Dari Plafon PVC ke Porang: Lompatan Bisnis Adit Setiawan, dari Sleman ke Pasar Global

Adit Setiawan bersama produknya. (Foto: Gigin W. Utomo/SWA)
Adit Setiawan bersama produknya. (Foto: Gigin W. Utomo/SWA)

Di dunia bisnis, keberanian membaca peluang sering kali lebih menentukan daripada sekadar besarnya modal. Prinsip inilah yang dipraktikkan Adit Setiawan. Pengusaha asal Sleman yang sebelumnya dikenal sebagai pemain plafon PVC, kini namanya mulai mencuat di berbagai lini bisnis lain.

Mie dan Nasi Porang

Langkah terbarunya terbilang menarik. Adit masuk ke industri makanan olahan kesehatan dengan meluncurkan beras porang dan mie porang. Hasilnya jauh dari kata coba-coba. Dalam tempo empat bulan, omzet penjualan menembus Rp4 miliar. “Market-nya ternyata gede,” ujar Adit, sederhana namun penuh keyakinan.

Selama setahun terakhir, Adit — pengusaha muda kelahiran Agustus 1989 — secara serius menggarap bisnis baru di industri pangan. Melalui PT Dietmeal Asia Food, ia meluncurkan produk Nasi Porang dan Mie Porang, dua produk yang diklaim rendah kalori dan ramah bagi pelaku diet serta penderita diabetes. Produk itu ia kemas modern, bersih, dan premium, karena ia paham makanan sehat tidak cukup hanya soal fungsi, tetapi juga soal persepsi dan gaya hidup.

Di sinilah strategi khasnya muncul: agresif, cepat, dan berlapis. Ia menyiapkan puluhan merek untuk menguasai pasar. Lebih dari 20 merek beras porang telah diproses untuk pendaftaran di BPOM. Namun baru beberapa yang resmi diluncurkan, seperti Diet Meal, Saporro, FUMIKO, dan Takara.

Untuk kategori mie porang, dua merek dilepas ke pasar: Flemee dan Keto Mie. Ini bukan sekadar diversifikasi merek, melainkan strategi untuk bisa mendominasi pasar — formula yang sudah terbukti sukses di bisnis plafon PVC.

Untuk mempercepat penetrasi pasar, Adit menggabungkan dua jalur distribusi: luring dan daring. Produk nasi dan mie porang kini dapat ditemukan di jaringan ritel modern seperti Superindo, Alfamart, dan Indomaret, serta dipasarkan melalui marketplace seperti Shopee.

Hasilnya datang lebih cepat dari perkiraan. Dalam empat bulan pertama, omzet Rp4 miliar berhasil dikantongi, bahkan menyamai pencapaian bisnis plafonnya yang baru diraih pada tahun kedua operasional. “Saya tidak menyangka sambutan pasar sebaik ini,” katanya.

Bagi Adit, angka itu bukan sekadar laporan penjualan; ia membacanya sebagai indikator: industri makanan sehat memiliki pasar yang jauh lebih besar dan lebih cepat tumbuh dibandingkan sektor material bangunan. Dan seperti kebiasaannya, begitu ia melihat sinyal, ia bergerak.

Produk-produk yang diluncurkan Adit. (Foto: Gigin W. Utomo/SWA)
Produk-produk mie dan nasi porang yang diluncurkan Adit. (Foto: Gigin W. Utomo/SWA)

Proyek Iseng

Menariknya, bisnis ini tidak lahir dari perencanaan matang bertahun-tahun. Awalnya hanya “proyek iseng” untuk memenuhi keinginan sang istri, Probosiwi, yang ingin memiliki usaha sendiri.

Inspirasi datang saat Adit berkunjung ke Canton Fair, China, tahun 2023. Di pameran dagang terbesar dunia itu, ia melihat mesin pengolahan porang menjadi beras. Ketertarikannya bukan sekadar pada teknologi, tetapi pada potensi pasar global yang terbuka lebar. “Saya tertarik ingin mencoba karena market-nya besar,” ujarnya.

Tanpa ragu, ia memesan satu unit mesin produksi senilai Rp1,5 miliar. Dua bulan kemudian, lini produksi siap berjalan.

Meski produk olahan porang sudah lebih dulu beredar di pasaran, Adit tak gentar. Respons pasar, dalam ceritanya, justru membuat langkahnya makin serius. Beras porang cepat diserap konsumen; pada bulan ketiga, ia menambah lini mie instan porang, menyusul permintaan yang terus berdatangan.

Ia mengklaim sebagai pionir mie porang di Indonesia. Menariknya, mesin produksi mie tidak diimpor, melainkan menggunakan mesin lokal dengan kualitas yang tak kalah bersaing. “Khusus mie porang, baru kami yang produksi,” tegasnya.

Dari sisi rasa dan tekstur, nasi porang dibuat semirip mungkin dengan nasi biasa, bahkan tersedia varian nasi ramen dan aneka rasa. Sementara mie porang disajikan layaknya mie instan konvensional: mudah, praktis, dan cepat.

Permintaan kemudian naik lebih cepat daripada kapasitas. Saat ini, produksi beras porang mencapai 2 ton per hari. Angka ini tergolong kecil secara volume, namun besar dari sisi nilai. Dengan harga Rp150 ribu per kilogram, margin yang dihasilkan cukup signifikan, bahkan untuk skala UMKM.

Untuk mie porang, tekanan permintaan lebih ekstrem: produksi baru mencapai 20 ribu pcs, sementara permintaan pasar menyentuh 300 ribu pcs per hari. Dengan harga eceran Rp8.500 per bungkus, mie porang memang lebih mahal dibanding mie instan biasa, namun pasarnya tetap tumbuh. “Ada retailer yang siap kontrak berapa pun saya produksi,” ujar Adit.

Kendala utamanya kini ada pada kapasitas mesin. Investasi mesin beras porang dari China yang mahal membuatnya berhitung matang sebelum menambah lini produksi baru. Tetapi seperti yang terlihat dari rekam jejaknya, hitung-hitungan itu jarang berujung diam; biasanya berujung langkah berikutnya.

Go Global

Tahun ini, Adit kembali membuat lompatan. Ia mendirikan PT Royal Bricket Asia, produsen briket arang untuk pasar ekspor: briket putih ditujukan ke Korea Selatan, sementara briket hitam untuk California, Amerika Serikat.

Di saat yang sama, ia juga meluncurkan bisnis perhotelan melalui PT Probosiwi Agro Wisata. Sebuah hotel berkonsep villa dibangun di kawasan Perbukitan Menoreh, diberi nama Probosiwi Villa, diambil dari nama sang istri.

Langkah global Adit berlanjut ke Jepang. Pada 2024, ia menyewa lahan 11 hektar untuk agribisnis kebun anggur bersama mitra lokal di dekat Gunung Fuji. “Masih tahap penanaman,” katanya singkat, seolah menandai bahwa untuknya, proyek lintas negara pun tetap dimulai dari tahap paling dasar: menanam.

Baginya, menjalankan bisnis di luar negeri bukan untuk gengsi, melainkan pertimbangan bisnis yang matang. Ia menyebut ada pengalaman yang menarik ketika berhasil membangun bisnis di negara asing.

Produk briket batubara. (Foto: royalbricket.com)
Produk briket arang yang dikembangkan Adit. (Foto: royalbricket.com)

Setelah sukses menggarap agribisnis di Jepang, tahun depan ia menyiapkan rencana membangun pabrik plafon di Bangalore, India. Ia melihat pasar di negara ini sangat bagus karena jumlah penduduk yang besar.

Dalam mengembangkan pasar plafon di India, Adit memilih membangun pabrik daripada ekspor: ekspor terkendala biaya pengiriman yang besar. Bila dihitung, ia menilai lebih murah karena bisa membeli mesin lokal yang lebih terjangkau dengan kualitas bagus.

Jejaringnya ikut membentuk peta langkah itu. Adit mengakui perannya di berbagai organisasi bisnis sangat berpengaruh. Ia aktif di HIPMI dan Kadin, bahkan kerap mengikuti lawatan bisnis bersama rombongan presiden ke luar negeri—dengan biaya pribadi.

Namanya semakin diperhitungkan setelah tercatat sebagai delegasi B20, mitra strategis G20. Ia juga anggota Junior Chamber International (JCI), organisasi nirlaba di bawah PBB. Dari berbagai forum internasional — termasuk B20 India — ia mendapatkan mitra bisnis nyata. Dari sinilah kontrak briket arang ekspor hingga kerja sama agribisnis di Jepang bermula.

Ia mengakui sudah mengunjungi lebih dari 70 negara. Namun tidak semua perjalanan berjalan mulus. Ia pernah menjadi korban kekerasan dan nyaris kehilangan nyawa ketika berkunjung bersama rombongan di Kenya.

Sesampai di ibu kota Kenya, setelah check-in hotel Adit merasa lapar. Kebetulan tidak jauh dari hotel ada restoran KFC. Ia berangkat sendirian menggunakan ojol Maxim. Selesai makan, ia bermaksud balik hotel. Karena jaraknya yang hanya sekitar 1 km, ia mencoba jalan kaki sambil melihat situasi kota.

Di luar dugaan, saat di jalan yang sepi, ia tiba-tiba disekap dari belakang. Lehernya dikunci sehingga ia tidak bisa gerak. Ada tiga pelaku, yang lain mengambil uang di saku dan handphone. Dalam situasi tertekan, ia mendadak refleks melawan dengan hentakan tangan. "Alhamdulilah saya bisa lepas dan mereka lari," cerita ketua kickboxing Sleman ini.

Sebelum dikenal sebagai pengusaha lintas sektor, Adit pernah berada di persimpangan hidup. Ia harus memilih: melanjutkan karier militer atau fokus bisnis. Menjadi tentara adalah impian masa kecilnya. Setelah enam kali tes, ia lolos masuk TNI AD.

Namun realitas gaji yang terbatas membuatnya berpikir rasional. Ia memilih pensiun dini dan fokus membangun usaha. Yang menarik, sejak awal Adit menolak memanfaatkan status militernya. Semua bisnis dijalankan secara legal dan profesional.

Naluri bisnisnya sudah terlihat sejak bangku SMAN 1 Godean. Saat remaja lain sibuk bermain gim, ia justru belajar membuat website dan memahami digital marketing.

Dari jasa desain dan web kecil-kecilan, ia mulai menghasilkan uang. Ia sempat mencoba mengembangkan bisnis penggilingan beras keluarga, namun gagal karena margin kecil. Kegagalan itu justru membawanya pada peluang besar: plafon PVC.

Pada 2019, Adit mendirikan PT Indonesia Plafon Semesta. Ia meluncurkan banyak merek (Indofon, Plafindo, Jaguar, Fonda, Viston, Inco, Garuda, Aveon) dari satu pabrik.

Adit di pabrik plafonnya. (Foto: Gigin W. Utomo/SWA)
Adit di pabrik PT Indonesia Plafon Semesta. (Foto: Gigin W. Utomo/SWA)

Strateginya sederhana namun efektif: satu distributor, satu merek. Dengan cara ini, produknya bisa menguasai satu kota lewat berbagai brand. Kini, jaringan distribusinya mencakup 300 distributor dari Aceh hingga Papua, serta 25 kantor cabang.

Kisah Adit Setiawan adalah potret pengusaha modern yang berani lintas sektor, lintas negara, dan lintas zona nyaman. Dari plafon PVC, merambah makanan sehat, briket ekspor, perhotelan, hingga kebun anggur di Jepang — semua dijalani dengan satu benang merah: keberanian membaca peluang dan kecepatan mengeksekusi. Dari Sleman untuk dunia, Adit Setiawan sedang menulis babak baru hidupnya: babak tentang pengusaha lokal yang berpikir global. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag