Siapa Penguasa Baru Internet Murah di Indonesia?
Pemerintah menunjuk dua pemenang lelang jaringan Internet cepat dan murah. Peluang untuk menguasai infrastruktur teknologi.
PERSAINGAN penyedia jaringan Internet di Indonesia bakal makin ramai. Ini terjadi setelah pemerintah menunjuk "pemain baru" sebagai penyedia layanan Internet pita lebar atau broadband wireless access (BWA) pada frekuensi 1,4 gigahertz (GHz), yang digadang-gadang sebagai jaringan Internet cepat dengan biaya murah.
Dua pemenang lelang itu adalah PT Eka Mas Republik dan PT Telemedia Komunikasi Pratama. Eka Mas Republik, dikenal dengan merek atau jenama MyRepublic, memenangi lelang untuk regional II dan III dengan cakupan wilayah Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.
Sedangkan Telemedia Komunikasi Pratama, yang memegang merek Viberlink, memenangi lelang regional I yang mencakup Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur, dan Papua. Dua perusahaan ini mengalahkan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk selaku pemain lama dan pemilik jaringan yang lebih luas.
Berdasarkan keterangan Kementerian Komunikasi dan Digital, dari sepuluh penyelenggara jaringan Internet, ada tujuh yang mengambil dokumen seleksi dalam lelang pita frekuensi 1,4 GHz. Belakangan tersisa lima perusahaan yang mengajukan dokumen permohonan seleksi, yaitu Telkom, Eka Mas Republik, Telemedia Komunikasi Pratama, PT Indosat Tbk, dan PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk.
Dalam proses pemeriksaan, Indosat dan XL Smart memutuskan mundur. Lelang pun berakhir pada 15 Oktober 2025 dengan kemenangan Eka Mas serta Telemedia Komunikasi Pratama.
Bagi pemerintah, lelang ini penting karena menjadi bagian dari program penyediaan Internet murah yang menjangkau wilayah terjauh. Frekuensi 1,4 GHz, yang masuk kategori gelombang rendah, memiliki cakupan wilayah yang lebih luas hingga 5 kilometer ketimbang gelombang tinggi dengan cakupan radius 300-an meter.
Dengan jangkauan tersebut, pengelola jaringan ini bisa beroperasi lebih efisien karena kebutuhan menara base transceiver station yang tak sebanyak frekuensi tinggi.
Kementerian Komunikasi dan Digital menggelar lelang frekuensi 1,4 Ghz untuk mendukung pemerataan sambungan internet rumah atau fixed broadband. Seturut data kementerian, pada 2024 penetrasi sambungan fixed broadband baru mencapai 21,3 persen dari total 69 juta rumah tangga.
Penyedia frekuensi 1,4 GHz diberi mandat untuk menutup celah itu dengan menawarkan kecepatan sambungan cepat, minimal 100 megabita per detik (Mbps), dan harga langganan Rp 100 ribu per bulan.
Kedua perusahaan pemenang lelang pun bersiap mengembangkan jaringan dengan menggandeng sejumlah mitra. Kemenangan ini membuka peluang bagi keduanya untuk menjadi penguasa baru jaringan Internet cepat berbiaya rendah, dengan prospek puluhan juta pelanggan rumah tangga.
Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital juga kembali akan melelang dua jaringan Internet BWA, yaitu frekuensi 2,6 GHz dan 700 Megahertz. Lelang ini berlangsung setelah pemerintah menyelesaikan penataan ulang spektrum gelombang atau refarming.
Sumber: Tempo.co
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.