Bos CPPETINDO Menjabarkan Inovasi di Bisnis Makanan Hewan, Melahirkan Produk Berbasis Riset

PT Centralwindu Sejati (CPPETINDO), anak usaha dari PT Central Proteina Prima Tbk (CPRO), terus mengalami perkembangan bisnis lantaran tren makanan hewan di Indonesia kian bertumbuh. Proyeksi Euromonitor pada periode 2024–2029, pertumbuhan industri ini relatif konservatif dengan target CAGR sekitar 2,5%. Proyeksi tersebut didasarkan pada pertumbuhan ekonomi yang moderat, kondisi industri yang cenderung stagnan, serta indikasi kejenuhan pasar.

CEO CPPETINDO, Paulius Juta menjelaskan meski mengalami pergerakan yang stagnan dalam dua tahun terakhir, kondisi tersebut sebagai koreksi yang wajar pasca pandemi Covid-19.

"Kami memiliki keyakinan yang kuat, bahwa dengan portofolio produk yang kami miliki, pengembangan kualitas nutrisi, serta peluncuran produk-produk baru, perusahaan masih mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit pada 2026," tegasnya kepada awak media di Jakarta, Rabu (17/12/2025).

Merespons pergerakan ekonomi yang tengah stagnan, CPPETINDO pun menjalankan strategi segmentasi harga. Untuk pakan kucing misalnya, portofolio produknya mencakup Bolt (kelas ekonomis), Cleo (kelas standar) dan Nature Bridge (kelas premium).

Selain pakan untuk kucing, CPPETINDO juga membawa portofolio produk untuk anjing (Bolt, Rocco); burung berkicau (Classic, Tory); dan ikan hias (Takari, Sankoi, Hiro, Ken).

Sang Market Leader

Paul menuturkan bahwa dari sisi brand awareness, CPPETINDO bukanlah dilihat berdasarkan persentase melainkan besarnya dampak. CPPETINDO mendapatkan penghargaan Superbrands, mencerminkan tingkat kesadaran merek yang tinggi. Ditambah laporan Euromonitor yang menempatkan salah satu merek CPPETINDO sebagai peringkat pertama untuk kategori merek lokal dari sisi jaringan distribusi.

"Dari sisi pangsa pasar secara nasional, kami dapat dikatakan sebagai pemimpin pasar di seluruh kategori produk. Ini didukung oleh fakta bahwa kami merupakan salah satu dari dua manufaktur lokal di kategori tersebut, dengan kapasitas produksi terbesar," tuturnya.

CEO CPPETINDO, Paulius Juta
CEO CPPETINDO, Paulius Juta. (Foto: Ist)

CPPETINDO menerapkan sistem multi-distributor dengan memiliki lebih dari 200 jaringan di seluruh Indonesia. Fokus utamanya yakni pasar tradisional. Sementara pasar modern, pihaknya telah bermitra dengan 15 ritel modern. Kedepannya, Paul menargetkan untuk masuk ke jaringan ritel Alfamart dan Indomaret.

Tak hanya memperkuat jaringan distribusi, CPPETINDO juga menaikkan kapasitas produksinya. Pada 2025, CPPETINDO mengakuisi lahan di Jawa Tengah untuk ekspansi pabrik dengan nilai investasi awal Rp200 miliar. Pembangunan pabrik pun sudah bergerak, target beroperasi pada 2027 dengan kapasitas awal tiga ribu ton per bulan.

Tembus Ekspor

Pada 2021, CPPETINDO secara perdana mengekspor pakan kucing ke Brunei Darussalam. Permintaan di negara tersebut untuk pakan kucing lantaran mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Ekspor ini pun turut mendatangkan dukungan dari Kementerian Pertanian.

Malaysia, Filipina, Uni Emirat Arab dan Pakistan turut menjadi pelanggan setia CPPETINDO. Negara dengan permintaan tinggi adalah Malaysia dengan kinerja paling menjanjikan, mengingat kedekatan budaya dan kesamaan karakteristik pasar dengan Indonesia: mayoritas memelihara hewan kucing.

Kedepannya, Paul pun membidik deretan negara lainnya untuk menambah ekspor. "Dalam waktu dekat, kami menargetkan ekspansi ke tiga hingga empat negara baru, yang saat ini masih berada dalam tahap registrasi dan perizinan. Seluruh target negara tersebut masih berada di kawasan Asia Tenggara," ungkapnya.

Saat ini, penjualan ekspor berkontribusi kurang lebih sekitar 5% dari total penjualan CPPETINDO.

Unique Selling Point Berbasis Riset

Kebutuhan konsumen sangatlah beragam, sehingga CPPETINDO menyediakan variasi produk. Ikan koi, misalnya, bentuk tubuh koi yang diharapkan konsumen adalah menyerupai torpedo yakni bulat dan proporsional. Bentuk tubuh seperti ini hanya dapat dicapai melalui formulasi nutrisi yang tepat. Sementara pada ikan koki, konsumen menekankan pada warna yang cerah dan menarik, sehingga kebutuhan nutrisinya pun berbeda.

Variasi kebutuhan ini menuntut adanya tim riset dan pengembangan (R&D) yang kuat, guna menciptakan produk-produk yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen secara spesifik.

Berbagai portofolio merek CPPETINDO. (Foto: Syifa Nur Layla/SWA)
Berbagai portofolio merek CPPETINDO. (Foto: Syifa Nur Layla/SWA)

Proses riset CPPETINDO dapat memakan waktu bertahun-tahun. CPPETINDO memiliki fasilitas riset dengan ratusan kucing sebagai subjek uji coba, sehingga setiap produk harus melalui tahapan uji coba yang ketat sebelum diluncurkan ke pasar.

CPPETINDO juga sedang membangun fasilitas riset untuk anjing di Bali, yang pengembangannya telah dimulai sejak tahun inI. Paul berharap, fasilitas tersebut sudah dapat digunakan secara optimal untuk kegiatan riset dan pengembangan pada 2026.

"Bagi kami, prinsip utama dalam industri ini adalah innovation or die. Oleh karena itu, pengembangan dan perluasan portofolio produk akan terus menjadi prioritas utama perusahaan," tegas Paul.

Pada tahun mendatang, CPPETINDO berencana meluncurkan beberapa varian Cleo yang fokus pada fungsi pemeliharaan kesehatan harian. Selain itu, pihaknya juga telah melakukan diversifikasi dari produk makanan utama ke produk camilan (snack), termasuk camilan kucing berbentuk krim. Produk lainnya yang masih berada dalam tahap pengembangan dan riset adalah suplemen.

CPPETINDO juga mengedepankan layanan purna jual melalui chatbot berbasis AI bernama HaloBolt, yang berfungsi menampung pertanyaan dan permintaan dari konsumen maupun komunitas. Layanan ini didukung oleh sekitar 15 dokter hewan yang membantu memberikan edukasi, pengetahuan produk, serta pendampingan terkait kesehatan hewan.

Tren di 2026

Pada industri pet food, harga bukan lagi faktor utama. Seiring dengan tren humanization of pet, konsumen semakin menekankan aspek nutrisi, kualitas, dan kesehatan hewan peliharaan. Faktor seperti nafsu makan, kesehatan bulu, serta kondisi pencernaan menjadi perhatian utama para pecinta hewan. Oleh karena itu, pasar ini relatif tidak terlalu sensitif terhadap harga.

"Pada masa pandemi Covid-19, ketika banyak industri lain mengalami penurunan drastis, pabrik kami justru beroperasi dengan tiga shift per hari selama 24 jam, tujuh hari seminggu," cerita Paul.

Pola urbanisasi lewat perubahan perilaku konsumen kelas menengah, serta pergeseran preferensi generasi muda seperti Generasi Y dan Z, menjadi arah kiblat bagi inovasi CPPETINDO. Kelompok ini cenderung memilih hewan kesayangan berukuran kecil, seperti kucing dan anjing ras kecil. Sebab dinilai praktis, ekonomis dalam perawatan, dan sesuai kondisi tempat tinggal seperti rumah berukuran kecil, apartemen, atau kos-kosan.

"Tren ini mendorong pergeseran kepemilikan hewan peliharaan ke arah kucing dan anjing ras kecil yang lebih mudah dipelihara dan nyaman diajak berinteraksi. Hewan berukuran besar cenderung kurang diminati karena memerlukan ruang dan biaya perawatan yang lebih besar," pungkas Paul. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag