co.

“Cromboloni” di sini bukan sekadar nama manis. Ia metafora tentang pluralisme: sesuatu yang tercipta dari banyak unsur, saling melengkapi, dan paling enak bila dinikmati bersama-sama. Sementara “& Co.” adalah siapa pun yang duduk semeja—teman, pendengar, atau narasumber—yang menambah lapisan makna dalam obrolan.

Cromboloni & Co. adalah siniar kolaborasi Rio Christiawan bersama SWA. Rio, penulis kreatif yang ramah dan lama berkawan dengan tema kebhinekaan, memilih nama ini bukan untuk lucu-lucuan. Baginya, cromboloni adalah cara sederhana untuk menjelaskan pluralisme. Hobi traveling dan menulis membuatnya gemar mengumpulkan serpih-serpih cerita: obrolan random di kedai kopi, ritual lokal yang “sepele tapi nancep,” atau isyarat kecil di jalan. Kombinasi itulah bahan bakar Cromboloni & Co.

Obrolan ringan dengan makna mendalam tentang budaya dan keragaman—persis seperti cromboloni.

Motivasi Rio sederhana tapi menantang: menyebarkan pluralisme dengan bahasa sehari-hari yang ramah, terutama bagi Gen Z. Kuliah teori, katanya, sering “ngantukable” (bikin mengantuk). Sementara cerita santai, intim, dan relatable jauh lebih mudah menempel. Itulah mengapa podcast dipilih: piknik kultural lewat telinga, bisa didengar di TransJakarta, di treadmill, atau sambil menyeduh kopi.

null

Isi Cromboloni & Co. dijanjikan “ringan tapi dalam.” Ada mini travelog, benda-benda kecil yang memantik ingatan, momen historis yang dibikin sederhana, hingga konsep budaya yang dibumikan. Setting-nya lintas daerah dan lintas negara yang dijelajahi Rio, supaya pendengar merasakan lapisan manis yang berbeda-beda—persis seperti cromboloni: tiap gigitan punya cerita.

Tujuan besarnya jelas: menyalakan kesadaran bahwa menerima keberagaman itu lebih menyenangkan daripada menolaknya. Karena pluralisme adalah bagian alami dari hidup. Hidup adalah pertemuan perbedaan yang berdampingan—dan kuncinya bukan benar-salah, melainkan cara pandang agar perbedaan bisa duduk bersisian tanpa kehilangan karakter.

Enam episode mini seri ini ditata dengan ritme ala cerita: ada “meet-cute” (perkenalan menyenangkan), “false-belief” (gesekan di tengah), dan “ending” (penutup yang menenangkan). Dengan nada hangat dan pop, Rio memilih referensi akrab—film, musik, kebiasaan harian, sampai “debat receh” macam bubur diaduk atau tidak—supaya pendengar mudah terhubung.

Bagi Rio, “& Co.” adalah kita semua: komunitas yang melengkapi. Cromboloni enak karena ada perekat di tengah. Begitu pula pluralisme: indah bila ada yang menyatukan.

Harapannya sederhana: orang mendengar dengan kepala ringan, lalu hatinya lebih lega. Saat bertemu perbedaan, pertanyaan yang muncul bukan “kok beda?”, melainkan “apa yang bisa kunikmati dari perbedaan ini?”.

Cromboloni & Co. adalah pengingat bahwa kebhinekaan, bila dirayakan, membuat hidup lebih manis, lapis demi lapis—persis seperti cromboloni.

Penasaran? Ikuti mini series-nya di YouTube @swamediainc mulai 25 Oktober 2025.§

# Tag