Persistensi Indra Sjuriah Membesarkan Platform Investasi IndoGold
Seiring dengan harga emas yang terus naik, belakangan ini kegiatan berinvestasi emas tengah menjadi tren di kalangan investor di Tanah Air. Baik dengan membeli emas fisik di gerai-gerai penjualan emas maupun membeli emas fisik digital melalui platform investasi emas.
Layanan Buat Ritel
Salah satu platform investasi emas yang memperoleh berkah dari tren tersebut adalah IndoGold. Platform investasi di bawah kelolaan PT IndoGold Makmur Sejahtera, perusahaan yang entitasnya didirikan tahun 2009 (dengan merek awal Antamgold) dan telah mendapatkan izin sebagai Pedagang Fisik Emas Digital dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) per Maret 2023.
Sebelumnya, IndoGold telah terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Perdagangan Elektronik di Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia per September 2018. Juga tercatat resmi di daftar OJK Inovasi Keuangan Digital (OJK Infinity) per 1 April 2019.
Sebagai pemain yang relatif cukup berpengalaman di kancah bisnis investasi emas digital, IndoGold menawarkan kemudahan berinvestasi emas fisik secara digital cukup dengan dana awal terjangkau, yakni Rp10 ribu.
Menggunakan pola tabungan emas digital, pengguna website atau aplikasi mobile IndoGold dapat menukar saldo tabungan menjadi emas fisik bersertifikat, yang juga dapat dicairkan dalam bentuk uang tunai.
Di samping itu, IndoGold juga menyediakan fitur pembelian emas logam mulia dan emas perhiasan secara langsung, dengan pengiriman terasuransi. Yang tak kalah menarik, IndoGold pun menyediakan layanan gadai emas: pelanggan dapat memperoleh dana pinjaman dengan jaminan tabungan emasnya. IndoGold diketahui merupakan salah satu dari belasan startup yang tergabung dalam program akselerator Plug and Play Indonesia batch kedua.
Menurut Indra Sjuriah, Founder dan CMO IndoGold, ia mengembangkan bisnis platform investasi emas digital ini karena melihat adanya kesulitan yang dirasakan masyarakat ketika akan berinvestasi emas. Kesulitannya yaitu besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk berinvestasi dan biaya produksi yang dikenakan dikenakan cukup memberatkan.
Indra sejatinya bukan orang baru di bidang transaksi emas. Orang tuanya telah mendirikan bisnis toko dan grosir perhiasan, yang beroperasi sejak 1978 di bawah PT Sinar Rezeki Handal Dahulu. Setiap mau melakukan produksi atau membayar ke pabrik, itu dilakukan dalam bentuk emas.
Kakaknya yang mengelola bisnis keluarga meminta bantuannya untuk ikut mengurus bisnis tersebut, terutama untuk urusan jual-beli emas batangan. Basis pelanggan bisnis keluarga ini memang B2B.
Dari sana, terbetik ide Indra untuk menyediakan layanan buat kalangan ritel. Dia berpikir tak mungkin orang biasa akan membeli emas seberat 500 gram atau 1 kg. Ia pun melakukan riset apakah model bisnis ini ada di luar negeri.
Ternyata, ada. Pembeliannya biasanya dilakukan lewat internet dan pengambilannya di tempat penyimpanan (vault) yang bekerjasama dengan penyelenggara.
Pada 2009 lahirlah bisnis investasi emas digital dengan nama merek Antamgold. “Keinginan kami sederhana, yaitu membantu masyarakat ritel supaya bisa mulai berinvestasi emas dari nominal yang kecil, misalnya dari Rp10.000,” ujar Indra.
“Jadi, pada akhirnya sama-sama menguntungkan, kami bisa menjangkau pasar ritel, dan konsumen pun punya akses investasi yang lebih mudah,” ia menambahkan.
Menjaga Kepercayaan
Sistem penjualan awalnya berbasis web. Maklumlah, saat itu belum dikenal ponsel dan mobile app. Antamgold juga memanfaatkan kanal digital populer saat itu, yakni Kaskus, lewat FJB (Forum Jual Beli).
Dari sana, Indra memperkenalkan produknya. Saat itu pendekatannya lewat edukasi. Kebetulan, ada thread khusus yang membahas soal investasi, dan dia aktif di situ. “Reputasi terbentuk dari kepercayaan yang terus dijaga,” ujarnya.
Ketika Android mulai populer di tahun 2013, Antamgold pun mengembangkan aplikasi. Diakuinya, pertumbuhan penjualannya bertahap. Antamgold pun memanfaatkan media sosial, secara bertahap sesuai dengan perkembangan popularitas masing-masing, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, hingga kemudian TikTok.
Satu perkembangan penting ialah penggantian nama merek dari Antamgold menjadi IndoGold pada 21 Januari 2017. Alasannya, nama Antam sudah terasosiasi dengan PT Aneka Tambang, terutama untuk produk logam mulianya.
“Kami ingin menghindari potensi friksi atau kesalahpahaman di kemudian hari, jadi kami memutuskan untuk mengganti nama menjadi IndoGold,” Indra menerangkan.
Compliance dan Keamanan Data
Hingga saat ini total pengguna terdaftar (registered users) IndoGold mencapai kurang-lebih 1,4 juta akun. IndoGold juga bekerjasama dengan sejumlah merek logam mulia, yakni Antam, UBS, Harta Dinata, dan Lotus Archi.
Seiring dengan peningkatan minat investor yang memilih emas sebagai pilihan investasi aman, permintaan akan emas digital pun meningkat. “Sebetulnya kami tidak menyangka sama sekali dengan pertumbuhan tahun ini yang kami pikir mungkin cuma ‘one time’, tapi ternyata masih berlanjut dan bahkan lebih besar dari ekspektasi kami,” ungkapnya dengan nada senang.
Meskipun disebut digital, dia menjamin, perusahaannya tetap menyediakan cadangan emas fisiknya sesuai dengan ketentuan regulator. Hal ini merujuk ketentuan Bappebti.
Di bisnis platform investasi emas fisik digital ini, tentu saja IndoGold tidak sendirian. Ada beberapa pesaing aktifnya, di antaranya Lakuemas, Tamasia, dan Dinaran.
Lalu, apa pembeda IndoGold?
Menurut Indra, yang paling utama, pihaknya berpegang pada prinsip compliance dan keamanan data nasabah. “Kami sadar betul bahwa yang dititipkan ini adalah aset masyarakat, sehingga harus dikelola secara amanah,” katanya. Ia juga menekankan bahwa IndoGold bukanlah pemain baru, tetapi sudah cukup lama beroperasi dan selalu menjaga reputasinya.
Memang, untuk membangun kepercayaan pelanggan, seperti sudah diungkap, IndoGold sudah terdaftar di Bappebti. Dengan izin tersebut, artinya transaksi jual-beli emas fisik secara digital di IndoGold sudah dijamin dengan ketersediaan emas fisik.
Selain itu, IndoGold juga telah bekerjasama dengan Indonesia Clearing House (ICH), sehingga setiap transaksi emas digital yang dilakukan oleh setiap pengguna tercatat di lembaga kliring tersebut. Dengan demikian, selain melalui aplikasi IndoGold, pelanggan juga dapat memantau saldo emasnya melalui website ICH (www.ich.co.id).
Faktor lain yang menurut Indra menjadi pembeda platform IndoGold ialah pada sisi servis dan kualitas. “Kami selalu mencoba memberikan pengalaman terbaik kepada pelanggan sesuai dengan koridor regulasi yang berlaku,” katanya.
Dia tak menampik makin banyaknya pemain di bidang investasi emas, termasuk kalangan perbankan dengan layanan bullion bank-nya. Namun, dia mengaku hal itu malah positif. “Itu berarti bagus, karena orang mulai aware dengan industrinya,” ujarnya.
Alasan Indra, mengedukasi masyarakat kini jauh lebih mudah. “Tidak seperti dulu, kami seperti single fighter, sudah ngomong berbusa-busa 30 menit pun, orang belum tentu percaya,” katanya seraya tersenyum. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.