Dari Awareness ke Growth: Era Baru Kepemimpinan Marketing di Ekonomi Digital

Shanti Tolani, Country Head dan Direktur Dewan MMA Indonesia. (Foto: MMA Indonesia)

Indonesia tengah memasuki fase percepatan ekonomi digital terbesar dalam satu dekade terakhir. Berbagai proyeksi menyebutkan nilai ekonomi digital nasional dapat meroket ke kisaran US$210 miliar hingga US$360 miliar pada 2030, ditopang oleh inovasi fintech, penetrasi AI tingkat lanjut, layanan cloud, serta kerangka kebijakan pemerintah seperti National Digital Economy Strategy 2030 dan Digital Economy Framework Agreement.

Di tengah transformasi ini, dua sektor muncul sebagai lokomotif utama: e-commerce dan keuangan digital. Volume transaksi pembayaran real time dan dompet digital bahkan diperkirakan menembus US$760 miliar pada 2030, mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang kian mobile-first dan tanpa uang tunai.

Gelombang pertumbuhan berikutnya diproyeksikan akan didorong ekspansi agresif pasar e-commerce Indonesia yang pada 2030 diperkirakan melampaui US$194 miliar. Katalisnya jelas, pemasaran berbasis AI, pengalaman omnichannel yang makin halus, serta pengaruh ekonomi kreator yang merembes ke semua kategori konsumsi.

Demografi juga berpihak. Gen Z dan Milenial (usia 18–34 tahun) diprediksi akan menyumbang 85%-90% transaksi e-commerce berkat penetrasi internet yang segera menyentuh 80% dan dominasi platform mobile-first.

Bersamaan dengan itu, pemerintah dan industri memperkuat investasi infrastruktur digital untuk mencapai lebih dari 90% konektivitas dan akses universal ke sistem pembayaran digital pada 2030.

Di tengah dinamika tersebut, mandat pemasar ikut bergeser. Dari sekadar membangun awareness, kini mereka dituntut menghasilkan pertumbuhan yang terukur dan nilai jangka panjang bagi perusahaan.

Menurut Sutanto Hartono, Ketua MMA Indonesia, para pemimpin harus memadukan visi strategis dengan AI agentik serta pengalaman pelanggan yang memiliki resonansi emosional.

“Dengan adopsi AI, kita memasuki era di mana para pemimpin harus menanamkan kecerdasan ke setiap keputusan pemasaran, menyeimbangkan tujuan dan kinerja, sekaligus merancang pengalaman pelanggan yang membangun loyalitas dan pertumbuhan jangka panjang,” katanya dalam siaran pers yang diterima SWA.co.id, Jumat (14/11/2025).

Pandangan tersebut sejalan dengan misi global MMA. Shanti Tolani, Country Head dan Direktur Dewan MMA Indonesia, menekankan pentingnya kolaborasi dan pertumbuhan kolektif di tengah percepatan digital.

Pemimpin hari ini harus memandang data, inovasi, dan teknologi AI sebagai satu mesin terpadu. Dengan pasar big data analytics Indonesia tumbuh pada CAGR 9,35% menuju US$73,77 miliar di 2030, serta social-commerce yang diproyeksikan mencapai US$8,62 miliar, ekosistem pemasaran bergerak menancapkan fondasi untuk ekuitas dan nilai jangka panjang,” ujarnya.

Memasuki 2026, konsensus industri semakin kuat: kepemimpinan pemasaran Indonesia akan didefinisikan oleh kemampuan untuk bertindak cepat, bertanggung jawab, dan berorientasi pertumbuhan.

Melalui tema “Powering Marketing for Growth: Act, Accelerate, and Advance”, MMA IMPACT Indonesia 2025 menegaskan perannya sebagai forum strategis yang mengarahkan pemasar menuju transformasi digital yang berbasis inovasi namun tetap etis dan berkelanjutan.

Dalam lanskap yang tumbuh cepat dan kian kompetitif, para pemimpin pemasaran ditantang untuk bukan hanya mengikuti arus, tetapi mengarahkan laju pertumbuhan itu sendiri, secara terukur, kolaboratif, dan berjangka panjang. (*)

# Tag