Kiwoom Sekuritas: Dana Rp20 T Danantara Bisa Gemukkan Bisnis Ayam, tapi Juga Picu Over-Supply
Kiwoom Sekuritas Indonesia mencermati, alokasi pendanaan Rp20 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) berpeluang memperkuat rantai pasok nasional, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, secara umum pendanaan tersebut akan menghubungkan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor hulu dengan peternak kecil di hilir melalui pola inti-plasma.
Dalam pola inti-plasma, integrator menyediakan anak ayam atau day old chick (DOC), pakan, obat-obatan, pendampingan teknis, hingga menjadi pembeli hasil peternakan (offtaker).
Sementara itu, peternak kecil (plasma) menjalankan operasional kandang. Pendanaan ini dinilai berpotensi memperluas ekosistem integrator besar maupun menengah, sekaligus mendorong ekspansi pemain berskala lebih kecil.
Ada lima emiten yang dinilai potensial mendapat dampak dari skema pendanaan ini, yakni Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan Malindo Feedmill Tbk (MAIN) sebagai pemain besar–menengah, serta PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) dan PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMUU) sebagai pemain skala lebih kecil. Masing-masing akan menghadapi manfaat dan risiko sesuai skala usaha dan tingkat efisiensinya.
Pertama, dari sisi input berupa DOC, pakan, dan obat, CPIN, JPFA, dan MAIN berpotensi mengalami peningkatan permintaan seiring implementasi MBG. Tiga emiten ini berpeluang menikmati kenaikan volume dari peternak kecil yang kini dapat mengakses pembiayaan perbankan.
Selain itu, MAIN, JPFA, dan WMUU akan diuntungkan dari meningkatnya permintaan pakan, sedangkan CPIN dan AYAM yang fokus pada broiler ayam berpotensi mencatat kenaikan volume.
Kedua, dari sisi risiko piutang, pendanaan Danantara akan meningkatkan kelayakan kredit plasma. Dengan demikian, integrator besar tidak lagi sepenuhnya menanggung risiko kredit dan arus kas dapat menjadi lebih stabil.
Ketiga, dari sisi harga, program MBG diklaim dapat menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran, sehingga pola harga ayam dan telur yang selama ini volatil berpeluang menjadi lebih stabil. Bagi integrator besar, stabilitas harga akan membantu menjaga margin agar tidak mudah tergerus.
“Dengan keterlibatan BUMN sektor hulu, integrator besar bisa menjadi mitra strategis dalam jaringan produksi baru ini,” jelas Liza dalam risetnya pada 20 November 2025.
Namun, Liza juga mengingatkan bahwa pendanaan Danantara berpotensi meningkatkan risiko over-supply nasional. Jika kapasitas peternak kecil melonjak tanpa diimbangi regulasi serapan yang memadai, harga ayam broiler (livebird) bisa jatuh dan memukul margin pelaku usaha.
Selain itu, jika pemerintah mematok harga terlalu rendah untuk suplai MBG, integrator berpotensi kehilangan kesempatan memperoleh windfall margin. Bila porsi peran BUMN dalam pendanaan ini sangat besar, daya tawar integrator besar swasta pun berpeluang menurun.
Untuk AYAM dan WMUU, pendanaan Danantara dinilai dapat menjadi katalis pertumbuhan. Keduanya berpotensi menjadi basis produksi bagi peternak kecil sekaligus mengurangi risiko kredit para plasma yang mereka bina.
“Skema ini justru membuat AYAM dan WMUU punya kesempatan tumbuh lebih cepat dibanding status quo,” lanjut Liza.
AYAM dan WMUU juga berpeluang memperoleh kesempatan positif menjadi pemasok ayam olahan MBG, yang pada gilirannya dapat memperbesar skala plasma yang dibiayai Danantara.
“Model Danantara memberikan pembiayaan ke peternak kecil, menjadikan ekspansi plasma AYAM atau WMUU lebih mudah,” tegas Liza.
Sayangnya, dampak negatif juga mengintai AYAM dan WMUU. Jika terjadi kelebihan suplai, kedua emiten ini berpotensi terpukul lebih cepat ketika harga broiler runtuh. Mereka juga harus bersaing langsung dengan CPIN, JPFA, dan MAIN yang memiliki efisiensi lebih tinggi. Di sisi lain, jika pemerintah menekan harga demi MBG, integrator menengah–kecil akan kesulitan memperoleh pricing power.
Sebelumnya, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Patria Sjahrir, merespons pertanyaan mengenai pendanaan Danantara untuk Badan Gizi Nasional, lembaga yang menaungi program MBG. Namun, Pandu belum dapat berkomentar mengenai pendanaan Rp20 triliun untuk peternak ayam pedaging dan petelur.
“Belum kami umumkan. Kalau betul dari Danantara, pihak Danantara akan berbicara,” ujar Pandu singkat saat doorstop dengan awak media di acara Antara Business Forum pada 19 November 2025. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.