Pertamina UMK Academy Dukungan Totalitas agar UMKM Naik Kelas
Bisnis bukan hanya untuk mengejar keuntungan (profit) semata, tapi juga untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pemahaman seperti ini tampaknya sudah menjadi kesadaran kolektif pelaku bisnis di Tanah Air, terutama kalangan perusahaan bereputasi baik, baik perusahaan swasta maupun BUMN. Realisasinya berupa aktivitas yang kini dikenal sebagai program CSR (Corporate Social Responsibility) atau TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan).
Sejumlah BUMN bahkan memiliki aneka ragam Program TJSL. Ada yang menyasar bidang peningkatan ekonomi masyarakat, peningkatan taraf kesehatan masyarakat, perluasan akses pendidikan, hingga pelestarian lingkungan.
PT Pertamina (Persero), BUMN terkemuka di bidang energi/migas, misalnya. Salah satu programnya yang patut disebutkan ialah program pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang bernama Pertamina UMK Academy.
Sebenarnya, cukup banyak perusahaan —swasta dan BUMN—yang juga memiliki program pembinaan UMKM. Namun, yang membuat program UMK Academy istimewa, pendekatannya boleh dibilang komprehensif, sistematis, dan berkelanjutan.
Program UMK Academy bukan hanya menyediakan pelatihan bagi kalangan UMKM, tapi juga pendampingan dan penyediaan fasilitas pendukung. Pelaksanaannya di tingkat regional hingga nasional, dengan total durasi 6-8 bulan. Program ini memiliki empat silabus dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dalam pengembangan UMKM, mulai dari level Go Modern, Go Digital, Go Online, hingga Go Global.
Diselenggarakan sejak tahun 2020, hingga akhir 2024 program UMK Academy telah meluluskan lebih dari 2.350 UMKM peserta program yang tersebar di seluruh Indonesia (www.pertamina.com, Siaran Pers 6 Desember 2024).
Yang perlu dicatat, tak ada biaya yang dipungut untuk mengikuti program ini, alias gratis. Hanya saja, tak sembarang pengusaha UMKM bisa mengikuti program UMK Academy.
Pasalnya, peserta program yang merupakan UMKM dari seluruh Indonesia akan melalui proses seleksi yang cukup ketat. Dengan diberikan pelatihan dan pendampingan, UMKM terseleksi melalui berbagai tantangan. Proses seleksi dan pelatihannya dilaksanakan dalam dua tahap: regional dan nasional. Jadi, UMKM terbaik dari setiap regional akan diseleksi untuk mengikuti tahap nasional, dan yang terpilih berhak mengikuti program UMK Academy ini.
Untuk tahun 2025, pesertanya berasal dari UMKM yang mendaftar di link pendaftaran, peserta program UMK Academy 2024, penerima program pendanaan UMKM Pertamina, UMKM binaan Rumah BUMN Pertamina, dan UMKM dari jaringan PFPreneur. Atas pertimbangan keberlanjutan pembelajaran, tim penyelenggara memang memberikan undangan khusus bagi peserta UMK Academy 2024 untuk ikut mendaftar.
Program UMK Academy 2025 bergulir sejak Februari 2025. Dari hampir 10 ribu pendaftar dari seluruh Indonesia,setelah disaring tinggal 1.490 UMKM di tahap regional yang berlangsung pada Mei–Juli 2025. Lalu, pada September 2025 sebanyak 730 UMKM dinyatakan lulus seleksi nasional untuk mengikuti program pembinaan UMK Academy 2025 (RuangEnergi.com, 3 September 2025).
Para peserta selanjutnya akan mengikuti pelatihan/pembelajaran berbasis teknologi, gamifikasi, kunjugan lapangan, hingga showcase produk, serta pendampingan dari 86 akselerator bersertifikat.
Khusus untuk program UMK Academy 2025, Pertamina telah melakukan peningkatan, yakni dengan menyediakan tool pembelajaran bernama UMK Academy Learning Management System. Platform pembelajaran digital ini dirancang untuk membantu kalangan UMKM meningkatkan keterampilan bisnis mereka melalui modul interaktif, video edukatif, fasilitas gamifikasi, hingga alat asesmen hasil belajar. Dengan platform digital ini, peserta dapat belajar kapan saja dan dari mana saja asalkan terhubung dengan internet.
"Saya tertarik mengikuti program ini karena memberikan pembekalan bisnis yang luar biasa dan gratis."
Sany Sandyani, Pemilik Glory Nine Degrees, UMKM fashion asal Bandung
Sejumlah pelaku bisnis UMKM merasakan pengalaman mengesankan mengikuti program UMK Academy. Contohnya, Sany Sandyani, pemilik Glory Nine Degrees, UMKM asal Bandung,yang bergerak di bidang fashion dan cenderamata, dengan mayoritas pelanggan dari kalangan korporat (B2B).
Bisnis Glory dimulai pada saat pandemi, bermodal awal dua mesin jahit dan hanya diperkuat beberapa penjahit sebagai karyawan. Karena merasa punya keterampilan dasar desain, Sany memberanikan diri untuk mengembangkan brand sendiri.
Pada 2021, Glory ikut kompetisi bisnis yang diselenggarakan Pertamina dan masuk dalam Top 20 Women Leaders dalam program Pertamina Foundation (PF) Preneur. Hadiah yang diperoleh digunakan untuk menambah mesin jahit.
Karena prestasi itu,pada 2024 Glory diundang mengikuti program UMK Academy. “Saya tertarik mengikuti program ini karena memberikan pembekalan bisnis yang luar biasa dan gratis. Jika kita menggunakan konsultan bisnis, biayanya sangat mahal,” kata Sany.
Proses dimulai dari kurasi peserta di tingkat regional. “Kami diikutkan dalam workshop dan pelatihan,” ujarnya. Setelah lolos regional, Glory lanjut mengikuti seleksi tingkat nasional dan berhasil tembus posisi 26 besar, sehingga berhak mengikuti program UMK Academy 2025 tingkat nasional. “Kami harus mengikuti proses kurasi secara serius dan berkomitmen untuk belajar,” ungkapnya.
Mentor yang melatih para peserta berasal dari kalangan profesional yang merupakan para ahli terpercaya rekanan Pertamina. Tugas para mentor ini dipecah sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Sany mengaku amat terkesan dengan materi Manajemen Risiko Bisnis di bidang garmen. “Kami pun belajar menerapkan manajemen, antara lain manajemen QC (Quality Control),” ujarnya.
Selain pelatihan dan pendampingan, peserta pun memperoleh akses pembelajaran digital. Peserta diperkenalkan dengan empat tahap program digitalisasi, mulai dari Go Modern, Go Digital, Go Online, hingga Go Global.
Pertamina berkoordinasi dengan Bank Rakyat Indonesia untuk akses pendanaan. “Dan yang paling luar biasa adalah adanya networking dari Pertamina,” Sany mengungkapkan.
Karena menjadi binaan Pertamina dan mengikuti program UMK Academy, Sany merasakan adanya efek kepercayaan publik yang meningkat. “Ini mempermudah kami mendapatkan orderan dari BUMN lain, meskipun brand kami secara independen belum terlalu kuat di tingkat nasional,” katanya dengan nada senang.
Mimpi Glory untuk mengikuti ajang Trade Expo Indonesia juga terwujud setelah sempat menanti selama tiga tahun. Seiring dengan itu, omzet pun tumbuh. Ia mengaku pertumbuhan omzet Glory tahun lalu hampir 30%.
Pengalaman peningkatan skala usaha juga dirasakan Santi Hakim, Founder Meraki Cipta Rasa. Meraki yang bermarkas di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, memulai bisnisnya tahun 2005.Perusahaan ini bergerak di bidang pengolahan pangan, khususnya pangan citarasa Nusantara.
Jenis produknya mulanya hanya cireng, kemudian berkembang membuat cilok, dimsum, panada, bakwan jagung, dan sebagainya. Sebelumnya, model bisnisnya B2C (business to consumers), sedangkan sekarang B2B (business to business). “Dengan adanya R&D (research & development), sekarang kami memiliki 35 SKU (stock keeping units) produk,” ujar Santi.
Menurutnya, program UMK Academy penting bagi perusahaannya karena dapat memantapkan fondasi bisnisnya dan membawa produknya mengalami scaling up. “Perkembangan skala usaha kami sebelum dan sesudah mengikuti UMK Academy ini sangat signifikan,” ungkapnya.
Santi mengungkapkan, pihaknya memutuskan berpartisipasi mengikuti program UMK Academy setelah mendengar dari teman pengusaha UMKM yang sudah mengikutinya.“Kami melihat, oh bagus ini programnya,” ujarnya.
Sebelum ikut dalam UMK Academy, skala usaha Meraki masih terbatas di tingkat regional, yakni di Tangerang Selatan hingga Jakarta. Sekarang, produk Meraki sudah merambah pasar nasional, bahkan pasar internasional setelah berpartisipasi di ajang Trade Expo Indonesia.
Selain itu, dahulu sistem produksi Meraki juga masih bersifat konvensional dan kapasitasnya jauh dari optimal. Adanya dana hibah membuat Meraki dapat meningkatkan kapasitas produksinya. “Dana hibah yang kami terima tahun lalu kami manfaatkan untuk membeli mesin,” ujar Santi. Bagusnya lagi, pihaknya diberi kebebasan dalam memilih mesinnya, sehingga bisa dipilih mana yang paling tepat untuk usaha mereka.
Bergabung dalam program UMK Academy juga memungkinkan Meraki memperbaiki aspek pemasarannya. “Kami disertakan ke dalam Pertamina SMEXPO,” ujar Santi.
Santi menceritakan, program bimbingan di UMK Academy cukup lama, hampir setengah tahun.Kegiatannya ada yang offline, dan ada yang online.
"Program dengan pendekatan inkubator seperti diselenggarakan Pertamina itu cocok untuk mengisi kelemahan sektor UMKM."
Dr. Toto Pranoto, Pengamat Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia
Kala itu, di program offline, Meraki didampingi MarkPlus. Di luar itu, pihaknya juga dapat belajar secara mandiri melalui fasilitas Learning Management System yang sudah disediakan penyelenggara.
“Materi pembinaannya sangat komprehensif, mulai dari business coaching, penguatan manajemen keuangan, hingga strategi,” kata Santi.Untuk Merakiyang sedang menekuni ekspor, berarti ada materi strategi ekspor, digital marketing, branding, dan storytelling.
Meraki diajari juga cara penghitungan harga ekspor, term pembayaran, displai produk, hingga cara menghadapi buyer. “Pokoknya, materi pembinaannya keren banget, yang menurut saya bukan cuma teoretis, tapi bisa langsung diaplikasikan,” ungkapnya.
Buat Santi, pemberian dana hibah adalah sebuah bonus. Yang lebih penting, ilmu yang diperoleh.“Buat saya,priceless,” ujarnya. Yang juga penting, jejaring pertemanan dengan teman-teman UMKM se-Indonesia. “Kami bukan hanya berkompetisi, tapi akhirnya juga berkolaborasi,” katanya lagi.
Di UMK Academy, pihaknya juga diingatkan tentang pentingnya bisnis yang lestari. “Maksudnya, setiap langkah kami harus bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan,” ujarnya. Contoh kecilnya, bagaimana pihaknya jadi lebih hemat bahan bakar.
Menurut Dr. Toto Pranoto, pengamat manajemen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, kelemahan uttama sektor UMKM di Indonesia di samping pada aspek permodalan, juga pada aspek kapabilitas manajemen dan akses pasar. Menurutnya, program dengan pendekatan inkubator seperti yang diselenggarakan Pertamina itu cocok untuk mengisi kelemahan sektor UMKM tersebut.
Toto juga menyoroti, biasanya program pembinaan UMKM diterminasi saat UMKM-nya sebetulnya masih butuh pendampingan. Ia melihat, UMK Academy dari Pertamina hadir dengan fasilitas lebih lengkap sehingga peluang bagi pelaku UMKM untuk benar-benar naik kelas menjadi lebih besar.
Karena hasil positifnya itu,Toto menyarankan agar program TJSL dari kalangan BUMN lainnya, khususnya untuk pembinaan UMKM para mitra bisnis, dapat mengadopsi model seperti UMK Academy. “Harapannya, agar manfaat yang diterima mitra binaan lebih tepat sasaran dan berdampak positif dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini,” katanya.§
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto,
infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat
di situs web ini, melakukan crawling atau
pengindeksan otomatis untuk platform AI
(artificial intelligence) dan platform digital
lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang
berwenang di situs web ini.