Gapki Menjabarkan Peluang dan Tantangan Bisnis CPO di 2026
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) baru-baru ini menerbitkanprospek bisnis kelapa sawit di tahun 2026. Kajian Gapki ini merupakan rangkuman dari rangkaian diksusi panel di forum Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Bali pada pertengahan November tahun ini.
Gapki memproyeksikan harga minyak sawit global masih berada di level tinggi secara historis. Setelah rata-rata harga CPO dunia berkisar sekitar US$1.050–1.100/ton pada 2024 (CIF Rotterdam), pasar 2025 bergerak dalam rentang yang mirip, dengan beberapa episode penguatan ketika stok menipis dan harga minyak nabati lain menguat. Proyeksi konsensus pelaku industri mengindikasikan lingkungan harga yang tetap kuat pada paruh pertama 2026, dengan kisaran sekitar US$1.050–1.150/ton, tergantung realisasi cuaca, kebijakan biofuel, dan perkembangan ekonomi global.
“Namun dibalik proyeksi harga yang menguat, ada isu keberlanjutan yang sorotannya semakin menguat terutama di pasar Uni Eropa dan Amerika,” jelas Fadhil Hasan, Kepala Divisi Hubungan Luar Negeri Gapki pada keterangannya yang dikutip Senin (8/12/2025)
Gapki mengamati Uni Eropa sedang menjadi “ujung tombak” regulasi lingkungan yang berdampak langsung ke industri sawit Indonesia. Ada dua regulasi yang cukup menjadi tantangan bagi industri CPO, pertama adalah Renewable Energy Directive (RED II/III), regulasi ini mendorong Uni Eropa secara bertahap mengurangi peran biodiesel berbasis sawit dalam bauran energi terbarukan, menuju phase-out penuh 2030.
Kedua, EU Deforestation Regulation (EUDR) yang mewajibkan komoditas seperti minyak sawit yang masuk ke pasar UE harus bebas deforestasi pasca 2020, dengan traceability sampai titik koordinat lahan. Di sisi lain, AS dan Inggris juga mulai mengembangkan regulasi rantai pasok bebas deforestasi, walau implementasinya belum seketat UE.
Untuk menghadapi ini, Gapki menghimbau eksportir CPO Indonesia untuk membangun sistem traceability dan geolokasi yang kuat. Kemudian memastikan legalitas dan status penutupan lahan (forest cover) untuk tiap rantai pasok, serta menyiapkan biaya kepatuhan (compliance cost) yang lebih tinggi.
GAPKI menjelaskan, Indonesia bersama Malaysia telah mengambil langkah lewat Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), forum ASEAN, hingga kerja sama dengan BRICS, untuk mendorong standar keberlanjutan yang “adil”—yang tidak mengorbankan pembangunan di negara produsen.
Data GAPKI menunjukkan secara volume, pusat gravitasi permintaan sawit terus bergeser. Di Uni Eropa, volume impor sawit cenderung turun, dan diarahkan hanya untuk segmen niche dan produk tersertifikasi tinggi.
“Uni Eropa memang bukan lagi pasar pertumbuhan bagi Indonesia, tetapi pasar premium untuk produk yang memiliki nilai tambah keberlanjutan tinggi, dan juga sebagai talase reputasi yang bisa mempengaruhi persepsi di pasar lain serta lembaga keuangan global, sehingga pasar ini tetap penting,” jelas Fadhil.
India, Tiongkok, dan negara Asia lainnya tetap menjadi motor utama permintaan, meski dengan pola perdagangan yang dinamis. Sedangkan Timur Tengah dan Afrika muncul sebagai pasar pertumbuhan baru, seiring peningkatan populasi dan perkembangan industri makanan.
“Diversifikasi pasar ini memperkuat ketahanan permintaan bagi Indonesia, tetapi juga berarti akan ada lebih banyak kombinasi tarif, regulasi, dan risiko mata uang yang harus dikelola, kebutuhan strategi pemasaran dan diplomasi perdagangan yang lebih tersegmentasi per kawasan.”lanjutnya.
Menghadapi lingkungan harga 2026 cenderung tetap di zona tinggi, namun sarat risiko, GAPKI menghimbau perusahaan sebaiknya mengunci sebagian margin melalui hedging, kontrak jangka menengah, dan manajemen stok yang disiplin, sambil menginvestasikan kelebihan keuntungan ke produktifitas dan hilirisasi. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.