Jumlah Kunjungan Wisatawan di Desa Penglipuran Mencapai Target 722 Ribu
Desa Wisata Penglipuran di Bangli, Bali menargetkan jumlah kunjungan wisatawan kian semarak di liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. I Wayan Sumiarsa, pengelola Desa Wisata Penglipuran, mengatakan liburan akhir tahun itu merupakan musim puncak kunjungan wisatawan.
Tahun ini, Penglipuran menargetkan 2.000 wisatawan per hari atau sekitar 722 ribu pengunjung hingga akhir tahun 2025.“Target itu sudah tercapai per November,” kata Sumiarsa saat dihubungi SWA.co.id pada Senin (8/12/2025).
Desa Penglipuran terus menegaskan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata kelas dunia yang berfokus pada keberlanjutan. Menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, desa adat ini tidak hanya menambah atraksi budaya, tetapi juga memperkuat pesan bahwa setiap kunjungan wisatawan harus memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
“Kami mengundang wisatawan bukan hanya untuk berfoto, tetapi ikut menjaga kebersihan, menghormati adat, membeli produk UMKM lokal, dan menjadi bagian dari gerakan pariwisata regeneratif,” ucap Sumiarsa.
Desa Penglipuran kini tidak sekadar mempertahankan predikat sebagai desa wisata berkelanjutan. Desa ini melangkah lebih jauh dengan mengadopsi model pariwisata regeneratif, pendekatan yang tidak hanya meminimalkan dampak negatif, tetapi juga aktif memperbaiki kualitas lingkungan, sosial, dan budaya.
Penerapan model ini terlihat jelas dalam beberapa aspek seperti pelestarian hutan bambu, yang menjadi identitas ekologis dan kultural Penglipuran, community-based tourism, memastikan desa adat dan masyarakat menjadi pengambil keputusan utama, dan pemerataan manfaat ekonomi, terutama melalui penguatan UMKM rumah tangga.
Kekuatan desa ini bertumpu pada filosofi Tri Hita Karana, yang menyeimbangkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Implementasi nilai lokal tersebut menjadikan Penglipuran model pariwisata yang autentik, inklusif, dan tahan terhadap tekanan perubahan.
Capaian tersebut menunjukkan tingginya minat wisatawan terhadap destinasi yang menawarkan keseimbangan antara pengalaman budaya, suasana alam yang asri, serta komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan.
Pengelola desa wisata ini konsisten menjaga harmoni alam, budaya dan masyarakat. Desa Penglipuran menjadi rujukan nasional dalam pengembangan pariwisata regeneratif. Desa ini membuktikan bahwa pertumbuhan wisata dapat dicapai tanpa mengorbankan identitas lokal.
Desa Penglipuran tidak hanya menjadi tempat untuk berlibur, tetapi ruang belajar tentang bagaimana komunitas lokal dapat memimpin perubahan menuju pariwisata yang lebih adil, sehat, dan berkelanjutan. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.