Warisan yang Tak Boleh Padam: Magistiyo Menjaga Imperium Timbul Raharjo
Kabar itu datang pelan, nyaris seperti bisikan. Namun dampaknya menggema panjang di dunia seni, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia. Prof. Dr. Timbul Raharjo — Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, seniman, akademisi, sekaligus pengusaha kreatif — meninggal dunia pada 5 September 2023.
Kepergiannya meninggalkan ruang kosong. Bukan hanya di lingkungan kampus seni tertua di Indonesia, tetapi juga di lanskap seni rupa, industri kreatif, dan ekosistem bisnis yang selama puluhan tahun ia bangun dengan tangan, intuisi, dan keyakinannya sendiri.
Tiga Dunia
Bagi banyak orang, Timbul Raharjo adalah figur langka. Ia hidup di tiga dunia yang jarang bisa dirajut utuh: seni, akademik, dan bisnis. Sebagai seniman, karya keramik dan instalasinya menghiasi ruang publik dan privat—dari galeri hingga hunian personal, dari Indonesia hingga mancanegara.
Sebagai akademisi, ia mencapai puncak karier sebagai Rektor ISI Yogyakarta, jabatan prestisius yang seharusnya ia emban hingga 2027. Namun belum genap setahun menjabat, maut lebih dulu menjemput.
Di luar dunia kampus dan galeri, Timbul meninggalkan sesuatu yang tak kalah besar: sebuah imperium bisnis kreatif yang tumbuh pelan-pelan, namun kemudian mengakar kuat.
Di industri kreatif, Timbul membangun PT Timboel dan CV Inspira. Showroom yang menjadi etalase karya kreatifnya berdiri di sentra industri gerabah Kasongan, Bantul, serta di Bali. Produk keramik, interior artistik, hingga karya kustom untuk pasar internasional menjadi tulang punggung bisnis ini.
Karya-karya patung Timbul tidak berhenti di ruang galeri. Ia justru hidup di ruang publik, menyapa orang-orang yang bahkan mungkin tidak sadar bahwa yang mereka lewati setiap hari adalah karya seorang maestro—tanpa harus diberi label “karya seni besar”.
Di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), misalnya, patung-patung karyanya menyambut arus manusia yang datang dan pergi. Di sana, seni tidak berdiri sebagai tontonan eksklusif, melainkan sebagai penanda peradaban: bahwa sebuah bandara bukan sekadar simpul transportasi, tetapi juga gerbang kebudayaan.
Namun, di antara sekian banyak karya di ruang publik itu, patung singa di Stadion Kanjuruhan, Malang, memiliki makna yang jauh lebih dalam dan tragis. Patung itu kini seakan menjelma saksi bisu salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah sepak bola Indonesia — peristiwa yang menewaskan ratusan suporter. Singa, simbol kekuatan, keberanian, dan kebanggaan, berdiri membisu di tengah duka kolektif.
Di titik inilah karya Timbul melampaui fungsi estetik. Ia menjadi penanda memori. Patung-patungnya tidak hanya memperindah ruang, tetapi merekam peristiwa, emosi, dan sejarah yang melekat pada tempat di mana ia berdiri.
Barangkali itulah kekuatan terbesar Timbul sebagai seniman ruang publik: ia menciptakan karya yang sanggup berdialog dengan zaman — bahkan ketika zaman itu berubah menjadi tragedi.
Akselerasi Bisnis F&B
Lima tahun terakhir hidupnya, Timbul dan sang istri, Ani Fatiqoh, mulai menata bisnis F&B dengan lebih serius. Bagi mereka, kuliner bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara memperluas kaki usaha — antisipasi ketika dunia seni dan industri kreatif mengalami pasang surut.
Bisnis kuliner ini dikelola dengan totalitas. Ada manajemen sendiri, profesional, dengan komando operasional dipegang Chef Rahmad, koki berpengalaman yang paham bahwa restoran bukan hanya soal rasa, tetapi juga sistem, konsistensi, dan pengalaman pelanggan.
Semua bermula dari sebuah kafe kecil di samping showroom Timboel Keramik, di tepi Sungai Bedog. Ani Fatiqoh menamainya Nyah Tan Li — “nyonyah wetan kali” — merujuk lokasi kafe yang berada di sisi timur sungai.
Target pasarnya sederhana: wisatawan yang datang ke Desa Wisata Kasongan, khususnya mereka yang berkunjung ke showroom Timboel. Namun respons pasar jauh melampaui ekspektasi. Nyah Tan Lie ramai, konsisten, dan membuktikan satu hal: kuliner layak menjadi divisi bisnis tersendiri.
Dari titik inilah strategi berubah. Ani Fatiqoh sengaja menyasar segmen menengah ke atas. Ia tak ragu menginvestasikan dana miliaran rupiah untuk melahirkan restoran dan vila mewah di lokasi-lokasi ikonik.
Restoran dan vila pertama itu hadir pada 2022: Candhari Heaven. Nama “Candhari” konon merupakan akronim dari Candi-nya Bidadari, sebuah metafora tentang keindahan yang nyaris surgawi. Dan tempat ini memang dirancang untuk itu.
Candhari Heaven berdiri di kawasan Sambirejo, Prambanan, Sleman, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Dari atas bukit, pengunjung bisa menangkap panorama luas: hamparan sawah, siluet Candi Prambanan, hingga Gunung Merapi di kejauhan. Tempat ini bukan sekadar tempat makan; ia adalah pengalaman visual, ruang foto, sekaligus destinasi.
Langkah berikutnya bahkan lebih personal. Ani Fatiqoh merelakan rumah pribadi — berbentuk candi, hadiah pernikahan ke-25 — untuk diubah menjadi restoran: Candi Tirto Raharjo. Rumah yang semula dibayangkan sebagai tempat menikmati masa tua berdua, bergeser menjadi ruang publik yang menerima resepsi, pertemuan, dan perayaan.
Restoran terbaru kemudian hadir dengan pendekatan visual yang lebih muda dan estetik: Champa Resto di Sekarpetak, Bangunjiwo, Kasihan, hanya sekitar satu kilometer dari rumah keluarga Timbul.
Di tengah geliat bisnis itu, Timbul masih sempat menggagas satu proyek personal: MusiumKu Timbul Raharjo. Di dalamnya tersimpan koleksi pribadi—rekam jejak perjalanan seorang anak desa yang tumbuh menjadi maestro seni, akademisi, dan pengusaha kreatif.
MusiumKu Timbul Raharjo berdiri bukan sebagai museum dalam pengertian konvensional yang kaku dan monumental. Ia lebih menyerupai rumah ingatan—ruang personal tempat jejak estetik, proses kreatif, dan perjalanan hidup seorang seniman dirawat dengan penuh kesadaran. Di sanalah Timbul seakan masih “hadir”, bukan lewat sosoknya, melainkan melalui karya, gagasan, dan napas panjang pencariannya dalam dunia seni keramik.
Ketika figur sentral itu pergi, pertanyaan besarnya segera muncul: siapa yang akan memegang kemudi? Dan ke mana arah kapal besar bernama “bisnis Timbul Raharjo” ini akan berlayar?
Disiplin Jerman
Dari pernikahannya dengan Ani, Timbul dikaruniai dua anak: Magistiyo Tahun Emas Raharjo dan Wangi Bunga Raharjo. Keduanya menempuh pendidikan di Jerman — cerminan pola asuh yang mendorong anak-anaknya mandiri dan berani keluar dari zona nyaman.
Magistiyo, atau Magis, menetap di Hannover dan mengambil jurusan automation engineering. Sementara Wangi memilih teater. Setelah tujuh tahun, jalan hidup mereka berpisah. Wangi menetap di Eropa, membangun karier sebagai make-up artist. “Wangi tak ingin kembali. Ia sudah sukses,” ujar Magis.
Magis justru memilih pulang. Padahal jalurnya tak selalu lurus. Lulus dari SMA 3 Yogyakarta, Magis sempat diterima di Teknik Elektro UGM, atas permintaan sang ibu. “Saya sudah menuruti dua permintaan ibu,” katanya. “Setelah itu, saya tetap memilih Jerman.”
Ia ingin membangun identitas sendiri. Sukses atas namanya sendiri. Terlepas dari beban bayangan sang ayah.
Namun pada akhirnya, kepulangan itu menempatkan Magis di titik yang tak bisa ia hindari: menyelamatkan warisan orang tua — bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai sistem yang harus bisa berjalan meski tokoh utamanya sudah tidak ada.
Sejak setahun sebelum Timbul wafat, Magis mulai terlibat aktif. Masa transisi itu penuh gesekan. Perbedaan generasi dan pendekatan manajemen kerap memicu perdebatan. Tetapi Magis juga menyadari satu hal: kecerdasan dan intuisi ayahnya luar biasa. “Bapak bisa langsung dari A ke D,” kenangnya. “Hasilnya selalu istimewa.”
Dari situlah ia belajar: intuisi adalah kekuatan — tetapi bisnis tak boleh bergantung pada satu figur. Magis pun mengambil langkah berani: meminta ayahnya berhenti terlibat langsung dalam produksi. Ia memperkuat tim kreatif — enam orang, dua divisi — dengan sistem kolektif. Setiap karya dinilai bersama. Bahkan suara pemilik setara dengan anggota tim lain.
Keputusan paling keras datang ketika ia menutup CV Inspira — unit usaha yang terus merugi. Karyawan dialihkan ke PT Timboel, sementara showroom lama disulap menjadi aset produktif: disewakan dan diubah menjadi toko modern. Langkah dingin, rasional, dan perlu.
Magis tidak berpretensi menjadi replika ayahnya. Ia mencoba menerapkan disiplin ala Jerman: target waktu, sistem kerja. Namun tidak semua bisa diubah frontal. Ia memilih kompromi: perubahan kecil, bertahap, tapi konsisten. Seni tetap menjadi jiwa. Manajemen menjadi tulang punggung.
Dan di sanalah Magistiyo berdiri: di antara kenangan besar sang ayah dan masa depan yang harus ia bangun dengan caranya sendiri. “Kepergian Bapak tidak berpengaruh signifikan terhadap eksistensi bisnis,” ujar Magistiyo.
Pernyataan itu bukan sekadar optimisme pewaris. Dalam dua tahun terakhir, seluruh unit usaha mencatat pertumbuhan rata-rata 10 persen per tahun, melampaui laju inflasi nasional. Pasar global pun tidak goyah. Ekspor produk seni dan dekoratif Timboel tetap berjalan normal, bahkan konsisten mengirim empat kontainer per bulan ke berbagai negara.
Brand tetap bekerja, meski figur sentral telah berpulang. Dan di Kasongan — di antara tanah liat, roda putar, tungku pembakaran, serta meja-meja restoran yang tak pernah benar-benar sepi — warisan itu bergerak maju, pelan, tapi tetap menyala. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.