Setelah “Hibernasi”, Bakso Boedjangan Siap Comeback: Rasa Di-upgrade, Pengalaman Di-refresh

Fachmi Jaidi, Head of Partnership and Business Development CRP Group (tengah). (Foto: Darandono/SWA)
Fachmi Jaidi, Head of Partnership and Business Development CRP Group (tengah). (Foto: Darandono/SWA)

Bakso Boedjangan pernah berada di masa pertumbuhan sangat cepat dan sempat menjadi salah satu pemain yang ikut mendorong tren bakso modern di kalangan anak muda. Sejak berdiri pada 2015, brand ini berkembang berkat konsep yang berbeda, pilihan menu yang variatif, dan pengalaman makan yang cocok untuk segmen perkotaan.

Fase tertingginya terjadi sebelum pandemi, ketika gerai hadir di berbagai kota besar dan menjadi salah satu tujuan kuliner keluarga maupun komunitas. Pandemi COVID-19 kemudian mengubah situasi. Pembatasan makan di tempat, penurunan mobilitas, dan pergeseran pola konsumsi membuat bisnis yang mengandalkan pengalaman dine-in harus melakukan penyesuaian. Gerai demi gerai ditutup.

Menjawab perubahan itu, Bakso Boedjangan memilih “hibernasi”, menata ulang model layanan, dan meluncurkan kembali konsep menikmati bakso dengan penekanan pada rasa, pengalaman di outlet, dan konsistensi kualitas.

Menurut Fachmi Jaidi, Head of Partnership and Business Development CRP Group, konsep baru ini mengombinasikan produk yang ditingkatkan dengan suasana outlet yang lebih kekinian.

Menurutnya, konsep baru ini memadukan bakso yang semakin enak dengan outlet yang lebih modern dan nyaman, sehingga para pencinta kuliner, terutama Gen Z, tak ragu untuk datang berkali-kali. Ia menambahkan, dalam konsep baru ini Bakso Boedjangan memprioritaskan tiga hal: rasa, pelayanan pelanggan, dan kualitas bahan bermutu.

“Konsep baru Bakso Boedjangan ini kami hadirkan untuk menjawab permintaan pasar terutama pelanggan setia dan Gen-Z terkait varian bakso yang lebih beragam dan ingin memberikan rasa autentik Bakso Boedjangan sebagai apresiasi kepada para pelanggan setia. Dengan konsep baru ini, pelanggan akan merasakan peningkatan cita rasa yang signifikan dari kuah hingga topping,” tutur Fachmi yang belum bersedia memberi informasi di mana Bakso Boedjangan akan kembali hadir.

Di sisi produk, Bakso Boedjangan menghadirkan rasa yang lebih kuat dan tekstur bakso yang lebih berisi. Variannya juga diperluas, mulai dari bakso isi daging cincang, bakso isi keju yang dibuat lebih lumer, sampai isian yang mengikuti selera konsumen muda.

Kuah — yang menjadi elemen penting dalam bakso — diolah dengan rempah dan bahan segar untuk menghasilkan rasa gurih yang konsisten. Ada tiga pilihan kuah utama: Kuah Kaldu yang gurih dan kaya rempah hasil rebusan lama; Kuah Taichan yang pedas segar; serta Kuah Keju yang creamy dengan sentuhan gurih lembut. Pilihan ini memberi ruang bagi pelanggan untuk menyesuaikan selera tanpa mengubah karakter utama produk.

Menu populer seperti Paket Bakso Telur, Paket Bakso Tahu, Paket Bakso Membara hingga Paket Iga tetap dipertahankan, tetapi kini disajikan dengan tampilan mangkuk dan plating yang lebih modern. Sambal pedas khas Boedjangan tetap disediakan sebagai pelengkap bagi pelanggan yang menginginkan sensasi pedas lebih kuat.

Chef Kiky, Product and Research Development Manager CRP Group, menegaskan bahwa fokus pengembangan kali ini ada pada rasa dan bahan baku. “Kami memperkuat rasa kuah dan tekstur daging agar pelanggan bisa langsung merasakan perbedaannya sejak suapan pertama. Setiap mangkuk Bakso Boedjangan dibuat dengan perhatian pada keseimbangan rasa dan kualitas bahan,” ungkapnya.

Sejalan dengan pembaruan menu, desain outlet juga diperbarui agar lebih fungsional dan nyaman. Interior dibuat lebih modern dan hangat, dengan dukungan sistem pemesanan digital yang memungkinkan pelanggan memesan dari meja tanpa harus mengantre. Pembaruan ini terutama diarahkan untuk menyesuaikan dengan perilaku makan generasi muda yang mengutamakan kepraktisan.

Dengan pembaruan di produk, layanan, dan suasana outlet, Bakso Boedjangan berupaya menjaga relevansi setelah satu dekade beroperasi. Arah komunikasinya tidak hanya menonjolkan “bakso kekinian”, tetapi menjawab kebutuhan konsumen yang ingin rasa tetap kuat, kualitas terjaga, dan pengalaman makan yang lebih efisien.

Meski demikian, pembaruan ini tetap perlu diuji di level operasional: apakah cita rasa dan kualitas bahan bisa konsisten di seluruh gerai, apakah harga masih masuk akal untuk segmen utamanya, dan apakah diferensiasi ini cukup kuat di tengah pasar kuliner yang sangat cepat meniru. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag