Tingkat Okupansi Hotel di Bali Berpeluang Naik 5–10% di Liburan Nataru
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace), memproyeksikan tingkat okupansi hotel di Bali naik sekitar 5–10% di liburan Natal dan Tahun Baru. “Pergerakan biasanya mulai terasa pada minggu ketiga Desember. Saat ini masih low season dengan okupansi anggota PHRI di kisaran 40–60%,” ujar Cok Ace ketika dihubungi SWA.co.id di Denpasar, Bali, Selasa (9/12/2025)
Kondisi pasar domestik yang tak kunjung pulih menjadi salah satu penghambat laju okupansi. Setelah pandemi, frekuensi penerbangan dalam negeri belum sepenuhnya kembali normal. Harga tiket pesawat relatif masih tinggi, terutama dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar.
Dua faktor utama yang menekan kedatangan wisatawan nusantara adalah rendahnya jumlah penerbangan dan mahalnya tarif tiket dan cuaca ekstrem dan ketidakpastian perjalanan selama musim hujan. Padahal, sebelum pandemi, pasar domestik berkontribusi besar ternhadap pertumbuhan okupansi, terutama hotel bintang tiga ke bawah dan hotel keluarga.
Di sisi lain, pasar wisatawan mancanegara mencatat tren positif. Cok Ace menyebutkan sebelum Covid-19 rata-rata kedatangan wisman sekitar 18 ribu per hari, sedangkan kini sudah menembus lebih dari 20 ribu per hari."Wisman datang lebih banyak, tapi hotel berbintang tidak ikut merasakan lonjakan hunian," ujar Cok Ace lagi.
Pergeseran perilaku dan preferensi wisatawan menjadi penyebab utama wisman makin memilih homestay, vila, dan kost elit, akomodasi alternatif beroperasi tanpa izin, dan tumbuhnya digital nomad dan long-stayer."Akibatnya, meskipun jumlah kedatangan wisman meningkat, data BPS menunjukkan rata-rata okupansi hotel turun dari 68% tahun lalu menjadi di bawah 60%," sebutnya.
Kondisi ini menciptakan paradoks pariwisata Bali terlihat pulih dari sisi jumlah kunjungan, namun tidak dari sisi pendapatan akomodasi resmi.Industri perhotelan menghadapi persoalan yang bersifat struktural karena belum optimalnya pengawasan akomodasi informal yang tumbuh pesat melalui platform digital, perubahan pola perjalanan yang lebih memilih akomodasi fleksibel, jangka panjang, atau berbasis komunitas, ketergantungan pada pasar domestik, yang kini sedang melemah, dan ketimpangan okupansi antarwilayah, wilayah premium seperti Badung jauh lebih tinggi dibandingkan Bangli, Karangasem, atau Jembrana.
Jika tidak ditangani, ketimpangan ini dapat mempengaruhi stabilitas usaha perhotelan yang selama ini menjadi penyumbang signifikan lapangan kerja dan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Menghadapi momentum libur akhir tahun, hotel-hotel anggota PHRI Bali delain menyiapkan program pesta Old & New memperkuat kesiapan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi melalui kerja sama dengan BPBD untuk pelatihan dan sertifikasi mitigasi bencana.
“Kami terus berupaya menjaga keamanan dan kenyamanan tamu. Kita terus update,” ujar Cok Ace. Target okupansi 5–10% pada Nataru itu dipandang sebagai sinyal positif, namun belum cukup untuk mengembalikan performa perhotelan ke level pra-pandemi.
Tahun depan itu menjadi tahun penentu apakah hotel mampu beradaptasi terhadap disrupsi akomodasi alternatif, pemulihan penuh penerbangan, dan strategi rebalancing pasar domestik dan internasional. "Tanpa intervensi regulasi yang lebih tegas serta peningkatan daya saing layanan, sektor perhotelan berpotensi menghadapi tekanan berkepanjangan," imbuhnya. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.