InJourney: Mencetak para Pemimpin Penggerak Ekosistem Pariwisata Nasional
Indonesia sudah dikenal memiliki keindahan alam dan budaya yang luar biasa. Tak mengherankan, World Economic Forum menempatkan negeri ini di peringkat pertama dalam hal kekayaan natural and cultural resources.
Namun, masih ada paradoks yang membayangi: potensi sebesar itu belum terkonversi secara optimal menjadi nilai ekonomi yang setara.
Gambarannya, pada 2024 kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Indonesia hanya berada di angka 4%, masih tertinggal dari Malaysia (9%), Vietnam (12%), dan Thailand (13%). Dibandingkan dengan dua negara tetangga tersebut, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pun baru sekitar sepertiganya.
Pengembangan Talenta Menyeluruh
Itulah tantangan besar yang dihadapi PT Aviasi Pariwisata Indonesia, yang lebih dikenal dengan corporate brand InJourney, sebagai BUMN holding di bidang aviasi dan pariwisata.
Menurut Herdy Harman, Direktur Human Capital & Digital InJourney, pihaknya berupaya mengejar ketertinggalan ekonomi pariwisata Indonesia itu melalui orkestrasi sistem, penguatan operasi bisnis kelas dunia, dan pengembangan pemimpin-pemimpin bisnis masa depan.
Hal yang terakhir itu dilakukan karena, menurut Harman, tantangan besar bagi pariwisata Indonesia bukan hanya soal aset, melainkan juga kapabilitas manusia. “Untuk menangkap potensi pariwisata yang begitu besar, kami mendorong para leader kami untuk berpikir dengan pendekatan berbasis ekosistem. Jadi, mereka tidak boleh hanya melihat sektor masing-masing secara terpisah,” katanya.
Untuk menjalankan peran sebagai orkestrator pariwisata Indonesia, dibutuhkan kemampuan memimpin dalam situasi kompleks. Mulai dari mengintegrasikan penerbangan, destinasi, hospitality, hingga ritel, menjadi satu pengalaman perjalanan yang utuh. Dengan keberagaman ini, dibutuhkan pemimpin dengan kemampuan transformasi, pola pikir ekosistem, dan keahlian dunia internasional.
“Prioritas kami adalah menyasar persaingan pasar global. Oleh karena itu, talenta terbaik kami dituntut untuk menguasai best practices global dan berinovasi dalam menawarkan keunikan hospitality Indonesia,” kata Herdy.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, InJourney merancang InJourney Future Leader Program (IFLP), program pengembangan talenta yang dirancang secara menyeluruh, yang disediakan bagi karyawan baru hingga calon pemimpin strategis.
Arsitektur IFLP dibangun secara sistematis dan bertahap mulai dari Onboarding New Employee (ONE) InJourney untuk membangun budaya dan identitas bersama, serta InJourney Officer Development Program (IODP) dan InJourney Management Development Program (IMDP) bagi officer dan manajer baru, plus InJourney Professional Development Program (IPDP) dan InJourney Future Leader Development Program (IFDP) untuk mencetak calon pemimpin strategis perusahaan holding ini.
Komitmen InJourney dalam menyiapkan pemimpin masa depan dimulai dari ONE InJourney, program penguatan fondasi budaya dalam IFLP yang dirancang untuk membentuk identitas bersama bagi seluruh talenta baru.
Selama lima hari, para peserta menjalani pengalaman imersif menjelajahi seluruh ekosistem InJourney dan menutup perjalanan itu dengan sebuah janji pribadi untuk meninggalkan legacy terbaik. Dampaknya tecermin jelas melalui tingkat kehadiran 99 persen, skor kepuasan 4,6 (dari 5), serta NPS 77 persen, yang memberikan indikasi kuat bahwa mayoritas peserta merekomendasikan program ini.
Filosofi Pembelajaran 3Es
Untuk mempercepat pengembangan talenta, InJourney mengembangkan IODP dan IMDP sebagai proses perjalanan kepemimpinan yang transformatif. Program ini mengusung filosofi pembelajaran 3Es (Essentials, Engaging, dan Experiential) yang menggabungkan pemberian pengetahuan dasar, pembelajaran kolaboratif, dan pengalaman langsung di lapangan.
Pendekatan ini membuahkan hasil, mulai dari skor rata-rata 89 persen hingga kesiapan 95 persen berdasarkan rekomendasi para pengguna internal. “Program ini menghasilkan calon pemimpin yang siap menggerakkan keunggulan operasional dan inovasi lintas aset pariwisata serta aviasi nasional,” kata Herdy.
Investasi InJourney dalam IMDP tampak melalui keterlibatan lebih dari 100 ahli internal dan puluhan profesional level Vice President yang menjadi mentor. Selama lebih dari sepuluh bulan, para peserta ditantang menyelesaikan masalah nyata melalui pembelajaran mendalam dan on-the-job training.
Hasilnya: budaya inovasi yang melahirkan lebih dari 300 perbaikan bisnis konkret, termasuk proyek metaverse Odyssey. Ditutup dengan penyusunan IMDP Talent Catalogue sebagai alat strategis untuk memetakan talenta terbaik ke posisi-posisi penting.
Komitmen ini tidak berhenti pada kelompok tertentu, melainkan menjangkau seluruh karyawan melalui IPDP sebagai mesin penguatan kapabilitas berkelanjutan. Kegiatan pengembangan kepemimpinan ini difasilitasi dengan platform pembelajaran berbasis AI yang menyediakan lebih dari seribu jenis kursus untuk puluhan ribu karyawan.
Juga ada akademi fungsional yang membangun lebih dari seratus kompetensi. “InJourney ingin memastikan kesempatan belajar terbuka luas buat karyawan,” kata Herdy.
InJourney pun ingin memastikan posisi-posisi strategis diisi talenta unggulan. Contohnya, program unggulan seperti InJourney Hospitality melatih ribuan peserta setiap tahun, sementara GM Airport Academy dimaksudkan untuk menyiapkan para pemimpin bandara dengan standar kelas dunia dan tingkat kesiapan 75 persen.
Airport GM Academy merupakan salah satu program unggulan dalam IPDP yang memiliki sasaran untuk mempercepat transformasi bandara. Program intensif ini membekali calon general manager bandara dengan kemampuan kelas dunia melalui berbagai aktivitas, termasuk pembelajaran langsung di fasilitas aviasi internasional seperti Incheon dan Changi.
Dampak Positif
Dampaknya, menurut Herdy, terlihat jelas: terjadi peningkatan kompetensi profesional sebesar 61,5 persen, peningkatan kemampuan kepemimpinan 56,7 persen, dan 80 persen peserta berhasil memenuhi standar ketat akademi.
Di puncak arsitektur talenta InJourney, terdapat InJourney Future Leader Development Program (IFDP), program akselerator yang dirancang untuk mencetak arsitek senior ekosistem pariwisata Indonesia. IFDP menempatkan para talenta terbaik untuk menjawab isu nasional secara langsung.
“Tujuan utamanya ialah menghasilkan pemimpin ekosistem kelas dunia yang mampu mendorong transformasi kolaboratif pariwisata Indonesia,” kata Herdy.
Untuk bisa masuk ke IFDP, harus melewati saringan yang sangat selektif dan proses berlapis yang ketat. Seleksi dimulai dengan penyaringan berbasis data dari sistem manajemen talenta, dilanjutkan asesmen psikometrik dan wawancara perilaku, kemudian penominasian oleh Human Capital Committee berdasarkan penilaian 9-Box Grid.
Kandidat terpilih harus melewati studi kasus bisnis sebelum akhirnya diuji oleh Dewan Direksi dalam wawancara panel. Proses ini memastikan bahwa program ini diberikan kepada calon pemimpin dengan potensi nyata untuk mendorong transformasi InJourney.
“Future leaders tidak lahir dalam semalam. Mereka harus direncanakan, dikembangkan, dibina, dan dibangun secara berkelanjutan,” kata Herdy. (*)