Di Tengah Pasar Otomotif yang Melambat, Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia Justru Melonjak 49%

Di Tengah Pasar Otomotif yang Melambat, Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia Justru Melonjak 49%
SPKLU mobil listrik. (Ist)

Di tengah lesunya pasar otomotif nasional, kendaraan listrik justru melaju kencang. Laporan PwC ASEAN-6 eReadiness 2025 mencatat pasar kendaraan ringan (light vehicle/LV) Indonesia mengalami kontraksi 11% secara year-to-date (YTD) hingga kuartal III/2025, sementara secara keseluruhan ASEAN hanya turun 1,5%.

Tumbuh

Di sisi lain, segmen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia tumbuh 49% dengan tingkat adopsi mencapai 18% dari total penjualan, sedikit di atas rata-rata ASEAN sebesar 17%.

Laporan tersebut merupakan bagian dari studi global Electric Vehicle Readiness (eReadiness) 2025 yang melibatkan responden di 28 negara, dengan fokus khusus pada enam negara ASEAN: Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Singapura.

Kajian ini menggambarkan opini konsumen terkait berbagai jenis kendaraan listrik — mulai dari battery electric vehicle (BEV), plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), hingga hybrid electric vehicle (HEV) — serta memotret pergeseran perilaku di tengah perubahan kebijakan, insentif, dan dinamika ekonomi kawasan.

Secara regional, total industry volume (TIV) untuk kendaraan ringan di ASEAN-6 relatif stabil di 2.368.000 unit pada YTD kuartal III/2025, hanya turun 1,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, Indonesia menjadi salah satu pasar yang paling tertekan akibat kombinasi kenaikan pajak kendaraan mewah, pengurangan belanja pemerintah, dan pelemahan rupiah yang menekan daya beli, sehingga konsumen menunda pembelian mobil konvensional.

Sebaliknya, Vietnam dan Singapura justru mencatat pertumbuhan menonjol masing-masing sebesar 18% dan 25%, didukung insentif EV, kebijakan registrasi yang pro-elektrifikasi, serta penguatan ekonomi.

Mobil Vietnam, VF 7 resmi diperkenalkan Vinfast di Indonesia pada Agustus 2025. (Foto: M.Ubaidillah/SWA)

Berlawanan Arah

Dalam konteks itu, elektrifikasi di Indonesia berjalan berlawanan arah dengan pasar otomotif konvensional. Lukmanul Arsyad, PwC Indonesia Industrials and Services Leader, menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik membuka ruang pertumbuhan baru di tengah tekanan pada penjualan kendaraan berbasis mesin pembakaran internal.

“Di tengah kontraksi pasar otomotif Indonesia sebesar -11% pada YTD kuartal III 2025, elektrifikasi bergerak ke arah sebaliknya. Segmen EV Indonesia tumbuh +49%, sementara ASEAN secara keseluruhan mencatat +62%, dengan tingkat adopsi mencapai 18% dari total penjualan kendaraan, sedikit di atas rata-rata ASEAN sebesar 17%," ujarnya dalam keterangan tertulis (20/11/2025).

"Thailand dan Vietnam bahkan mencatat pertumbuhan lebih agresif masing-masing +45% dan +84%, dengan tingkat adopsi jauh lebih tinggi di 30% dan 33%. Tren ini menegaskan peluang besar untuk percepatan EV, didorong oleh insentif pajak dan investasi baterai, pada saat pasar konvensional tertekan," tambahnya.

Survei PwC juga memetakan tiga kelompok konsumen di Indonesia: 14% merupakan pemilik EV, 70% tergolong prospek EV (berminat membeli), dan 17% masih skeptis terhadap kendaraan listrik.

Angka prospek EV di Indonesia merupakan yang terendah di ASEAN-6, sementara Filipina memimpin dengan 84% prospek. Sebaliknya, Filipina dan Malaysia memiliki basis pemilik EV paling kecil, masing-masing hanya 3% dan 4%, yang menunjukkan bahwa tahapan adopsi di tiap negara masih sangat beragam.

Manajer umum BYD Asia-Pasifik Liu Xueliang meluncurkan mobil listrik versi Thailand hatchback Dolphin dengan harga murah. (Foto: Nikkei Asia)
BYD saat meluncurkan mobil listrik versi Thailand hatchback Dolphin. (Foto: Nikkei Asia)

Kepuasan Tertinggi

Menariknya, tingkat kepuasan pemilik EV di Indonesia sangat tinggi. Hampir seluruh pemilik EV (99%) menyatakan puas dengan kendaraan mereka, naik signifikan dibanding laporan tahun sebelumnya yang berada di 93%. Ini menjadi tingkat kepuasan tertinggi di ASEAN, di atas Malaysia (96%) dan Filipina (93%).

Secara regional, pengguna EV mengaku puas terutama karena waktu pengisian daya yang lebih cepat (50%), biaya operasional yang lebih rendah (47%), dan umur baterai yang lebih baik (46%).

Faktor waktu pengisian dan biaya operasional konsisten dengan temuan tahun lalu, khususnya di Indonesia yang sejak awal menempatkan efisiensi penggunaan sehari-hari sebagai pertimbangan utama.

Namun demikian, adopsi EV tidak sepenuhnya tanpa catatan. Sebanyak 33% pemilik EV di Indonesia mempertimbangkan untuk kembali menggunakan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Alasan utama mereka adalah biaya perawatan yang lebih tinggi dari perkiraan (71%), pengalaman berkendara yang belum sesuai harapan (61%), serta jarak tempuh yang dianggap kurang memadai (52%).

Di sisi lain, 47% pemilik EV di Indonesia mempertimbangkan untuk membeli EV bekas sebagai kendaraan berikutnya, lebih rendah dibanding rata-rata ASEAN-6 sebesar 59%, yang mengindikasikan pasar EV bekas masih perlu waktu untuk berkembang optimal.

Di kelompok calon pembeli, preferensi terhadap mobil berukuran sedang mendominasi pasar ASEAN-6, termasuk Indonesia yang mencatat 69% minat di segmen ini. Harga tetap menjadi faktor krusial: hampir setengah (48%) calon pengguna EV di kawasan mengharapkan harga di bawah US$46.000, dengan sekitar 15% menyasar segmen harga rendah di bawah US$11.000.

Di Indonesia, konsumen yang masih skeptis terutama khawatir terhadap jarak tempuh yang terbatas (55%), ketidakpastian daya tahan baterai (53%), dan waktu pengisian (42%). Sementara di sebagian besar negara ASEAN lainnya, waktu pengisian masih menjadi kekhawatiran nomor satu dalam keputusan pembelian.

Laporan PwC juga mengukur tingkat kesiapan elektrifikasi di enam negara ASEAN berdasarkan empat dimensi: insentif pemerintah, ketersediaan infrastruktur, pasokan, dan permintaan. Indonesia menunjukkan kemajuan berarti dengan skor kesiapan EV 2,8 (dari skala 5) pada 2025, naik tajam dari 2,0 di tahun sebelumnya.

Lompatan terbesar terjadi pada dimensi insentif pemerintah yang mencapai 4,0, menjadikan Indonesia negara dengan insentif tertinggi di ASEAN-6. Permintaan konsumen juga tergolong kuat dengan skor 3,7, merefleksikan minat yang besar terhadap kendaraan listrik, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi penjualan karena hambatan struktural lain.

Di sisi lain, dua aspek masih tertinggal: infrastruktur dan pasokan. Ketersediaan infrastruktur pengisian daya di Indonesia baru berada di angka 1,4, jauh di bawah Singapura yang sudah mencapai 4,3. Pasokan kendaraan listrik di Indonesia juga relatif rendah dengan skor 2,3, masih di belakang Vietnam yang mencapai 3,0.

Kondisi ini menggambarkan bahwa meski insentif dan permintaan sudah cukup progresif, kapasitas ekosistem pendukungnya perlu digenjot agar momentum tidak hilang.

Pemerintah dan Pelaku Industri

Lukmanul Arsyad menegaskan bahwa keberhasilan elektrifikasi Indonesia ke depan akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan pelaku industri menutup kesenjangan ini. “Permintaan konsumen tetap kuat di angka 3,7, menunjukkan Indonesia siap untuk adopsi EV. Dengan fondasi kebijakan yang solid dan insentif tertinggi di ASEAN sebesar 4,0, Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik investasi dan mempercepat transisi EV," katanya.

"Namun, keberhasilan akan bergantung pada penutupan kesenjangan infrastruktur, yang saat ini hanya 1,4 dibandingkan Singapura di 4,3, serta penguatan rantai pasok. Pasokan di Indonesia juga masih relatif rendah di angka 2,3, di bawah Vietnam yang mencapai 3,0. Kesenjangan struktural ini menegaskan urgensi aksi terkoordinasi untuk menjaga momentum dan mengamankan posisi kompetitif Indonesia di kawasan,” dia menambahkan.

Secara keseluruhan, temuan PwC ASEAN-6 eReadiness 2025 menempatkan Indonesia dalam posisi unik: pasar kendaraan konvensional sedang melambat, tetapi elektrifikasi justru tumbuh agresif dengan tingkat kepuasan yang sangat tinggi di kalangan pengguna.

Dengan insentif yang sudah kompetitif, tantangan berikutnya adalah mempercepat pembangunan infrastruktur pengisian, memastikan ketersediaan pasokan, serta menghadirkan produk yang mampu menjawab kekhawatiran konsumen terkait biaya perawatan, jarak tempuh, dan pengalaman berkendara.

Jika semua itu dapat diatasi melalui kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia berpotensi mengukuhkan diri sebagai salah satu pemain utama pasar EV di kawasan ASEAN. (*)

Report lengkap bisa diunduh di: https://www.pwc.com/id/en/publications/automotive/pwcid-ereadiness-2025-asean-report.pdf

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag