Ekonomi Indonesia Tancap Gas di Akhir Tahun 2025

Menteri Keuangan Purbaya (tengah) saat konferensi pers APBN KITA November 2025 di Gedung Kemenkeu Juanda I, Kamis (19/12/2025). (foto M. Ubaidillah/SWA)
Menteri Keuangan Purbaya (tengah) saat konferensi pers APBN KITA November 2025 di Gedung Kemenkeu Juanda I, Kamis (19/12/2025). (Foto: M. Ubaidillah/SWA)

Kabar segar datang dari kondisi ekonomi Indonesia di penghujung tahun 2025. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan bahwa ekonomi nasional tidak hanya sekadar bertahan, tapi tumbuh kuat dan berkesinambungan.

Dalam konferensi pers APBN KITA di Jakarta, Kamis (18/12/2025), Menkeu membeberkan ekonomi kita sedang dalam kondisi prima. APBN berperan efektif sebagai instrumen stabilisasi dan akselerasi.

Salah satu pencapaian paling mencolok adalah surplus neraca perdagangan. Meski situasi global sedang dinamis, Indonesia justru berhasil mencatatkan surplus kumulatif (Januari sampai November 2025) sebesar US$38,7 miliar. Angka ini naik drastis sebesar 32,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Net impact dari perkembangan global ke kita malah membaik. Global justru menopang pemulihan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Purbaya dalam paparannya.

Bukan cuma bahan mentah, ekspor Indonesia kini didominasi oleh komoditas bernilai tambah seperti logam dasar, kimia, hingga semikonduktor dengan pertumbuhan 5,7% (yoy). Impor kita pun berkualitas. Kenaikan impor didorong oleh kebutuhan barang modal seperti komputer dan alat komunikasi.

“Ini adalah sinyal kuat bahwa aktivitas investasi di Indonesia sedang bergairah,” ungkapnya.

Di sisi masyarakat, APBN sukses menjaga ‘dompet’ warga tetap stabil. Inflasi hingga November terkendali di angka 2,72%, masih dalam zona target pemerintah. Daya beli yang pulih tercermin dari penjualan ritel dan kendaraan yang terus tumbuh, konsumsi BBM yang ekspansif dan penggunaan listrik di sektor bisnis yang meningkat.

“Masyarakat sudah belanja lebih tinggi dari sebelumnya. Ekonomi kita mulai ekspansi ke arah yang lebih cepat,” tambah Menkeu.

Sektor riil juga memberikan kabar baik. Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia melesat ke level 53,3 pada November—angka tertinggi sepanjang tahun ini. Para produsen mulai "ngegas" produksi karena melihat permintaan domestik yang melonjak, terutama menjelang momen Nataru, Imlek, hingga persiapan Ramadan 2026.

Menutup paparannya, Menkeu menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengoptimalkan belanja negara di sisa tahun ini. APBN akan tetap dikelola secara sehat dan responsif sebagai instrumen utama untuk melindungi masyarakat sekaligus memastikan program prioritas berjalan efektif di tengah dinamika global. (*)

# Tag