Outlook BRIDS 2026: Sektor Telekomunikasi Masuk Fase Pertumbuhan Berkelanjutan

Ilustrasi tower BTS (Base Transceiver Station). (dok. Telkom)
Ilustrasi tower BTS (Base Transceiver Station). (Foto: Telkom)

Sektor telekomunikasi Indonesia dinilai memasuki fase baru yang lebih berkelanjutan, seiring bergesernya fokus operator dari ekspansi agresif ke penguatan kualitas pendapatan dan efisiensi aset.

Laporan riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) memproyeksikan pertumbuhan pendapatan dan EBITDA industri telekomunikasi pada tahun fiskal 2026 masing-masing sebesar 5,8 persen dan 7,1 persen secara tahunan, dengan layanan seluler tetap menjadi motor utama kinerja bisnis.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas Analyst, Kafi Ananta momentum positif ini didorong oleh keberlanjutan strategi perbaikan harga yang dijalankan oleh operator seluler. Setelah melalui fase konsolidasi, operator diperkirakan memasuki periode pertumbuhan yang lebih rasional, ditandai dengan tingkat churn yang lebih rendah dan peningkatan average revenue per user (ARPU).

Kenaikan ARPU yang tercatat pada kuartal ketiga 2025 menjadi sinyal bahwa strategi monetisasi pelanggan mulai menunjukkan hasil. Ke depan, fokus operator akan semakin bergeser dari akuisisi pelanggan baru menuju optimalisasi nilai dari basis pelanggan yang ada, seiring masih terbukanya ruang peningkatan yield data yang saat ini berada di bawah rata-rata tiga tahun terakhir.

BRI Danareksa menilai kondisi pasar mendukung keberlanjutan perbaikan harga tersebut. Biaya data di Indonesia masih relatif terjangkau dibandingkan daya beli masyarakat, sehingga memberikan ruang bagi operator untuk menyesuaikan tarif tanpa mengorbankan permintaan secara signifikan.

Selain itu, kebutuhan investasi yang besar untuk pengembangan jaringan 5G dan rencana lelang spektrum pita 700 MHz dan 2,6 GHz pada 2026 diperkirakan akan memperkuat disiplin harga di industri, karena operator perlu menjaga kesehatan arus kas dan profitabilitas jangka panjang.

Meski demikian, pertumbuhan trafik data diperkirakan akan melambat secara alami. BRI Danareksa memproyeksikan pertumbuhan trafik data seluler sekitar 6 persen secara tahunan pada 2026, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Normalisasi harga diperkirakan memicu respons elastisitas permintaan, di mana konsumsi data tetap tumbuh namun dengan laju yang lebih moderat.

“Adopsi solusi low-cost fixed wireless access (FWA) berbasis 5G juga berpotensi mengalihkan sebagian penggunaan bandwidth tinggi dari jaringan seluler ke layanan rumah tangga,” jelas Kafi.

Di luar bisnis seluler, transformasi aset fiber optik muncul sebagai katalis tambahan yang berpotensi menciptakan nilai. Operator mengambil pendekatan berbeda, namun dengan tujuan serupa: menurunkan intensitas modal, memperluas jangkauan jaringan, meningkatkan arus kas bebas, dan membuka nilai tersembunyi dari aset infrastruktur.

Telkom memilih pendekatan berbasis ekosistem melalui rencana spin-off InfraCo dan pelepasan saham minoritas, sementara Indosat Ooredoo Hutchison mengincar transaksi monetisasi besar lewat rencana penjualan mayoritas kepemilikan jaringan fiber. XL Axiata, di sisi lain, bergerak menuju pelepasan penuh dari bisnis infrastruktur fiber setelah pemisahan entitas ServiceCo dan InfraCo.

Namun, tantangan tetap membayangi, terutama terkait kebutuhan investasi spektrum dan 5G yang besar. Pengembangan jaringan 5G menuntut belanja modal yang lebih tinggi dibandingkan 4G, baik karena karakteristik spektrum yang membutuhkan kepadatan site lebih tinggi maupun kewajiban pembayaran spektrum kepada pemerintah.

Dengan biaya spektrum historis yang relatif mahal, beban regulasi industri telah mencapai sekitar 10 persen dari pendapatan. Meski demikian, arah kebijakan pemerintah yang mendorong struktur biaya spektrum lebih berkelanjutan memberi harapan akan skema yang lebih ramah industri ke depan. (*)

# Tag