Netflix Telan Warner Bros Discovery: Apa Dampaknya bagi Pasar OTT Indonesia?
Netflix resmi mengakuisisi Warner Bros. Discovery (WBD) dengan membayar US$27,75 per saham, dengan total nilai perusahaan sekitar US$82,7 miliar. Waralaba, acara, dan film WBD seperti The Big Bang Theory, The Sopranos, Game of Thrones, The Wizard of Oz, dan DC Universe akan bergabung dengan portofolio ekstensif Netflix yang sudah diisi Wednesday, Money Heist, Bridgerton, Adolescence, Extraction, dan berbagai judul populer lainnya.
Merespons hal ini, Yuswohady, Managing Partner Inventure, menuturkan ada kekhawatiran bahwa popularitas layanan seperti ini di segmen atas akan merembes ke lapisan masyarakat yang lebih luas di Indonesia. Berbagai merek berbasis OTT (over-the-top) berpotensi menekan harga di pasar.
“Netflix harus terus memperluas pasarnya. Tantangan terbesar Netflix adalah bagaimana menjangkau segmen yang lebih bawah,” ungkapnya kepada SWA.co.id pada Selasa (9/12/2025).
Untuk dapat memasuki semua segmen masyarakat, strategi harga harus menyesuaikan. Karena itu, Netflix dinilai perlu menerapkan segmentasi paket harga, di mana konten tertentu mungkin disediakan khusus untuk segmen pengguna tertentu.
Dengan akuisisi tersebut, Netflix dapat menawarkan lebih banyak pilihan konten. Hal ini semakin memperkuat kecenderungan pasar menuju bentuk monopoli, menyisakan dua atau tiga pemain besar yang mendominasi. Meskipun bukan kartel dalam arti formal, kekuatan pasar mereka pada akhirnya akan terpusat.
Rasa Adiktif
Menurut Yuswohady, hiburan digital seperti Netflix menciptakan ketergantungan atau fenomena yang disebut lock-in. Kontennya terus diperbarui, sehingga selalu ada hal baru untuk ditonton. Bahkan jika belum sempat menonton, pengguna bisa menyimpan dan menikmatinya di kemudian hari. Layanan ini juga bekerja dengan algoritma AI yang menyesuaikan preferensi pengguna, sehingga pengalaman menonton terasa sangat personal.
Dari Bioskop ke Rumah
Yuswohady mengungkapkan bahwa tren menonton film di rumah akan semakin menguat di Indonesia pada 2026. Menonton di rumah menawarkan kenyamanan: bisa dilakukan kapan saja, bisa dijeda, dan dilanjutkan sesuai kebutuhan.
Meski begitu, beberapa jenis film tetap lebih layak ditonton di bioskop karena kualitas suara dan suasana yang lebih imersif. “Segmen penonton bioskop tetap akan ada dan tetap kuat. Namun jumlah penonton di layanan digital akan meningkat jauh lebih besar. Bioskop cenderung menjadi pasar niche, sementara layanan OTT menjadi pasar massal,” pungkasnya. (*)