ENRG Terbitkan Obligasi Berkelanjutan Tahap I, Incar Dana Segar Rp4 Triliun
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengumumkan pelaksanaan aksi korporasi strategis melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap I Tahun 2025 dengan tujuan untuk pembayaran utang ke bank dan lembaga keuangan non bank serta kebutuhan modal kerja.
Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap I Tahun 2025 akan diterbitkan dalam tiga seri, yaitu seri A bertenor 1 tahun dengan kupon 6,75%-7,25%, seri B bertenor 3 tahun dengan kupon 7,50%-8,25%, dan seri C bertenor 5 tahun dengan kupon 8,50%-9,25%. Pembayaran kupon tersebut akan dilaksanakan per tiga bulan sekali atau kuartalan.
Seluruh obligasi yang ditawarkan nantinya akan tercatat pada PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini menegaskan komitmen perusahaan terhadap transparansi dan likuiditas di pasar modal.
Obligasi ini juga sudah memperoleh peringkat idA+ (single A plus) dari Pefindo dan pelaksana emisi obligasi atau underwriter penerbitan obligasi ENRG adalah PT Mandiri Sekuritas, PT Sucor Sekuritas Indonesia, dan PT Trimegah Sekuritas.
Terkait tren penurunan suku bunga saat ini, Edoardus Ardianto, Wakil Direktur Utama & CFO Energi Mega Persada, mengatakan hal tersebut memberikan keuntungan perseroan dalam mendapatkan pendanaan yang lebih murah.
"Jika nanti seluruh obligasi ini bisa subscribe dari tahap satu sampai kemudian nanti di tahap empat, itu bisa menurunkan pressing untuk pembiayaan kami dalam membiayai seluruh pembiayaan, modal kerja, dan pengembangan usaha," jelas Edoardus dalam taklimat media di Jakarta, Senin (1/12/2025).
ENRG berencana akan mengalokasikan 24,82% pendanaan yang didapat dari obligasi tahap I ini untuk pembayaran lebih awal atas seluruh pokok utang beserta bunga perseroan kepada KCS1 Pte. Ltd.
Kemudian, sekitar 21,03% akan digunakan untuk memberikan pinjaman kepada PT Bangun Sarana Samudra Laut (BSSL) yang merupakan anak usaha ENRG. Dana tersebut akan digunakan BSSL untuk membayar seluruh pokok utang beserta bunga kepada Bank Mandiri.
Sisanya, akan digunakan ENRG untuk modal kerja dalam rangka mendukung kegiatan usaha yang meliputi pembayaran biaya-biaya produksi, biaya sewa fasilitas produksi, biaya bahan bakar produksi, biaya gaji, serta kewajiban kepada pemasok. Saat ini ENRG mengelola 13 aset minyak dan gas bumi. Aset-aset tersebut tersebar di wilayah Indonesia hingga Mozambik. Perusahaan memiliki rekam jejak kuat dalam pengelolaan cadangan migas.
Keberhasilan operasional terlihat dari pengembangan lapangan baru atau Green Fields. Perseroan berhasil menginisiasi produksi Lapangan TSB dengan puncak 300 MMSCFD. Produksi gas Bentu PSC juga stabil dengan rata-rata sekitar 80 MMSCFD.
Perseroan juga diketahui telah merevitalisasi lapangan tua atau Mature Fields. Hasil revitalisasi telah mendorong produksi minyak Malacca Strait PSC meningkat dari 1.100 BOPD pada tahun 2017 menjadi sekitar 5.000 BOPD. Produksi gas Sengkang juga terjaga di angka 40 MMSCFD secara berkelanjutan.
ENRG juga diketahui mampu menjaga tingkat Reserves Replacement Ratio sebesar 2,15 kali. Rasio Reserves to Productions juga tercatat sebesar 10,89 kali.Dari sisi tata kelola, ENRG memiliki reputasi yang baik. Perusahaan memperoleh peringkat ESG Sangat Baik dari Dunn & Bradstreet. Mereka juga mendapatkan predikat risiko Medium dari Sustainalytics serta penghargaan Proper Hijau dan Biru dari pemerintah Indonesia.
Optimisme tinggi menyelimuti prospek bisnis perseroan. Minyak dan gas bumi diprediksi tetap menjadi pilar utama sistem energi nasional. Permintaan minyak diperkirakan naik 139% dan gas naik hingga 298% sampai dengan tahun 2050.(*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.