Supensi Resmi Dicabut BEI, TIRT Beberkan Strategi Untuk Memulihkan Kinerja
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi telah mencabut penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) pada 26 November 2025. Pasca pembukaan kembali, saham emiten yang tengah melakukan transformasi bisnis ini mencatatkan pergerakan signifikan.
Manajemen TIRT mengungkapkan kurun waktu 11 hari perdagangan (26 November – 11 Desember 2025), harga saham TIRT melesat hingga 164%. Harga saham merangkak dari level terendah Rp44 dan menyentuh level tertinggi di Rp116 pada 11 Desember lalu.
Manajemen TIRT menegaskan bahwa fluktuasi harga tersebut murni dinamika pasar. Saat ini, fokus utama perusahaan adalah beralih dari industri kayu lapis ke sektor jasa angkutan laut (pelayaran).
"Kami baru mulai membukukan pendapatan dari bisnis baru ini pada Kuartal IV 2024 (setelah proses transformasi). Di bulan Oktober, kami sudah mulai mencatatkan pendapatan dari sektor pelayaran," ujar Presiden Direktur Tirta Mahakam Resources, Tham Arvin Setyanto pada paparan publik virtual di Rabu (17/12/2025).
Terkait keberlangsungan usaha, manajemen memberikan pembaruan mengenai kontrak-kontrak utama, yaitu PT Lima Srikandi Jaya (LSJ) yang berakhir pada 16 Desember 2025 lalu, kini telah diperpanjang hingga 31 Desember 2025, dan saat ini sedang dalam proses negosiasi untuk perpanjangan jangka panjang mulai 1 Januari 2026.
Kemudian yang kedua adalah kontrak dengan PT Guna Harapan Lestari (GHL) yang kini masih dalam proses negosiasi perpanjangan kontrak dan ditargetkan akan rampung akhir tahun ini.
Tham juga menegaskan saat ini TIRT masih akan fokus pada pengangkutan komoditas batu bara dan bauksit. Meski ada potensi ekspansi ke angkutan cair (oil and gas), perusahaan memilih untuk tetap berhati-hati dan mengkaji kondisi keuangan terlebih dahulu.
Menurut Tham, manajemen juga saat ini tengah mengkaji berbagai langkah strategis, diantaranya perusahaan berencana melepas aset-aset lama dari bisnis kayu lapis untuk mendapatkan arus kas (cash flow). Demikian juga dengan penambahan armada kapal masih dalam tahap kajian mendalam dengan mempertimbangkan kondisi industri pelayaran dalam negeri dan posisi keuangan perseroan.
Strategi mitigasi juga diterapkan perseroan untuk menghadapi fluktuasi harga bahan bakar, Tham mengungkapkan TIRT menerapkan klausul rise and fall dalam kontrak pengapalan guna menjaga tarif angkut (freight rate) tetap kompetitif.
“Kedepan kami optimistis dengan prospek industri angkutan laut di Indonesia, walaupun saat ini ada ketidakpastian geopolitik global, tetapi perusahaan berkomitmen untuk menerapkan prinsip kehati-hatian guna mencapai pendapatan yang berkesinambungan dan membalikkan posisi keuangan menjadi positif,” jelas Tham.(*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.