Starbucks Menyerah, Lepas Aset Usaha di China Senilai Rp64 Triliun ke Pemilik Mixue
Boyu Capital akan memiliki hingga 60 persen saham dalam perusahaan patungan baru
Raksasa kopi asal Amerika Serikat, Starbucks mengumumkan akan menjual kendali atas operasi bisnisnya di China kepada Boyu Capital dalam kesepakatan senilai 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp64 triliun. Langkah ini menjadi salah satu divestasi terbesar yang pernah dilakukan perusahaan konsumen global di China dalam beberapa tahun terakhir.
Perusahaan yang berbasis di Seattle itu mengatakan, suntikan dana dari Boyu Capital akan digunakan untuk mempercepat pertumbuhan di ekonomi terbesar kedua dunia tersebut. Starbucks beralasan, pasar China kini semakin kompetitif, di mana pemain lokal seperti Luckin Coffee dan Cotti Coffee menawarkan latte seharga 9,9 yuan (1,40 dolar AS atau sekitar Rp23 ribu) — kurang dari sepertiga harga Starbucks.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman Starbucks kepada lebih banyak pelanggan di lebih banyak kota di China. Kami melihat peluang untuk tumbuh dari 8.000 gerai Starbucks saat ini menjadi lebih dari 20.000 dalam beberapa tahun ke depan,” ujar CEO Starbucks Brian Niccol dalam pernyataannya, dilansir Reuters, Selasa (4/11/2025).
Pangsa Pasar Anjlok
Dalam kesepakatan tersebut, Boyu, yang salah satu pendirinya merupakan cucu mantan Presiden China Jiang Zemin, akan menguasai hingga 60 persen saham dalam perusahaan patungan baru. Starbucks akan memegang 40 persen dan tetap melisensikan merek serta hak kekayaan intelektualnya kepada perusahaan tersebut.
Starbucks memperkirakan nilai bisnis ritelnya di China daratan akan mencapai lebih dari 13 miliar dolar AS Ini termasuk hasil penjualan, nilai saham yang dipertahankan, dan pendapatan lisensi selama sedikitnya 10 tahun ke depan. Meski begitu, saham Starbucks turun sekitar 3 persen pada perdagangan awal Selasa (4/11/2025).
Starbucks dikenal sebagai pionir pasar kopi modern di China sejak masuk pada 1999. Namun, pangsa pasarnya anjlok dari 34 persen pada 2019 menjadi hanya 14 persen pada 2024, menurut data Euromonitor International.
Para analis menilai, Starbucks akan kembali berfokus pada kekuatannya sebagai tempat berkumpul yang nyaman bagi konsumen, bukan bersaing harga dengan Luckin melalui perang diskon agresif.
Persaingan Ketat
Luckin Coffee, yang berfokus pada layanan take-away dan delivery, kini memiliki lebih dari 20.000 gerai waralaba di China. Tahun ini, Luckin bahkan menembus pasar asal Starbucks dengan membuka dua gerai di New York.
Untuk menyaingi kompetitor, Starbucks telah menurunkan harga beberapa minuman non-kopi dan mempercepat peluncuran produk lokal baru. Penjualan same-store di China naik 2 persen pada kuartal yang berakhir 29 Juni, dibandingkan nol persen pada kuartal sebelumnya.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, Boyu Capital akan membantu Starbucks memperluas jangkauan ke kota-kota lapis kedua dan ketiga, serta meningkatkan efisiensi biaya di gerai yang sudah ada.
Langkah ini mengikuti strategi serupa yang pernah dilakukan perusahaan global lain. Pada 2017, McDonald’s menjual 80 persen saham operasi China dan Hong Kong kepada investor termasuk CITIC Group senilai 2,1 miliar dolar AS, kesepakatan yang dianggap sukses besar.
“Boyu jelas berbeda dengan CITIC yang merupakan BUMN dengan keunggulan rantai pasok di bidang properti dan lahan. Boyu adalah firma ekuitas swasta, mereka kemungkinan akan memberi dukungan strategis, membangun relasi, dan membantu Starbucks dalam kemitraan digital,” kata Jason Yu, General Manager di CTR Market Research.
Berbasis di Hong Kong dan didirikan pada 2010, Boyu Capital dikenal melalui investasinya di berbagai perusahaan teknologi besar China. Dalam beberapa tahun terakhir, Boyu memperluas fokus ke sektor konsumen, termasuk menjadi pendukung utama Mixue Group, raksasa minuman boba yang baru melantai di bursa, serta memiliki 45 persen saham di operator pusat perbelanjaan mewah SKP.
Sumber: Republika.co.id
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.