Pendapatan PGEO Naik 4,20% Laba Bersih Terkoreksi 22,18%

Pendapatan PGEO Naik 4,20%  Laba Bersih Terkoreksi 22,18%
Ilustrasi situs panas bumi yang dikelola Pertamina Geothermal Energi (PGEO) yang meraih peringkat pertama ESG tingkat dunia oleh Sustainalytics. Foto Pertamina Geothermal Energy.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan pendapatan sebesar US$318,86 juta hingga 30 September 2025.“Angka ini melampaui target yang ditetapkan yakni sebesar US$314,30 juta. Pendapatan periode ini juga meningkat sebesar 4,20% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai US$306,02 juta. Hingga saat ini, kinerja Perseroan tetap sehat dengan fundamental keuangan yang kuat,” ungkap Yurizki di Jakarta, baru-baru ini.

Namun laba bersih turun sebesar 22,18% atau menjadi US$104,26 juta. Yurizki menjelaskan pelemahan kinerja bottom line PGEO ini disebabkan oleh kenaikan beban depresisasi sebesar 9,61% atau menjadi US$ 91,49 juta seiring dengan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 pada Juni 2025.

Meski demikian, Yurizki menegaskan kinerja perseroan masih dalam level wajar karena masih mencatatkan EBITDA dan arus kas yang sehat sepanjang 2025. Diketahui EBITDA tercatat US$248,97 juta dan arus kas US$628,12 juta.

“Hal tersebut merupakan konsekuensi wajar dari fase awal transformasi, di mana PGEO perlu berinvestasi untuk memperluas portofolio. Pada tahap ini, kami melakukan investasi awal, terutama untuk rekrutmen talenta terbaik, kegiatan penelitian dan pengembangan, serta proyek-proyek eksplorasi yang berjalan seiring dengan target COD. Karena itu, pengeluaran pada fase ini bersifat strategis dan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka panjang PGE,” tegas Yurizki.

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Julfi Hadi, mengungkapkan kinerja tersebut sejalan dengan target pertumbuhan perseroan. PGEO saat ini memfokuskan langkah pada ekspansi portofolio panas bumi melalui tiga pilar, yaitu pengembangan pembangkit, industrialisasi hilir, serta pengembangan produk dan solusi di luar kelistrikan.

"Upaya tersebut kami wujudkan melalui pengembangan berbagai proyek strategis dan persiapan ekosistem green hydrogen terintegrasi dengan pendekatan beyond electricity,” ujarnya.

Kinerja Operasional

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Pertamina Geothermal Energy, Edwil Suzandi, mengungkapkan peningkatan produksi di berbagai wilayah. Penguatan tersebut meliputi area Kamojang (1.326 gigawatt hour/GWh), Lahendong (643 GWh), Ulubelu (1.225 GWh), Lumut Balai (470 GWh), dan Karaha (80 GWh). Secara keseluruhan, produksi listrik diprediksi akan mencapai 4.978 GWh hingga akhir tahun, atau meningkat sebesar 3,12% dibandingkan tahun sebelumnya. Pencapaian ini mencerminkan kinerja operasional perseroan yang stabil dan efisien.

Edwil menjelaskan tambahan kapasitas sebesar 55 MW dari PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi penuh sejak Juni lalu telah meningkatkan kapasitas terpasang yang kami kelola secara mandiri menjadi 727 MW.

Selain itu, anak usaha PT Pertamina (Persero) ini memperkuat sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mendorong percepatan transisi menuju energi bersih. Pada Agustus lalu, PGEO menjalin kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) untuk mempercepat pengembangan panas bumi di 19 proyek eksisting dengan total kapasitas 530 MW. Kolaborasi ini berpotensi menambah kapasitas hingga 1.130 MW, yang berasal dari wilayah kerja yang sudah berproduksi maupun area prospektif baru.

Saat ini, PGEO memegang peringkat ESG tertinggi di Indonesia dengan skor 7,1 dari Sustainalytics. PGE menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag