Teguk (TGUK) Masuk Bisnis Frozen Food, Incar Pendapatan Rp803 Miliar di 2030

Teguk (TGUK) Masuk Bisnis Frozen Food, Incar Pendapatan Rp803 Miliar di 2030

PT Platinum Wahab Nusantara Tbk atau Teguk (TGUK) mengumumkan penambahan kegiatan usaha, di luar bisnis inti kedai makanan dan minuman, restoran, serta penyediaan makanan keliling lainnya. Perseroan bersiap masuk ke bisnis makanan olahan beku berbasis daging sapi dan ayam.

Secara rinci, penambahan kegiatan usaha tersebut mencakup perdagangan besar daging sapi dan daging sapi olahan (KBLI 10130), industri makanan dan masakan olahan (KBLI 10750), serta perdagangan besar makanan dan minuman lainnya (KBLI 46339).

“Perseroan berencana untuk menambahkan kegiatan usaha di bidang frozen meat dan food processing [pengolahan makanan] sebagai bagian dari strategi diversifikasi dan penguatan rantai nilai bisnis perseroan di sektor makanan olahan,” jelas manajemen Teguk dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (13/11/2025).

Manajemen TGUK melihat prospek industri frozen food dan food processing menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Hal ini didorong oleh urbanisasi, peningkatan jumlah pekerja perkotaan, serta tingginya permintaan produk siap saji dan sumber protein hewani.

Karena itu, bisnis makanan dan minuman olahan beku ini dijadwalkan mulai berjalan pada November 2025. Pada tahap awal, TGUK akan menggandeng perusahaan jasa kontrak produksi (maklon) pihak ketiga. Setelah itu, perseroan akan menyelesaikan kebutuhan investasi untuk dapat melakukan kegiatan produksi secara mandiri.

TGUK berencana menggunakan dana pengembalian sebesar Rp 42,92 miliar yang semula dialokasikan untuk pengembangan gerai. Ke depan, laba yang dihasilkan dari bisnis frozen food ini akan digunakan kembali untuk mendanai kebutuhan investasi usaha food processing. Rencana investasi tersebut dijadwalkan berlangsung mulai Januari 2026 hingga Agustus 2026.

Dari sisi operasional, TGUK diperkirakan membutuhkan modal kerja senilai Rp 23,64 miliar dalam kurun waktu hingga 2029. Dana tersebut akan digunakan untuk pembelian persediaan bahan baku dan barang jadi, serta pemenuhan kewajiban jangka pendek seperti utang usaha.

Dengan merambah bisnis frozen food, TGUK memproyeksikan pendapatan perseroan akan meningkat sekitar Rp 803,86 miliar pada 2030, dari Rp 1,20 miliar pada periode Agustus 2025–Desember 2025.

Namun, kenaikan pendapatan ini akan diiringi peningkatan beban pokok pendapatan, terutama pada masa awal ekspansi 2025–2027. Hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi awal, investasi kapasitas pabrik dan rantai pasok, serta pengembangan produk.

Peningkatan efisiensi produksi dan perbaikan struktur biaya diproyeksikan mulai terlihat pada periode 2028–2030, yang tercermin dari kenaikan laba kotor dan perbaikan margin usaha.

Pada awal ekspansi, TGUK diproyeksikan masih membukukan rugi operasional pada periode 2025–2027, seiring fase investasi. Laba tahun berjalan diperkirakan baru mulai diraih pada 2028, sekitar Rp 3,31 miliar, kemudian meningkat menjadi sekitar Rp 33,81 miliar pada 2029, dan Rp 29,64 miliar pada 2030.

“Proyeksi ini menunjukkan bahwa strategi ekspansi dan diversifikasi usaha diharapkan memberikan nilai tambah dan memperkuat kinerja keuangan jangka panjang perseroan,” tambah manajemen TGUK dalam keterbukaan informasi BEI sore ini.

Adapun harga saham TGUK ditutup stagnan di level Rp 137, berdasarkan data aplikasi IDX Mobile pada pukul 16.13 WIB. Saham TGUK masih masuk daftar pemantauan khusus dan dalam status suspensi sejak 26 Mei 2025. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag