Spiritual Leadership Menyuguhkan Kepemimpinan Sarat Nilai dan Makna

Public Training Spiritual Leadership ini dipandu langsung oleh Jamil Azzaini, Co-Founder Kubik Leadership yang dikenal luas sebagai Inspirator SuksesMulia. (Foto: Ist)

Di tengah dinamika bisnis yang kian kompleks dan tekanan pencapaian target yang semakin tinggi, banyak pemimpin korporasi dihadapkan pada tantangan baru yaitu bagaimana tetap berprestasi tanpa kehilangan makna dan nilai kemanusiaan.

Kesadaran inilah yang menggerakkan Kubik Leadership menghadirkan Spiritual Leadership sebuah pendekatan kepemimpinan yang menyeimbangkan antara kinerja dan jiwa, antara hasil dan makna.

Acara Public Training Spiritual Leadership ini dipandu langsung oleh Jamil Azzaini, Co-Founder Kubik Leadership yang dikenal luas sebagai Inspirator SuksesMulia.

Menurut Jamil, sukses berarti ketika seseorang mampu memiliki “4-ta”: harta, tahta, kata, dan cinta yang diperoleh melalui keahlian, etika, serta nilai spiritual yang dijunjungnya. Namun, untuk menjadi mulia, seseorang harus mampu memanfaatkan keempat hal tersebut demi memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungannya.

Dalam sesi pembuka, Jamil menyoroti fenomena yang kini banyak dialami para pemimpin di berbagai organisasi yaitu kelelahan batin dan kehilangan arah makna.

“Kepemimpinan yang dapat memberikan nilai dan makna dalam pekerjaan bagi tim sangat dibutuhkan saat ini. Ketika pemimpin hanya berfokus mengejar hasil dan pencapaian, yang terjadi adalah lack of fulfillment, bekerja tanpa jiwa, stres, kehilangan integritas, dan akhirnya kehabisan energi,” kata Jamil dalam siaran pers yang diterima SWA.co.id, Rabu (12/11/2025).

Di sesi berikutnya, Jamil memperkenalkan konsep Spiritual Leadership, yaitu kepemimpinan yang berpijak pada panggilan jiwa dan keterhubungan dengan Tuhan dalam menuntaskan misi hidup.

Seorang pemimpin dengan spiritual leadership yang tinggi, lanjutnya, tidak digerakkan oleh motivasi eksternal seperti jabatan, gaji, atau penghargaan, melainkan oleh motivasi internal, keinginan untuk menemukan makna, menjunjung nilai, dan memberi kontribusi bagi kehidupan. “Pemimpin sejati bukan hanya memimpin untuk menang, tetapi memimpin untuk memberi makna,” kata Jamil.

Menutup sesi, Jamil mengajak para peserta untuk menumbuhkan misi kepemimpinan pribadi, karena setiap manusia diciptakan bukan untuk sekadar menjalani rutinitas, melainkan untuk memakmurkan bumi dan menjadi rahmat bagi sesama.

“Setiap leader wajib memiliki misi kepemimpinan, peran yang membawa manfaat dan meninggalkan jejak kebaikan,” ujarnya.

Kubik Leadership sendiri terus berkomitmen menghadirkan solusi pengembangan kepemimpinan yang tidak hanya fokus pada kinerja, tetapi juga pada kebermaknaan hidup dan keseimbangan spiritual. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag