OCBC Sekuritas Prediksi Sektor Bank, Komoditas, dan Konsumer Bakal Topang IHSG di 2026

OCBC Sekuritas Prediksi Sektor Bank, Komoditas, dan Konsumer Bakal Topang IHSG di 2026
Ilustrasi gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX) di Jakarta, pada 5 Desember 2024. Foto oleh Nadia K. Putri/SWA

OCBC Sekuritas Indonesia (TAPI) mencermati sektor-sektor yang berpeluang cerah untuk menopang indeks harga saham gabungan (IHSG) pada tahun 2026. Sektor tersebut adalah perbankan, komoditas, dan konsumer.

Head of Research OCBC Sekuritas, Budi Rustanto menjelaskan, IHSG diproyeksikan bergerak ke level 8.000 hingga 8.300 pada tahun 2026. Perbankan, menjadi salah satu sektor yang akan menguatkan (bullish) IHSG karena pertumbuhan ekonomi negara diperkirakan mencapai 5%-6%. Dari sisi fiskal, Budi menyoroti kucuran dana fiskal akan menjaga daya beli masyarakat, sehingga ini mendorong perekonomian negara.

Budi juga mengamati, bahwa inisiatif investasi dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan bergerak agresif tahun 2026.

“Dua sektor utama dari pertumbuhan ekonomi yaitu konsumsi dan investasi seharusnya berjalan dengan baik, didukung oleh kebijakan moneter,” jelas Budi kepada awak media saat doorstop di Jakarta pada Jumat (24/10/2025).

Dengan kebijakan moneter yang longgar, misalnya dengan pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BJ), ini diharapkan mendorong kinerja perbankan. Pertumbuhan ini dimulai dari kenaikan kualitas, aset, volume, dan margin.

Meskipun demikian, Budi mencermati bahwa sektor perbankan sebagian besar mengalami penurunan, kecuali bank-bank swasta besar.

“Tahun depan adalah tahun perbaikan untuk perbankan,” lanjut Budi.

Kedua, sektor konsumsi dan retail diharapkan mendorong penguatan IHSG tahun depan. Ini salah satunya dipicu stimulus-stimulus dari pemerintah melalui Kementerian Keuangan.

Ketiga, sektor komoditas atau barang baku juga akan mendorong IHSG tahun depan. Namun hanya sebagian komoditas yang menguat. Misalnya, emas karena permintaan yang tinggi dan tembaga karena keterbatasan pasok, tetapi permintaannya tinggi.

Budi menambahkan, sektor energi, khususnya pengolahan sampah menjadi energi juga potensial. Namun, Budi menyoroti bahwa bisnis baru ini masih perlu pengembangan lebih lanjut.

Pada Senin (27/10/2025), IHSG dibuka menguat ke level 8.322,22, dengan level tertinggi di level 8.354,67. Saham-saham yang menggerakkan IHSG berasal dari sektor beragam, yaitu barang konsumen primer, transportasi dan logistik, properti, energi, barang konsumen non-primer (siklikal), barang baku, dan perindustrian.

Sementara Jumat lalu, IHSG ditutup melemah 0,03% di level 8.271,7. Sektor penekan IHSG saat itu berasal dari sektor energi dan barang baku. Namun, sejumlah sektor mengalami pemulihan akibat aksi pembelian investor asing (net buy) ke saham-saham likuid, berkapitalisasi besar, dan memiliki fundamental baik atau blue chip melalui indeks LQ45.

Selain itu, selama sepekan lalu, investor asing kembali net buy ke saham-saham blue chip selama beberapa pekan sebelumnya.

“Kami [melihat], tahun ini sekitar Rp50 triliun [asing] keluar. Tahun depan kami harapnkan inflow [aliran dana masuk] masuk. Kalau inflow masuk, itu akan membawa efek kepada saham-saham blue chip,” tutup Budi. (*)

# Tag