Intip Jurus Astra Agro (AALI) Mengoptimalkan Teknologi, Mencetak Profit dan Menjaga Kelestarian Perkebunan Sawit
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjelma menjadi salah satu raksasa agrobisnis dan masuk dalam jajaran perusahaan perkebunan kelapa sawit besar swasta di Indonesia. Meski demikian, AALI tidak lantas terlena, ditengah perubahan teknologi yang sangat cepat saat ini, sigap beradaptasi adalah kunci keberlanjutan bisnis.
Sejak 2017, AALI telah memulai langkah awal transformasi digital. Perseroan mengembangkan beberapa aplikasi berbasis teknologi informasi untuk membantu manajemen operasional di kebun dan pabrik.
Ada empat aplikasi penting yang dihasilkan dari Project Xpro (Excelent Productivity) ini, yakni Melli (Mill Excellent Indicator), Amanda (Aplikasi Mandor Astra Agro), serta Dinda (Daily Indicator of Astra Agro) dan yang terbaru adalah SISKA (Sistem Informasi Kemitraan).
Melli (Mill Excellent Indicator) menjadi andalan Astra Agro untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Aplikasi ini digunakan untuk memasok data secara cepat dan akurat mengenai kondisi aktual di pabrik kelapa sawit. Melli membantu pekerjaan para supervisor proses.
Sebelum Melli diterapkan, AALI belum memiliki laporan tentang kondisi pabrik secara real time sehingga muncullah ide dibentuknya aplikasi Melli untuk memfasilitasi pengiriman kondisi parameter station dan mesin di pabrik mendekati real time.
Cara penggunaannya adalah meng-input data atau laporan dengan menggunakan gadget yang disediakan oleh Tim IT (Information Technology) dan dilakukan 1x per jam untuk masing-masing mesin.
Hasil dari proses input tersebut akan ditampilkan di kantor pusat dalam bentuk dashboard, yang dapat dilihat oleh semua departemen (function) dalam perusahaan. Setiap supervisor proses wajib meng-input data atau laporan ke dalam aplikasi Melli setiap satu jam.
Berikutnya, Amanda (Aplikasi Mandor Astra Agro). Aplikasi ini dirancang untuk menjawab tantangan pelaksanaan kegiatan operasional. Sebelumnya, kegiatan operasional di lapangan kerap tidak sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang sudah ditetapkan. Dengan adanya Amanda, kegiatan operasional dapat dipantau agar sesuai dengan SOP.
Semua kegiatan rutin mandor panen sudah ada di dalam aplikasi ini. Mulai dari absen pemanen, rangkaian SIC (Short Interval Control), hingga mendapatkan laporan dari krani (checker) melalui integrasi data antara aplikasi TBS Kalkulator Astra (Tika) dan Amanda Panen. Dengan demikian, mandor panen bisa lebih fokus ke lapangan dan tidak terjebak dengan urusan administrasi yang sebelumnya sering mereka lakukan.
Ada lagi Amanda Tanaman. Aplikasi ini dibuat dengan tujuan mempermudah mandor 1 tanaman dalam melakukan pekerjaan rutin hariannya. Melalui aplikasi ini, mandor 1 tanaman mengetahui apa yang harus dilakukan dan yang sudah dilakukan secara rutin.
Semua kegiatan rutin mandor 1 tanaman sudah berada di aplikasi ini, seperti absensi mandor, rangkaian SIC (Short Interval Control) pemanen dan infield (pekerja lapangan), serta pengisian Meeting Optimis. Dengan demikian, semua pekerjaan di afdeling (satuan terkecil dari sebuah organisasi besar perusahaan kelapa sawit) tercatat dalam genggamannya.
Berikutnya adalah Dinda (Daily Indicator of Astra Agro). Salah satu deskripsi pekerjaan dari seorang asisten adalah membuat laporan. Laporan tersebut tentu saja berisi pekerjaan apa saja yang sudah dikerjakan oleh seorang asisten sesuai dengan deskripsi tugas dan tanggung jawabnya.
Tak jarang, laporan yang sudah dibuatnya itu memiliki kendala dalam waktu penyampaian kepada manajemen puncak atau jajaran direksi. Padahal, kecepatan penyampaian informasi ini menjadi salah satu penentu pengambilan keputusan manajemen puncak.
Dinda menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kendala waktu tersebut, karena aplikasi ini menggunakan smartphone. Dengan demikian, asisten bisa melaporkan pencapaian hariannya sebagai bahan refleksi di akhir hari.
Ada dua tujuan utama dengan digunakannya aplikasi Dinda. Pertama, menggerakkan kontrol berjenjang dari level asisten ke atas; jika ada yang tidak sesuai norma, diharapkan asisten dapat langsung menginformasikan ke atasannya, bahkan sebelum ditanya. Kedua, mendapatkan informasi dari asisten secara cepat dan tepat; data yang dilaporkan langsung diterima oleh dewan direksi.
Yang terbaru adalah Siska 2.0, aplikasi ini baru diluncurkan pada Januari 2024 lalu. Siska 2.0 dibuat untuk mempermudah transaksi TBS dari pihak ketiga misalnya petani plasma dan smallholder serta meningkatkan transparansi, dan efisiensi.
Sistem ini merupakan sistem pelacakan berbasis aplikasi yang memungkinkan penelusuran TBS hingga ke sumbernya. Siska 2.0 menjadi solusi bagi petani untuk memesan slot pengolahan TBS-nya di PKO AALI secara daring sehingga terhindar dari waktu antri yang lama.
Untuk memperkuat pemantauan lapangan, Astra Agro menerapkan drone monitoring dan digital field mapping berbasis citra satelit. Teknologi ini digunakan untuk memantau kondisi tanaman, mendeteksi area rawan, serta melakukan penjadwalan pemeliharaan tanaman secara lebih presisi dan efisien.
Semua aplikasi yang dibuat Astra Agro tersebut dipadukan melalui Operation Center of Astra Agro (OCA), sebuah sistem induk yang dikembangkan berbasis teknologi informasi yang mampu memberikan semua informasi dari semua operasi Astra Agro di seluruh Indonesia secara real time. Dengan sistem ini, feedback terhadap proses yang berlangsung di lapangan bisa lebih cepat sehingga bisa langsung ditindaklanjuti.
Presiden Direktur AALI, Djap Tet Fa, mengatakan fokus AALI tidak hanya pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga pada efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan jangka panjang.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap hektar lahan yang dikelola memberikan hasil optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan sosial dan lingkungan. Dengan inovasi dan komitmen, kami ingin menunjukkan bahwa keberlanjutan dan profitabilitas dapat berjalan beriringan,” ungkapnya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, seperti ditulis SWA.co.id pada Minggu (2/11/2025).
Pada kesempaan ini, Direktur Astra Agro Lestari, Bandung Sahari, mengatakan digitalisasi pada sektor perkebunan juga bertujuan membangun ekosistem agribisnis yang inklusif.
“Kini cakupan keberlanjutan dalam praktik agrikultur sawit semakin luas, ada tuntutan yang semakin beragam, termasuk dalam aspek rantai pasokan yang transparan dan berasal dari sumber yang bertanggung jawab oleh karena itu penting bagi Astra Agro untuk menunjukkan komitmen kami dalam hal ini,” jelas Bandung. AALI kini konsisten mencapai 100% ketertelusuran TBS (tandan buah segar) sawit yang diperoleh dari semua kategori pemasok yang memasok ke pabrik perseroan.
Cetak Profit
pada kuartal ketiga tahun ini membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan alias laba bersih senilai Rp1,07 triliun. Laba bersih ini tumbuh sebesar 33,58% dari Rp801 miliar pada periode yang di 2024.
Pertumbuhan laba itu didorong oleh pertumbuhan pendapatan bersih. AALI per September 2025 itu mencetak pendapatan bersih sebesar Rp22,11 triliun, naik 35,81% dari Rp16,28 triliun secara tahunanRinciannya, pendapatan dari segmen minyak sawit mentah dan turunannya senilai Rp19,82 triliun, segmen inti sawit dan turunannya menyumbang pendapatan Rp2,25 triliun dan segmen lainnya berkontribusi sebesar Rp41,13 miliar.
Pendapatan segmen minyak mentah dan turunannya itu naik sebesar 31,34% dari Rp15,09 triliun secara tahunan. Segmen inti sawit dan turunannya meroket sebesar 90.67% dari Rp1,18 triliun. Sedangkan pendapatan segmen lainnya melonjak sebesar 522,23% dari Rp6,16 miliar.
“Penyebab utamanya ada dua, pertama, ada peningkatan produksi dibanding tahun lalu, secara total produksi kami naik sekitar 8% dan juga ada kenaikan harga,” jelas Tet Fa. Dari kalimat itu saja terlihat bahwa AALI sedang menikmati momentum: volume dapat, harga juga bersahabat.
Tet Fa lalu menegaskan bahwa faktor harga adalah variabel yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan korporasi. “Sejak 2023-2024 karena adanya El nino sehingga mempengaruhi pasokan CPO dunia imbasnya harga cenderung naik dan memasuki 2025 ada kebutuhan biodiesel yang juga membuat harga tetap bagus,” ungkapnya.
Kombinasi antara pasokan global yang terganggu dan penyerapan domestik dari program biodiesel membuat iklim bisnis CPO sepanjang 2025 lebih nyaman bagi produsen seperti AALI.
Adapun, pendapatan AALI yang dikontribusikan dari perkebunan sawit perseroan di Sumatera senilai Rp9,16 triliun, tumbuh 21% dari Rp7,53 triliun. Pendapatan dari perkebunan sawit di Kalimantan mencapai Rp9,89 triliun, tumbuh sebesar 31,16% dari Rp7,54 triliun. Sedangkan, pendapatan dari perkebunan di Sulawesi mencapai Rp12 triliun atau melejit sebesar 53,8 dari Rp7,80 triliun.
Per September 2025, anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini memiliki total aset Rp 27,96 triliun. Ini turun sebesar 2% dari Rp28,79 triliun per 31 Desember 2024.Nilai total liabilitas perseroan sebesar Rp4,26 triliun, turun 23,79% dari Rp5,59 triliun di akhir Desember 2024.
Pada periode ini, total ekuitas perseroan senilai Rp23,69 triliun, naik 2,11% dari Rp23,20 triliun. Harga saham AALI menjadi Rp7.800 atau melonjak sebesar