Bos Equinix Indonesia Ungkap 5 Tren Infrastruktur Digital di 2026

Bos Equinix Indonesia Ungkap 5 Tren Infrastruktur Digital di 2026
Haris Izmee, Managing Director Equinix Indonesia. (Ist)
Haris Izmee, Managing Director Equinix Indonesia. (Ist)
Haris Izmee, Managing Director Equinix Indonesia. (Ist)

Ekonomi digital Indonesia tengah memasuki fase baru. Setelah bertahun-tahun membangun kapasitas dasar, fokusnya kini bergeser menuju infrastruktur yang siap untuk AI, ketahanan yang dirancang sejak awal, kedaulatan data, distributed intelligence di edge, serta model hybrid multi-cloud sebagai standar operasional.

Haris Izmee, Managing Director Equinix Indonesia mengungkapkan setidaknya ada lima tren yang membentuk lanskap infrastruktur digital Indonesia menuju 2026.

Menuju Infrastruktur Berdensitas Tinggi Siap AI

Sebagian besar beban kerja perusahaan di Indonesia berjalan pada rak berdensitas rendah yakni 2–5 kW. Model ini tidak lagi memadai. AI, analitik tingkat lanjut, dan pemrosesan real-time mendorong kepadatan daya menuju 10–12 kW per rak, sementara beban kerja AI dan high-performance computing (HPC) kerap membutuhkan 30 kW atau lebih.

Fasilitas seperti Equinix JK1 di Jakarta, yang diluncurkan pada 2025, dirancang untuk mendukung kepadatan yang siap AI dengan interkoneksi privat berlatensi rendah. Hal ini memungkinkan organisasi menskalakan beban kerja AI sambil tetap menjaga data berada dalam batas wilayah nasional.

Ketahanan Diperluas melalui DR Regional

Sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia semakin beroperasi dengan ekspektasi layanan yang selalu aktif. Downtime tidak lagi diterima untuk e-commerce, fintech, gaming, maupun layanan digital real-time. Hal ini tercermin dari meningkatnya investasi di pasar pusat data Asia Tenggara yang tumbuh hampir US$18 miliar menjelang akhir 2025.

Perusahaan kini memperluas strategi ketahanan melampaui satu wilayah metropolitan. Arsitektur yang mencakup Jakarta, Batam, dan Surabaya semakin umum, dengan lokasi regional seperti Singapura dan Malaysia dimanfaatkan sebagai situs disaster recovery untuk beban kerja yang tidak diatur secara ketat.

"Yang terpenting, desain ini mengandalkan interkoneksi privat, bukan internet publik, sehingga memungkinkan pencapaian recovery time objective (RTO) dan recovery point objective (RPO) yang lebih ketat, sekaligus mengurangi risiko kemacetan dan keamanan," tutur Haris, dalam keterangan tertulis, Rabu (24/12/2025).

Kedaulatan Data sejak Tahap Perancangan

Dengan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang berlaku serta Peraturan Pemerintah Nomor 71 (PP 71) yang terus menjadi acuan penyelenggaraan sistem elektronik, kedaulatan data telah bergeser dari sekadar wacana kebijakan menjadi persyaratan arsitektur.

Banyak organisasi memulai adopsi model local compute, global interconnect. Artinya menjaga data yang diatur tetap berada di dalam negeri, sekaligus terhubung secara aman ke cloud regional dan mitra melalui koneksi privat.

AI Terdistribusi dan Agentik Mendekat ke Edge

Penggunaan IoT dan kasus penggunaan awal 5G di sektor logistik, manufaktur, ritel, dan fasilitas pintar, membuat pengambilan keputusan semakin bergeser lebih dekat ke lokasi tempat data dihasilkan. Organisasi mulai menerapkan edge inference nodes untuk mendukung pengambilan keputusan secara langsung, serta meneruskan beban kerja yang lebih berat ke sumber daya komputasi regional hanya ketika diperlukan.

Di Indonesia, tren ini semakin diperkuat oleh kesiapan pemerintah dalam menyusun kerangka etika dan roadmap AI nasional yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan keamanan. Arsitektur yang mengombinasikan edge inference, komputasi regional, serta interkoneksi yang aman berada pada posisi yang tepat untuk mendukung inovasi sekaligus tetap selaras dengan ekspektasi tata kelola yang terus berkembang.

Hybrid Multi-Cloud Menjadi Model

Sebagian besar perusahaan di Indonesia kini beroperasi di berbagai platform cloud, berdampingan dengan infrastruktur on-premises serta lingkungan edge yang terus berkembang. Hybrid multi-cloud membantu organisasi menghindari ketergantungan pada satu penyedia, mengoptimalkan biaya, serta memenuhi persyaratan kedaulatan data, terutama seiring menguatnya arah kebijakan terkait PP 71 dan keandalan infrastruktur digital secara lebih luas.

Bagi Haris, kepadatan yang siap untuk AI, ketahanan yang dirancang sejak awal, arsitektur data yang berdaulat, kecerdasan di edge, serta hybrid multi-cloud sebagai standar operasional adalah kunci keberlanjutan bisnis.

"Organisasi yang sejak dini mengintegrasikan kedaulatan dan interkoneksi ke dalam desain infrastrukturnya akan berada pada posisi terbaik untuk tumbuh secara bertanggung jawab, aman, dan kompetitif di tahun-tahun mendatang," pungkas Haris. (*)

Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.

# Tag