Refleksi dan Reposisi: Bisnis Apa yang Bertahan di 2025 dan Siap Menyongsong 2026?

Prof. Dr. Dita Amanah, MBA. (Dok: Pribadi)
Prof. Dr. Dita Amanah, MBA. (Dok: Pribadi)

Menutup tahun 2025, banyak pelaku usaha di Indonesia memasuki masa refleksi, saat paling tepat untuk meninjau apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana mempersiapkan diri menghadapi tahun 2026. Dalam iklim bisnis yang penuh tantangan, hanya mereka yang adaptif, kreatif, dan mampu membaca arah perubahan yang berhasil bertahan bahkan tumbuh lebih kuat.

Selama 2025, ekosistem bisnis di Indonesia menunjukkan perubahan signifikan. Pandemi beberapa tahun lalu meninggalkan warisan berupa percepatan digitalisasi dan perubahan perilaku konsumen. Kini, pelanggan lebih cerdas, kritis, dan mengutamakan nilai tambah serta keaslian sebuah merek. UMKM maupun startup yang bisa memadukan teknologi dengan sentuhan nilai manusiawi terbukti mampu memimpin perubahan ini.

Salah satu sektor yang paling tangguh sepanjang tahun adalah bisnis berbasis teknologi dan layanan digital. Digitalisasi membantu banyak pelaku usaha menekan biaya operasional dan memperluas jangkauan pasar.

Contohnya, Kopi Kenangan sebagai startup minuman asal Indonesia terus memperkuat posisinya dengan menggabungkan konsep kedai fisik dan aplikasi mobile untuk pemesanan cepat. Pendekatan ini memungkinkan pelanggan memesan dan membayar lewat aplikasi, meningkatkan efisiensi layanan dan loyalitas pelanggan.

Aplikasi mobile Kopi Kenangan. (Ist)
Aplikasi mobile Kopi Kenangan. (Ist)

Di sisi UMKM, Makmur Sejahtera Batik Pekalongan menjadi contoh nyata bagaimana bisnis tradisional dapat bertahan melalui transformasi digital. Dengan bergabung di marketplace seperti Tokopedia dan aktif di media sosial, mereka berhasil menembus pasar nasional bahkan internasional.

Selain digitalisasi, sektor produk lokal dan ramah lingkungan juga menunjukkan ketahanan tinggi. Kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan membuat usaha seperti Bumi Langit Farm di Yogyakarta atau Kintamani Eco Coffee di Bali semakin dikenal karena tidak hanya menjual produk, tetapi juga membawa nilai keberlanjutan, pemberdayaan petani, dan tanggung jawab sosial.

Bisnis yang mampu bertahan sepanjang 2025 adalah mereka yang cepat membaca perubahan perilaku konsumen. Salah satu pelajaran penting tahun ini adalah bahwa strategi satu arah tidak lagi efektif. UMKM perlu aktif mendengarkan pelanggan, mengumpulkan data, dan menyesuaikan penawaran produk secara cepat.

Contoh menarik datang dari Sociolla, startup kecantikan lokal yang sukses karena memahami kebiasaan belanja digital perempuan Indonesia. Mereka mengombinasikan toko online, aplikasi mobile, dan pengalaman offline di Sociolla Store untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang menyatu. Pendekatan omnichannel ini memungkinkan pelanggan mendapatkan layanan konsisten, baik di dunia maya maupun nyata.

Di tingkat UMKM, banyak pengusaha kecil belajar untuk lebih fleksibel. Dapur Bu Lilis, usaha kuliner rumahan di Bandung, berhasil meningkatkan omzet dengan strategi sederhana, yaitu aktif membuat konten di TikTok dan menggunakan sistem pre-order melalui WhatsApp Business. Dengan modal kecil, mereka dapat menjangkau pelanggan baru di luar wilayah Bandung. Ini membuktikan bahwa kreativitas sering kali lebih penting daripada modal besar.

Tahun 2026 menuntut pelaku usaha untuk melangkah lebih jauh dari sekadar bertahan. Perubahan cepat dalam teknologi dan tren konsumen membuat strategi lama tidak lagi relevan. Inilah saatnya melakukan reposisi bisnis, yaitu menata ulang model, memperjelas nilai utama, dan memanfaatkan peluang baru. Pemanfaatan data dan kecerdasan buatan (AI) akan menjadi kunci dalam memenangkan pasar.

Startup seperti Sirclo sudah menunjukkan arah ini dengan menyediakan layanan e-commerce berbasis analitik yang membantu ribuan UMKM memahami perilaku konsumen dan mengoptimalkan penjualan online. Bagi UMKM, langkah serupa bisa dimulai dengan memanfaatkan fitur analitik sederhana di marketplace atau media sosial untuk memahami produk yang paling diminati dan waktu terbaik untuk promosi.

Selain itu, kolaborasi lintas sektor juga menjadi strategi unggulan. Contohnya, kerja sama antara Grab Indonesia dan koperasi petani lokal untuk mendistribusikan produk pertanian langsung ke konsumen melalui GrabMart. Pola kemitraan ini memberi nilai tambah bagi semua pihak: petani mendapatkan akses pasar lebih luas, platform memperkaya produk, dan konsumen memperoleh barang segar dengan harga bersaing.

Selain kolaborasi, branding yang berakar pada keaslian dan nilai lokal juga akan semakin menentukan di tahun 2026. Konsumen kini lebih tertarik pada produk yang punya cerita.

Misalnya, Mawar Ketak, merek tas anyaman asal Lombok, mengangkat identitas budaya lokal dengan desain modern. Strategi storytelling yang kuat menjadikan produk mereka tak hanya barang jualan, tapi juga simbol kebanggaan daerah.

Tahun 2026 akan menjadi momentum bagi lebih banyak UMKM untuk menonjolkan jati diri dan kisah unik mereka di tengah arus produk massal global.

Untuk siap menghadapi tantangan mendatang, pelaku UMKM dan startup dapat mulai dengan beberapa langkah praktis: mengevaluasi model bisnis dan segmentasi pasar, berinvestasi pada digitalisasi sederhana seperti katalog online dan pembayaran digital, membangun komunitas pelanggan melalui media sosial, fokus pada keberlanjutan produk dan proses, serta memperkuat kolaborasi dengan brand, kreator, atau komunitas lain untuk memperluas jaringan tanpa biaya besar.

Refleksi di akhir tahun bukan sekadar ritual, melainkan fondasi bagi pertumbuhan yang lebih matang. Bagi dunia usaha Indonesia, 2025 menjadi laboratorium adaptasi, dan 2026 akan menjadi tahun akselerasi.

Pelaku UMKM dan startup perlu menata ulang arah bisnis mereka, yaitu dari sekadar bertahan menjadi bertumbuh. Dengan memadukan teknologi, nilai lokal, serta keberanian bereksperimen, Indonesia berpotensi menjadi pusat inovasi bisnis baru di kawasan Asia Tenggara.

Kini saatnya bertanya, bukan lagi “bisnis apa yang bisa bertahan,” tetapi “bisnis seperti apa yang mampu memimpin perubahan?”

Mereka yang mampu menjawab pertanyaan itu dengan tindakan nyata akan menjadi wajah baru kewirausahaan Indonesia di tahun 2026. (*)


Penulis: Prof. Dr. Dita Amanah, MBA, Dosen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia

# Tag