Mathieu Flamini: Dari Gelandang Lapangan Hijau ke Mogul Bisnis Biokimia
Siapa yang menyangka, nama Mathieu Flamini yang dulu dikenal sebagai gelandang enerjik di Arsenal dan AC Milan dengan tekel serta pressing-nya, kini lebih sering dibicarakan di ruang rapat kimia hijau daripada di lapangan hijau. Dan seiring itu, label “pesepakbola terkaya” pun terus menempel padanya, terutama sejak bisnis biokimianya meroket, serta membuatnya sering tampil mewakili agenda transisi berkelanjutan.
Isu kekayaan tampak wajar mengingat ia beralih dari atlet menjadi pengusaha. Namun yang lebih menarik dari sekadar label "mantan atlet yang kaya raya" adalah: bagaimana ia membangun mesin bisnis yang kini melambungkan namanya di jajaran pebisnis top?
Pindah Lintasan
Akhir Oktober 2025. Flamini terlihat di Buckingham Palace, London, menghadiri forum yang terkait Circular Bioeconomy Alliance: platform yang digagas untuk mempercepat ekonomi sirkular berbasis hayati. Tak ayal, momen itu kembali menyoroti kisahnya sebagai atlet yang pindah lintasan ke dunia sains, teknologi, dan investasi berkelanjutan.
Sebelum terlalu jauh, perlu diluruskan ihwal “kekayaan” tadi. Beberapa media populer kerap menulis angka fantastis (£10 miliar atau setara Rp218 triliun). Tapi Flamini membantahnya langsung. Kelahiran Marseille, 7 Maret 1984 ini menegaskan angka miliaran euro itu salah kaprah. Menurutnya, itu menggambarkan besaran pasar yang dibidik, bukan isi rekening pribadinya. Intinya, ia bukan “mendadak triliuner”, dan ia sendiri merasa perlu meralat kabar yang terlanjur viral.
Berapa persisnya kekayaannya, tak terkonfirmasi jernih. Yang jelas, terlepas dari sas-sus valuasi, yang nyata adalah fondasi bisnisnya: GFBiochemicals (GFBio), perusahaan biokimia yang ia dirikan bersama Pasquale Granata pada 2008 untuk memberi alternatif nabati bagi bahan kimia berbasis fosil. Di sinilah akar dari kisah kekayaan itu. Bukan pada sensasi, melainkan pada teknologi.
GFBio mulanya berjalan biasa. Oh ya, di tahun 2008 itu, Flamini baru saja bergabung AC Milan setelah meninggalkan Arsenal (2004-2008).
Titik balik GFBio terjadi pada 2015 ketika pabrik di Caserta, Italia, mulai memproduksi levulinic acid (LA) pada skala komersial, molekul platform yang bisa menjadi batu bangun bagi berbagai turunan kimia. Kapasitas desain fasilitasnya disebut 10.000 ton per tahun, sebuah loncatan untuk industri bio-based.
Mengapa LA penting?
LA itu gampangnya bahan kimia dasar yang dibuat dari biomassa atau limbah pertanian (bukan dari minyak), dan karena sifatnya “molekul platform” dia bisa diolah lagi jadi banyak produk — mulai dari pelarut untuk pembersih, bahan tambahan cat/coating, sampai bahan kimia yang lebih ramah lingkungan untuk rumah tangga — jadi satu bahan bisa masuk ke banyak industri sekaligus.
Nah, ketika pabrik GFBiochemicals di Caserta berhasil memproduksi LA dalam skala besar dan stabil, itu jadi titik balik karena artinya mereka bukan cuma punya ide hijau, tapi sudah punya “adonan utama” yang bisa dikembangkan jadi lini produk bio-based yang nilainya lebih tinggi.
Klaim “yang pertama di dunia” memproduksi LA langsung dari biomassa pada skala komersial juga mengundang perhatian industri kimia global. Caserta pun kerap disebut sebagai pabrik LA operasional terbesar di dunia pada masa awalnya.
Agar tidak berhenti di bahan baku, GFBio memilih strategi integrasi ke hilir. Pada 2016, perusahaan mengakuisisi aset dan portofolio paten Segetis, termasuk teknologi ketal Javelin, untuk mempercepat komersialisasi turunan LA di berbagai pasar.
Di sisi teknologi, GFBio menaruh payung merek RE:CHEMISTRY, platform levulinate dengan proteksi kekayaan intelektual luas (ratusan paten) untuk pelarut, poliol, dan plasticizer. Bahasa sederhananya: ini adalah “mesin resep” yang mengubah molekul dasar nabati menjadi bahan berperforma tinggi bagi industri.
Langkah besar lain hadir pada 2020: GFBio membentuk joint venture NXTLEVVEL Biochem bersama Towell Engineering Group. Targetnya ambisius, yakni membangun kapasitas industri untuk pelarut dan plasticizer hayati hingga puluhan ribu ton per tahun, menyasar pasar pembersih, perawatan pribadi, coating, hingga pertanian.
Plasticizer di sini maksudnya bahan campuran yang bikin plastik atau lapisan cat jadi lebih lentur dan tidak kaku. Jadi, GFBio lewat kerja sama itu ingin membuat versi plasticizer yang sumbernya dari bahan nabati (bukan dari minyak), supaya bisa dipakai di produk pembersih, perawatan tubuh, cat, sampai pertanian.
NXTLEVVEL lalu meluncurkan lini NXT SOLV, keluarga pelarut biobased (levulinates dan levulinate ketals) seperti NXT SOLV 100 (ethyl levulinate) dan NXT SOLV 200 (butyl levulinate). Fungsinya luas: dari carrier, coalescing agent, hingga degreaser, dengan profil EHS (environment, healthy, safety) yang lebih bersahabat.
Sederhananya: dalam produk itu, carrier adalah cairan yang tugasnya membawa dan menyebarkan bahan utama. Coalescing agent adalah bahan yang membantu cat atau lapisan jadi menyatu halus saat kering. Degreaser adalah pembersih untuk kotoran minyak dan lemak. Sementara profil EHS yang lebih bersahabat artinya bahan ini lebih ramah lingkungan, lebih aman buat kesehatan, dan lebih aman dipakai di pabrik.
Kolaborasi Global
Untuk mempercepat adopsi, NXTLEVVEL merajut kanal distribusi kelas dunia. Di Amerika Utara, Brenntag meneken perjanjian distribusi pada 2021 untuk memasukkan produk NXT SOLV ke portofolio HI&I mereka.
Di Eropa, BTC Europe (organisasi distribusi BASF) juga bermitra dengan NXTLEVVEL pada 2022 guna memasarkan pelarut hayati berbasis LA di seluruh kawasan. Ini memberi akses pasar dan kredibilitas rantai pasok yang lebih luas.
Perlahan tapi pasti, GFBiochemicals makin berkibar. Tanda-tanda penerimaan industri makin kentara: perusahaan speciality seperti Elementis menggandeng NXTLEVVEL untuk mengembangkan pelarut biobased bagi cat dan coating, segmen yang menuntut performa teknis tinggi.
Di balik ekspansi, GFBio juga mengamankan permodalan: pada 2022, Sofinnova Partners memimpin pendanaan €15 juta untuk mendorong misi “mengakhiri polusi kimia” dan mendorong substitusi bahan berbahaya di produk sehari-hari.
Pada periode yang sama, Flamini resmi menjabat CEO GFBio. Dalam satu wawancara, ia menekankan urgensi mengganti bahan kimia bermasalah dengan alternatif nabati yang aman dan terdegradasi alami, sebuah narasi yang nyambung dengan regulasi Eropa yang kian ketat.
Misi dan Ekspansi
Bagi Flamini, ini bukan sekadar investasi; ini misi. Perpaduan latar atlet — yang terbiasa dengan disiplin, pengulangan, dan eksekusi — dengan visi sains membuatnya nyaman berbicara di panggung ESG maupun ruang-ruang teknis.
Secara strategi, GFBio tak hanya menjual “bahan baku hijau.” Mereka mendorong adopsi turunan bernilai tambah (solvents, ketals, plasticizers) yang langsung masuk ke formulasi manufaktur (dari deterjen hingga coating), sehingga nilai ekonominya lebih tebal dan pengaruh substitusinya lebih cepat terasa.
Sinergi riset-komersial itu terlihat dari kolaborasi lintas rantai pasok: dari pabrikan resin/coating, distributor global, hingga produsen petrokimia yang mengeksplorasi pasar pelarut terbarukan di Amerika Latin. Semuanya memperluas jalur difusi teknologi.
Momentum makro juga berpihak. Industri kimia tengah berada di bawah dorongan kebijakan dan preferensi pasar untuk mengurangi jejak karbon serta bahan toksik. Ini membuat proposal nilai “defossilisation” GFBio terasa tepat waktu, bukan sekadar wacana.
Di luar kimia, Flamini juga mengeksplorasi bisnis kesehatan: bersama mantan pemain Arsenal lain yang juga sahabat dekatnya, Mesut Özil, mereka meluncurkan UNITY, merek suplemen yang dikembangkan bersama ilmuwan University of Westminster. Kolaborasi ini menggabungkan sudut pandang atletik, riset nutraseutikal, dan komersialisasi.
Keterlibatan akademik bukan kosmetik: UNITY diposisikan sebagai rangkaian suplemen berbasis bukti (evidence-based) untuk performa dan pemulihan, menandai pola pikir Flamini menggabungkan reputasi atlet dengan validasi sains.
Semakin sering tampil di forum transisi hijau, dari Circular Bioeconomy Alliance hingga jaringan Sustainable Markets Initiative, Flamini memosisikan dirinya sebagai “penerjemah” antara industri, pembuat kebijakan, dan publik. Ia menjual cerita tentang masa depan bahan kimia yang aman dan sirkular.
Apakah semua ini otomatis menjadikannya pesepakbola terkaya, yang bahkan disebut bisa membeli mantan klubnya, Arsenal?
Tidak sesederhana itu. Ia sendiri — seperti disinggung di atas — sudah menampik angka fantastis yang kerap berseliweran, sebuah reminder bahwa valuasi media populer tak sama dengan akuntansi realitas. Yang jelas: bisnisnya nyata, teknologinya riil, dan kemitraannya kredibel.
Justru daya tarik cerita Flamini ada pada jalur yang ia pilih: alih-alih butik fesyen atau restoran seperti yang dilakukan banyak pesepakbola atau mantan atlet, ia terjun ke “dapur” industri kimia — sektor yang jarang dilirik atlet — dan mendorong substitusi bahan petrokimia dengan molekul nabati yang bisa diukur dampak lingkungannya.
Singkatnya, “kekayaan” Flamini — apa pun angka pastinya — adalah efek samping dari serangkaian keputusan bisnis yang konsisten: membangun bisnis, menutup celah hilir, menggandeng operator distribusi global, dan memanfaatkan arus regulasi yang mengarahkan pasar ke bahan yang lebih aman.
Dan kalau label “pesepakbola terkaya” itu masih tetap melekat, biarlah publik menyederhanakannya. Di baliknya ada pelajaran yang lebih berharga: seorang atlet bisa memindahkan disiplin kompetisi ke sains-bisnis, lalu selangkah demi selangkah menggeser industri menuju masa depan yang lebih bersih.
Pada akhirnya, cerita Flamini adalah tentang nilai yang diciptakan, bukan angka yang digembar-gemborkan. Ketika molekul kecil dari limbah pertanian bisa menjadi kunci mengubah formulasi produk sehari-hari, mungkin inilah “gol” paling penting dalam kariernya: gol yang dicetak di pabrik, lab, dan ruang rapat. (*)
Diolah dari berbagai sumber
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.