Asiacross Investindo: Tetapkan Enam Kompetensi Utama untuk Mencetak Pemimpin
Asiacross Investindo (ACI) menjadi contoh bagaimana sebuah organisasi dapat bertahan dan terus berkembang dengan mengandalkan kekuatan internal.
Selama lebih dari 50 tahun, ACI tumbuh dari usaha kecil yang memproduksi sandal merek Lily menjadi kelompok usaha multibisnis dengan jangkauan Asia Pasifik. Di balik pertumbuhan keberlanjutan itu, salah satu yang menjadi penentunya ialah kemampuan perusahaan menciptakan pemimpin dari dalam.
Transformasi Organisasi
Ceritanya, sebagaimana diungkapkan, Evi Silvia Salsabila, Group Head Talent & Organization Development ACI Group, saat generasi ketiga, yakni Evelyn Juwita Sasmito, masuk ke tampuk kepemimpinan sebagai presiden direktur di tahun 2019, ia mendorong ACI memasuki fase baru transformasi organisasi.
Evelyn menyadari bahwa warisan kuat perusahaan tidak cukup untuk menghadapi masa depan yang semakin tak terduga. Organisasi harus berevolusi. Dan, evolusi itu dimulai dari manusia, yakni para pemimpin yang diberdayakan dan mampu menggerakkan perubahan dari dalam.
Ia memiliki mimpi, bahwa siapa pun yang bergabung dengan perusahaan ini dan berapa lama pun mereka bertahan, akan meninggalkan perusahaan sebagai pribadi yang lebih baik.
“Dengan visi tersebut, kami membangun program kepemimpinan yang kami namakan Leaders Ignite Program yang berfokus pada dua hal utama, yaitu pembentukan karakter dan penguatan kompetensi,” kata Evi Silvia.
Selanjutnya, Evilin Kumala Warangian, Group HR Director PT Asiacross Investindo, menjelaskan, memilih pendekatan inside-out leadership, yakni membentuk pemimpin yang mampu memimpin diri sendiri sebelum memimpin tim dan bisnis. Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan perjalanan pengembangan karakter, kapasitas berpikir, dan kemampuan memberikan dampak.
Berangkat dari filosofi keluarga bahwa “Character is the root of everything”, ACI memperkuat core values organisasi agar fondasinya tidak mudah tumbang di tengah turbulensi bisnis yang dahsyat sekalipun. Dengan GRACE (Genuine, Resilient, Agile, Collaborative, Enterprising) sebagai nilai inti, ACI memastikan bahwa setiap pemimpin tumbuh dengan karakter yang kokoh sebelum kompetensi teknis dibangun.
Maka, perusahaan ini pun merancang program dengan keyakinan bahwa kepemimpinan harus berkembang dari dalam ke luar (inside-out). Seseorang harus mampu mengembangkan dirinya sendiri sebelum mengembangkan orang lain dan bisnis.
Tiga Tahap
Program tersebut terdiri tiga tahap. Pertama, Leading Self, yang merupakan transcending self, yakni sebuah perjalanan yang menunjukkan self-awareness untuk memahami kekuatan, kelemahan, dan kemampuan bagaimana dapat melampaui batasan yang ada.
Kedua, Leading Team, yang merupakan transcending purpose, yakni kemampuan menggerakkan orang-orang untuk bersama-sama memajukan perusahaan.
Dan, ketiga, Leading Business, sebagai transcending performance, yakni kemampuan me-lead bisnis. Leaders bekerjasama dengan tim bergerak dari short term success menuju long term significance.
Program ini secara resmi dimulai akhir November 2021. Evilin menuturkan, tahap pertama yang dilakukan ACI yaitu success profiling dan assessment terhadap seluruh pemimpin untuk mendefinisikan kompetensi kepemimpinan yang diperlukan. Hasilnya, ACI menetapkan enam kompetensi utama.
Yang terkait dengan Leading Self, kompetensi yang diperlukan leaders ialah drive to achieve result dan learning agility. Kurikulum berfokus pada bagaimana setiap individu dapat menjadi versi terbaik dirinya. Topik pelatihannya mencakup mindfulness, well-being, emotional intelligence, growth mindset, dan personal excellence.
Untuk Leading Team, kompetensi utamanya ialah leading and developing others dan building collaborative relationships. Kurikulum pelatihan disesuaikan dengan jenjang kepemimpinan. Ada program fondasi dan program spesifik sesuai dengan level, di antaranya contributing impact, leadership essentials, leading for impact, hingga visionary leadership.
“Hal penting dari program ini ialah implementasi dimulai dari para top executives. Mereka merasakan seluruh perjalanan program terlebih dahulu sehingga ketika diterapkan ke level di bawahnya, seluruh organisasi berbicara dalam bahasa kepemimpinan yang sama: one standard, one coffee pot,” ungkap Evilin.
Untuk Leading Business, kompetensi yang diperlukan ialah business acumen dan leading innovation. Fokusnya bukan hanya mencapai kinerja jangka pendek, tetapi menciptakan keberlanjutan jangka panjang. Di tahap ini, pemimpin dilatih untuk memiliki business acumen, kemampuan inovasi, pengambilan keputusan strategis, dan kelincahan menghadapi perubahan pasar.
“Masing-masing kompetensi kami turunkan menjadi tiga subkompetensi yang disertai behavioral indicators sehingga mudah dikembangkan dan diukur,” kata Evilin.
Komitmen Top Management
Tujuan akhir program ini ialah menumbuhkan mental experience, mental agility, dan mental growth pada setiap leader. Program disusun untuk seluruh jenjang, mulai dari individual contributors hingga eksekutif. Ada program mandatory sebagai fondasi serta berbagai program elektif berbasis enrichment.
Menurut Evilin, salah satu kekuatan program kepemimpinan ACI ialah komitmen total dari top management. Seluruh eksekutif, termasuk presiden direktur, mengikuti dan hadir dalam setiap program pelatihan. Mereka bukan hanya memberikan arahan, tetapi juga menjadi peserta sekaligus role model.
“Pendekatan top-down role modelling ini menciptakan standar kepemimpinan yang konsisten: Setiap orang belajar dari contoh nyata. Ketika pemimpin puncak menunjukkan kerendahan hati untuk belajar bersama, budaya belajar pun mengakar kuat hingga ke level paling bawah,” Evilin menandaskan.
Untuk memastikan pipeline selalu terjaga, talent management juga harus bisa dijalankan secara baik, yang dilakukan dua kali setahun. Di samping itu, program Management Development Program (MDP) juga menjadi jalur untuk menarik talenta muda dan membentuk mereka sebagai pemimpin masa depan.
Hasilnya, 80% posisi manajemen diisi oleh talenta internal, sedangkan di jajaran direktur ada 79% yang berasal dari internal. Angka ini menunjukkan keberhasilan ACI dalam menciptakan sistem pengembangan yang kuat: orang berkembang, dipromosikan, dan diberdayakan dari dalam.
Di ACI, Evilin menegaskan, program kepemimpinan tidak berhenti pada desain dan implementasi. Keberhasilan program diukur secara ketat. Perusahaan ini menggunakan 360-degree assessment sebelum dan sesudah program dijalankan untuk melihat perubahan nyata. Penilaian itu dilakukan oleh atasan mereka, rekan kerja, bawahan, dan mitra internal.
“Perubahan perilaku pemimpin terlihat jelas, yakni lebih mampu mengelola emosi, lebih baik dalam coaching, lebih efektif memotivasi, dan lebih kolaboratif. Dampak ini juga tecermin pada kualitas keputusan bisnis dan hasil organisasi,” ungkapnya.
Dari sisi finansial, transformasi kepemimpinan menjadi motor pemulihan kinerja perusahaan. Setelah mengalami penurunan profitabilitas akibat pandemi dan krisis global, ACI berhasil mencatat rebound positif hingga peningkatan profit 86% pada 2023–2024.
ACI membuktikan bahwa organisasi hanya bisa berkembang sejauh para pemimpinnya berkembang. Dan, perjalanan membangun pemimpin dari dalam merupakan investasi terbaik untuk menghadapi dunia yang terus berubah. (*)