Trimegah Bangun Persada: Corsec sebagai Jembatan antara Regulasi dan Reputasi
Pulau Obi, Maluku Utara, adalah saksi perjalanan panjang Harita Nickel di bawah bendera PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL). Dari pulau terpencil inilah, Indonesia menegaskan diri sebagai pemain penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
Menambang Nilai dan Keberlanjutan
Sejak mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia pada 12 April 2023 dan meraih dana Rp9,7 triliun, perusahaan ini bukan sekadar menambang nikel, melainkan menambang nilai dan keberlanjutan.
“Kami berbangga hati karena IPO kami merupakan yang terbesar di sektor mineral Asia sejak 2009,” ujar Franssoka Y. Sumarwi, Legal Manager & Corporate Secretary PT Trimegah Bangun Persada Tbk.
Bermula dari 2005, ketika izin-izin tambang mulai disiapkan, Harita Nickel menapaki setiap fase dengan konsistensi. Di 2014, smelter pertama berdiri, menandai langkah awal hilirisasi yang kala itu baru menjadi inisiatif pemerintah.
Tiga tahun berselang, perusahaan bersama mitra strategisnya mendirikan PT Halmahera Persada Lygend, refinery facility pertama di Indonesia yang menghasilkan bahan baku baterai kendaraan listrik.
“Kami menjadi refinery pertama di Indonesia yang memproduksi bahan baku baterai kendaraan listrik,” ucap Franssoka dengan nada bangga.
Perjalanan tak berhenti di satu proyek. Di 2020, pemerintah menganugerahi Harita Nickel sebagai proyek strategis nasional. Rencananya besar, yaitu membangun kawasan industri Pulau Obi dari hulu hingga hilir, menjadikannya pusat industri baterai dan kendaraan listrik di satu pulau.
Tahun 2024 menjadi tonggak penting ketika proyek High Pressure Acid Leaching ( HPAL) kedua mencapai kapasitas penuh produksi. “Kami berharap industri baterai bahkan kendaraan listriknya juga ada di satu pulau yang sama, sehingga memberikan efisiensi produksi,” katanya.
Hilirisasi memang menjadi nadi perusahaan ini. Selain dua fasilitas HPAL, Harita Nickel juga mengembangkan pabrik turunan seperti BBS Tiling Recycling Plant untuk memproduksi limestone, serta fasilitas Megah Surya Pertiwi, Karunia Permai Sentosa, dan Harita Jayaraya Fungsional. Semua terintegrasi dalam rantai produksi yang efisien di Pulau Obi.
“Kami di Harita Group memiliki 40 ribu karyawan dan sekitar 20 ribu di antaranya berada di nikel, 85 persen warga Indonesia dan 46 persen berasal dari Maluku Utara,” kata Franssoka.
Tiga Pilar
Namun, keberlanjutan bukan hanya soal angka produksi. Sejak awal, Harita Nickel menanamkan tiga pilar dalam operasionalnya: tata kelola yang baik, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan kepedulian lingkungan.
Dalam konteks ini, langkah berani mereka tecermin pada partisipasi dalam audit IRMA (Initiative for Responsible Mining Assurance). “Kami perusahaan pertama di Indonesia bahkan di Asia yang membuka diri terhadap audit IRMA,” ungkap Franssoka. Audit independen itu memastikan kegiatan pertambangan Harita Nickel sesuai dengan standar global dalam aspek lingkungan dan sosial.
Audit IRMA bukan sekadar sertifikasi, melainkan cermin keberanian untuk transparan. Di tengah sorotan NGO dan isu lingkungan, keterbukaan menjadi cara Harita Nickel mengelola reputasi.
“Kami menyadari bahwa industri pertambangan selalu bersinggungan dengan NGO, karena itu kami konsisten memberikan data yang akurat dan diaudit oleh pihak independen,” kata Franssoka.
Pendekatan ini menunjukkan bagaimana fungsi Corporate Secretary (Corsec) bukan hanya administratif, melainkan strategis untuk menjaga kredibilitas perusahaan di mata publik, regulator, dan investor.
Dalam konteks investor relations, Harita Nickel juga menonjol dengan konsistensi komunikasi. Setiap kuartal, perusahaan mengadakan investor call untuk menyampaikan kinerja dan proyeksi. “Kami rutin memberikan informasi kepada investor agar mereka yakin pada prospek jangka panjang kami,” ujar Franssoka.
Kinerja keuangan tahun 2024 menjadi bukti: pendapatan mencapai sekitar Rp27 triliun dengan laba bersih Rp7 triliun, di atas rata-rata industri sejenis. Dividen pun dibagikan rutin setiap tahun, mencerminkan kesehatan finansial yang solid.
Meski performa fundamental kuat, tantangan tetap ada, terutama terkait persepsi pasar terhadap harga saham. Untuk itu, Harita Nickel melakukan buyback saham sebagai bentuk tanggung jawab kepada investor.
“Kami merasa harga saham belum terapresiasi dengan baik, karena itu kami melakukan buyback,” Franssoka menjelaskan. Langkah ini memperlihatkan bagaimana tim Corsec memainkan peran penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap nilai saham.
Kompleks
Fungsi Corsec di Trimegah Bangun Persada memang kompleks, yaitu menjaga kepatuhan hukum, mengelola komunikasi dengan pemerintah, hingga memastikan keterbukaan informasi berjalan mulus. Franssoka tidak bekerja sendiri.
“Saya bersyukur dibantu tim yang luar biasa, masing-masing sudah punya tugas jelas antara fungsi legal dan corporate secretary,” ungkapnya.
Di bawah koordinasinya, tim menyusun kalender pelaporan yang rinci, dari laporan eksplorasi, penggunaan dana IPO, hingga risalah RUPS. Dengan sistem seperti itu, backlog bisa ditekan seminimal mungkin. “Sampai saat ini, kami belum pernah mendapat surat cinta dari regulator,” ujarnya.
Digitalisasi pun diterapkan dengan hati-hati. Beberapa tugas rutin diotomatisasi, tapi yang bersifat insidental tetap dilakukan manual agar tidak ada yang terlewat. Pendekatan ini menunjukkan keseimbangan antara efisiensi teknologi dan kehati-hatian korporasi. Semua langkah itu mencerminkan nilai-nilai Good Corporate Governance (GCG) yang menjadi fondasi perusahaan publik.
Namun, keberlanjutan sejati tidak hanya diukur dari kepatuhan regulasi atau kinerja finansial, melainkan juga dari dampak sosialnya. Di Pulau Obi, Harita Nickel menghadirkan CSR yang berkelanjutan. “Kami tidak hanya memberikan ikan, tetapi memberikan alat pancing bagi masyarakat,” Franssoka menandaskan.
Program CSR perusahaan meliputi pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi lokal. Lebih dari 1.200 beasiswa diberikan, enam sekolah dibangun, taman bacaan didirikan, dan program gizi untuk ibu hamil digalakkan.
CSR Harita Nickel juga menghadirkan dampak ekonomi sirkular. Delapan program pertanian dengan 22 kelompok tani dan 420 anggota kini menjadi pemasok bahan pangan untuk kebutuhan 25 ribu karyawan di Pulau Obi. “Kami siapkan bibit, infrastruktur, dan greenhouse agar hasil pertanian bisa langsung disuplai ke perusahaan,” kata Franssoka.
Nilai transaksi kelompok tani mencapai Rp245 juta per bulan, sementara supplier lokal mencapai Rp12,5 miliar per bulan. Bahkan, beberapa kafe yang dikelola masyarakat menghasilkan pendapatan hingga Rp5,1 miliar.
Harita Nickel berhasil menjadikan kegiatan tambang sebagai penggerak ekonomi lokal yang mandiri. Setiap hektare lahan yang selesai ditambang direklamasi dan direvegetasi, memastikan keseimbangan antara eksploitasi dan pelestarian.
Di tengah tantangan globalisasi dan transisi energi, perusahaan ini menegaskan komitmennya: tumbuh secara berkelanjutan tanpa meninggalkan masyarakat dan lingkungan.
Dari ruang kerja Franssoka di Jakarta hingga kawasan industri di Pulau Obi, denyut tanggung jawab korporasi terdengar sama: disiplin, transparan, dan berorientasi pada masa depan. “Kami ingin menjadi perusahaan tambang yang bukan hanya besar, tapi juga dipercaya,” katanya dengan penuh keyakinan. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.