Deloitte : Jumlah Perusahaan IPO di Indonesia dan Malaysia Naik di 2021-2025

Deloitte : Jumlah Perusahaan IPO di Indonesia dan Malaysia Naik di 2021-2025
Ilustrasi saham emiten perindustrian PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melantai atau IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (9/7/2025). Foto Nadia K. Putri/SWA

Berdasarkan data internal Deloitte Asia Tenggara, jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) di kawasan tersebut masih didominasi oleh Indonesia dan Malaysia di sepanjang tahun 2025.

Deloitte Southeast Asia Capital Markets Services Leader, Tay Hwee Ling memaparkan hal ini ditunjukkan dengan jumlah IPO di dua negara sejak tahun 2021 hingga tahun 2025. Indonesia mengumpulkan 54 perusahaan IPO di 2021, 59 perusahaan di 2022, dan tertinggi sebanyak 79 perusahaan di 2023. Kemudian, anjlok sebanyak 41 perusahaan di 2024 dan 24 perusahaan di 2025.

Dibandingkan dengan Malaysia, negeri jiran tersebut mengumpulkan 29 perusahaan IPO di 2021, 35 perusahaan di 2022, dan 32 perusahaan di 2023. Kemudian, melonjak hingga 55 perusahaan di 2024, walaupun ikut turun sebanyak 48 perusahaan di 2025.

“Jika melihat tren IPO, Indonesia belum mencapai angka historis. Seperti biasa, dalam 5 atau 10 tahun terakhir, jumlah perusahaan IPO sekitar 15 setiap tahun. Tapi dalam paruh tahun ini, mereka hanya mencapai 24 perusahaan IPO,” ujar Ling dalam paparannya konferensi pers daring bertajuk IPO Asia Tenggara 2025 pada Selasa (18/11/2025).

Meskipun demikian, penggalangan dana IPO di Indonesia dan Malaysia belum sebanyak Singapura dan Vietnam sepanjang tahun ini. Adapun, Singapura mengumpulkan 9 perusahaan IPO dan Vietnam sebanyak 2 perusahaan sepanjang 2025. Namun, Singapura membukukan raihan dana IPO sebesar US$1,6 miliar dan Vietnam sebesar US$1 miliar. Sedangkan Indonesia sebesar US$921 juta dan Malaysia sebesar US$1,11 miliar.

Sepanjang 2025, IPO di Indonesia, Malaysia, dan Vietnam berkontribusi terhadap kapitalisasi pasar saham Asia Tenggara sekitar 74%. Hal ini ditunjukkan dengan nilai kapitalisasi pasar di Indonesia sebesar US$8,07 miliar, Malaysia sebesar US$4,68 miliar, Singapura sebesar US$2,89 miliar, dan Vietnam sebesar US$7,66 miliar.

Namun, Ling menggarisbawahi bahwa IPO di Filipina mulai mencetak angka kapitalisasi pasar, senilai US$2 miliar dan Thailand sebesar US$2,34 miliar. Dua negara ini menyusul negara-negara lainnya yang mencetak kapitalisasi pasar terbesar seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.

Secara sektoral, Ling memaparkan bahwa sektor energi dan sumber daya alam masih menjadi kelompok dominan di Asia Tenggara. Di Indonesia, perusahaan IPO seperti PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dari sektor barang baku dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dari sektor infrastruktur menjadi salah satu penyumbang sektor tersebut di Asia Tenggara.

“Untuk energi dan sumber daya alam, hal yang sama berlaku. Indonesia, Filipina, dan dalam beberapa hal, kadang Iran, Malaysia, dan wilayah lainnya... Filipina unik, mereka punya air, panel surya, energi hijau juga. Ini merupakan fondasi penting bagi Asia Tenggara,” jelas Ling kepada SWA.co.id di sesi tanya jawab daring siang ini. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag