Sarah Humaira Menyematkan Sentuhan Lokal untuk Menyebarkan Manfaat Canva ke UMKM hingga Lansia
Di balik ribuan template banner Pecel Lele hingga materi presentasi sekolah yang estetik di Canva, ada strategi matang yang diracik oleh Sarah Humaira, sang Country Marketing Manager Canva Indonesia. Dia tidak hanya membawa platform desain global ke Indonesia, tetapi "membumikan" teknologi tersebut agar relevan bagi semua orang, dari pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) hingga seorang nenek.
Dunia pemasaran teknologi bukanlah arena baru bagi Sarah. Dengan pengalaman lebih dari 13 tahun, ia telah menyelami dinamika industri ini dari berbagai sisi. Jejak karirnya terukir jelas mulai dari membantu peluncuran brand e-commerce raksasa Shopee di masa-masa awalnya di Indonesia, hingga memegang peran strategis di perusahaan property-tech Cove Co-Living dan industri F&B.
Namun, keputusannya untuk bergabung dengan Canva sekitar satu setengah tahun lalu adalah sebuah lompatan yang ia sebut sebagai "langkah natural namun menantang."
"Saya melihat Canva sebagai tantangan baru. Background saya banyak di e-commerce, sementara Canva adalah produk SaaS (Software as a Service). Ini menarik karena menggabungkan sisi teknologi dengan passion saya di bidang kreatif dan estetika," ungkap Sarah saat diwawancarai swa.co.id secara daring Jumat, 17/11/2025 lalu.
Bukan Sekadar Menerjemahkan Bahasa
Saat pertama kali resmi bergabung, satu misi besar langsung tertanam di benak Sarah: Bagaimana membuat Canva, sebuah brand global, terasa "dekat" dan tulus bagi masyarakat Indonesia?
Bagi Sarah, lokalisasi tidak sesederhana menerjemahkan antarmuka aplikasi ke dalam Bahasa Indonesia. Ia mendorong prinsip "Truly Local".
"Canva itu komitmennya sampai menyediakan pilihan Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda, tapi truly local itu lebih dari bahasa," jelasnya.
"Kami memastikan template dan elemen yang ada sesuai dengan kebutuhan nyata di sini. Mau cari banner toko kelontong? Ada. Mau bikin promo media sosial fashion hijab? Tersedia. Bahkan template untuk Agustusan atau Ramadan pun kami siapkan secara spesifik."
Strategi ini terbukti ampuh. Indonesia kini menempati peringkat ketiga sebagai pasar terbesar Canva di dunia. Di bawah kepemimpinannya, tim marketing Canva Indonesia—yang meski ramping namun sangat powerful—berhasil mencatatkan pertumbuhan pengguna yang signifikan, didukung oleh hadirnya 10.000 template lokal baru setiap bulannya.
Kampanye yang Menyentuh Akar Rumput
Salah satu terobosan Sarah yang paling mencolok adalah kampanye "Gampang di Canva". Kampanye ini hasil kreativitas tim lokal yang memahami wawasan (insight) pengguna Indonesia.
"Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi untuk membuat desain itu bukan sesuatu yang sulit, makanya dalam kampanye itu kami tampilkan seorang nenek pun bisa membuat desain yang keren," ujar Sarah.
Fokus utamanya kini tertuju pada pemberdayaan UMKM. Sarah menyadari bahwa dari jutaan pelaku usaha di Indonesia, banyak yang terkendala biaya dan keahlian dalam hal branding. Melalui Canva, ia ingin menghapus hambatan tersebut. Tidak hanya lewat edukasi dan workshop di berbagai kota seperti Surabaya dan Makassar, tetapi juga mempermudah akses pembayaran Canva Pro menggunakan metode lokal seperti GoPay dan Dana.
"Kami ingin membantu 60 juta lebih UMKM di Indonesia. Dengan satu klik, mereka bisa punya materi promosi yang layak, tanpa perlu menyewa desainer mahal. Itu impact nyata yang ingin kami berikan," tegasnya.
Nilai Kemanusiaan dalam Teknologi
Di balik angka pertumbuhan dan strategi bisnis, apa yang membuat Sarah betah di Canva adalah keselarasan nilai (values). Ia terkesan dengan budaya perusahaan yang menempatkan "Be a Good Human" dan "Empower Others" sebagai prioritas, bukan sekadar jargon dinding kantor.
"Sangat jarang di perusahaan teknologi ada value yang benar-benar dipraktekkan sesejuk ini. Kami punya misi cukup ambisius yaitu membangun perusahaan paling bernilai, tapi langkah keduanya adalah 'do the most good we can'. Kami bekerja bukan hanya untuk profit, tapi untuk memberi kembali, give back," tutur Sarah.
Misi "Empowering the world to design" bagi Sarah bukan sekadar slogan. Baginya, itu adalah tentang memberikan suara dan alat bagi masyarakat Indonesia—baik itu guru, murid, maupun pedagang kecil—untuk mengekspresikan diri dan meraih kesuksesan dengan lebih mudah.
Di tangan Sarah, Canva Indonesia bukan lagi sekadar aplikasi desain asing, melainkan sahabat digital yang mengerti humor, budaya, dan kebutuhan masyarakat nusantara. (*)