GEMS: Jalan Panjang Membangun Bisnis Tambang Berkelanjutan

Tambang batu bara milik GEMS. (Ist)

Implementasi ESG (Environmental, Social, and Governance) sudah menjadi sebuah keharusan dalam lanskap bisnis global. Tekanan dari investor, regulator, hingga masyarakat sipil membuat perusahaan di sektor apa pun perlu membuktikan keseriusan mereka dalam aspek keberlanjutan.

Tuntutan ini bahkan lebih berat bagi perusahaan tambang, industri yang identik dengan kerusakan lingkungan, emisi besar, dan konflik sosial di daerah operasi. Tanpa komitmen ESG yang jelas, sulit bagi perusahaan tambang untuk menjaga legitimasi sosial ataupun daya tarik bagi investor jangka panjang.

Keberlanjutan Bukan Program Tambang

PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) mencoba menjawab tantangan ini melalui tiga anak usahanya yang juga mengelola tambang batu bara. Di balik sukses operasi bisnisnya, perusahaan ini sadar bahwa ekspektasi stakeholder dan pasar tidak lagi sebatas pada volume produksi atau angka penjualan, tapi juga pada bagaimana bisnis dijalankan secara bertanggung jawab.

Mia Febrina, Kepala Divisi Keberlanjutan GEMS, menegaskan bahwa keberlanjutan tidak bisa ditempatkan sebagai program tambahan. “Visi kami jelas: Pertumbuhan perusahaan harus sejalan dengan peningkatan taraf hidup komunitas lokal dan lingkungan yang lestari. ESG bukan program tambahan, tapi bagian dari strategi bisnis inti,” Mia menegaskan.

Sebagai perusahaan tambang, GEMS menghadapi dilema klasik: Bagaimana meminimalkan eksternalitas negatif yang tak terhindarkan dari operasional?

Salah satu jawabannya datang melalui inovasi teknologi. Perusahaan memperkenalkan sistem timbang otomatis Weight in Motion (WIM) untuk mengurangi antrean truk batu bara. Dampaknya memang terasa: Konsumsi bahan bakar berkurang, emisi turun, dan produktivitas pengemudi meningkat.

Namun, bagi seorang analis, langkah ini lebih pantas dilihat sebagai efisiensi operasional dengan efek samping positif pada ESG, bukan sebagai transformasi besar.

Mia mengakui, “Dengan WIM, produktivitas meningkat, emisi berkurang, bahkan para pengemudi merasakan dampak positif lewat efisiensi waktu kerja mereka. ESG bagi kami harus membawa dampak ganda: lingkungan dan sosial.”

GEMS juga menjalankan reklamasi lahan dan revegetasi, serta memantau keanekaragaman hayati di wilayah tambang. Ini adalah kewajiban hukum bagi semua pemegang izin tambang, sehingga tantangan utamanya bukan pada ada atau tidaknya program, melainkan pada kualitas dan konsistensi pelaksanaannya.

Sejauh ini, GEMS menyatakan bahwa program berjalan rutin, termasuk pengelolaan limbah B3 yang sebagian bisa diolah kembali. Namun, seperti perusahaan tambang lain, sulit untuk menilai efektivitas jangka panjang tanpa data independen mengenai keberhasilan rehabilitasi ekosistem.

Pada dimensi sosial, GEMS mengadopsi pendekatan yang cukup sistematis. Mereka menggunakan blueprint pembangunan masyarakat dan mengukur indeks pembangunan manusia setiap lima tahun sekali.

Dari 22 desa di sekitar tambang, tujuh berhasil mencapai status desa mandiri. Bagi GEMS, ini menjadi indikator keberhasilan program pemberdayaan.

“Kami tidak ingin masyarakat hanya menjadi penonton dari aktivitas tambang. Mereka kami libatkan sebagai operator, tenaga kerja, hingga mitra rantai pasok. Inklusi inilah yang membedakan,” kata Mia.

Namun, dari perspektif independen, perlu dicatat bahwa pencapaian tujuh desa mandiri bukan berarti semua masalah sosial terselesaikan. Industri tambang kerap membawa dinamika baru, dari perubahan struktur ekonomi lokal hingga potensi ketimpangan.

Keterlibatan masyarakat dalam rantai pasok memang memberi nilai tambah, tapi juga menimbulkan pertanyaan soal keberlanjutan: Apakah mereka mampu bertahan ketika operasi tambang berakhir?

Diversity, Inclusion, dan Equity

Di sisi internal, GEMS menekankan prinsip Diversity, Inclusion, and Equity (DIE). Komposisi karyawan perempuan saat ini 20,8%, dan tenaga kerja lokal yang diserap mencapai 21%. Angka-angka ini menunjukkan arah positif, tapi masih relatif moderat bila dibandingkan dengan target global tentang representasi gender dalam industri.

“Kesetaraan gender dan peluang yang sama bagi semua karyawan adalah cara kami memastikan keberlanjutan tidak hanya terjadi di luar perusahaan, tapi juga di dalam organisasi,” Mia menandaskan.

Dalam tata kelola, perusahaan sudah menerapkan sistem dua dewan yang memisahkan peran komisaris utama dan direktur utama. Secara teori, ini memperkuat check and balance dalam organisasi.

GEMS juga memiliki divisi keberlanjutan khusus yang bekerja lintas unit. “Governance bagi kami adalah fondasi. Tanpa tata kelola yang kuat, semua program ESG hanya akan berhenti sebagai jargon,” ujar Mia tandas.

Sekali lagi, langkah ini patut diapresiasi, meski efektivitasnya tetap bergantung pada seberapa jauh Dewan berani menantang keputusan strategis yang mungkin tidak sejalan dengan prinsip keberlanjutan.

Konsesi tambang PT Borneo Indobara. (Foto: GEMS)
Salah satu konsesi tambang milik GEMS: konsesi tambang PT Borneo Indobara. (Foto: GEMS)

Strategi Dua Tahap

Pertanyaan besar tetap menggantung: Bagaimana perusahaan batu bara dapat selaras dengan transisi energi global? GEMS menyusun strategi dua tahap.

Pertama, mengurangi emisi Scope 1 dan 2 melalui elektrifikasi dan penggunaan listrik dari PLN berbasis energi terbarukan. Meski ada tambahan biaya, perusahaan melihatnya sebagai investasi.

“Kami melihat renewable bukan sebagai beban biaya, melainkan investasi untuk keberlanjutan perusahaan. Ini tentang going concern, bukan sekadar target jangka pendek,” Mia menjelaskan.

Dari sudut pandang analis, langkah ini realistis. Namun, skalanya masih terbatas untuk mengubah profil emisi perusahaan yang secara fundamental tetap bergantung pada batubara.

Tahap kedua lebih ambisius, yaitu mengolah fine coal menjadi briket batu bara yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama di daerah terpencil dengan keterbatasan LPG. Produk ini sudah dipatenkan, menunjukkan adanya nilai inovasi.

Namun, secara skala bisnis, produk turunan tersebut masih kecil jika dibandingkan dengan operasi tambang utama. Pertanyaan yang relevan ialah apakah inovasi ini dimaksudkan sebagai solusi jangka panjang atau hanya program tanggung jawab sosial berskala terbatas.

GEMS juga mulai memasang panel surya yang terhubung langsung ke jaringan PLN. Namun, tanpa sistem baterai, kontribusinya terbatas karena operasi tambang berjalan 24 jam. Perusahaan juga mengkaji diversifikasi ke hilirisasi batu bara seperti dimethyl ether (DME), bahkan mempertimbangkan bisnis karbon hutan.

“Batu bara mungkin bukan energi bersih, tapi yang kami lakukan adalah memaksimalkan nilai tambahnya sekaligus menyiapkan transisi ke bisnis yang lebih berkelanjutan. Kami bergerak dari efisiensi ke inovasi, dari ekstraksi ke solusi,” kata Mia.

Sejauh ini, hasil implementasi ESG GEMS dapat dirangkum dalam beberapa capaian: Efisiensi logistik menekan emisi, beberapa desa lokal naik kelas menjadi desa mandiri, keterwakilan karyawan perempuan meningkat, produk briket lahir dari limbah tambang, dan tata kelola diperkuat.

Namun, semua itu tetap berada dalam konteks bisnis yang masih berbasis batu bara. Dari perspektif global, pertanyaan utamanya adalah seberapa cepat dan serius perusahaan bisa bergerak keluar dari ketergantungan pada komoditas fosil yang akan semakin terdesak dalam peta energi dunia.

Posisi GEMS dapat dilihat sebagai upaya progresif di antara pelaku industri tambang, tapi bukan tanpa catatan. Program yang ada cukup jelas, tapi belum tentu cukup untuk menjawab transisi energi yang bergerak cepat. Tantangan ke depan ialah memastikan bahwa langkah-langkah ESG bukan hanya menekan dampak negatif, melainkan juga menyiapkan model bisnis baru yang benar-benar kompatibel dengan ekonomi hijau.

“Kami sadar, transisi tidak bisa instan. Tapi dengan konsistensi, inovasi, dan tata kelola yang kuat, GEMS siap menjawab tantangan energi berkelanjutan. Perusahaan tambang pun bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya masalah,” kata Mia. Tentu, kita akan menunggu manuver GEMS pada tahap berikutnya. (*)

# Tag